Sign up for PayPal and start accepting 
credit card payments instantly.
Selamat Datang di Tipitaka Pali

Google
 

Karaniya Metta Sutta

Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan. Untuk mencapai Keadaan Ketenangan Ia harus mampu jujur, sungguh jujur Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong

Karaniya Metta Sutta

Merasa puas, mudah disokong, Tiada sibuk, sederhana hidupnya, Tenang inderanya, berhati-hati, Tahu malu, tak melekat pada keluarga

Karaniya Metta Sutta

Tak berbuat kesalahan walaupun kecil yang dapat dicela oleh para Bijaksana Hendaklah ia berpikir: Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram, Semoga semua makhluk berbahagia

Karaniya Metta Sutta

Makhluk hidup apapun juga, Yang lemah atau kuat, tanpa kecuali, Yang panjang atau besar, Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk

Karaniya Metta Sutta

Jangan menipu orang lain, Atau menghina siapa saja, Jangan karena marah dan benci, Mengharap orang lain celaka

Sunday, June 10, 2007

SALLECCHA-SUTTA

Demikianlah yang telah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavanārama milik Anathapindika, Savatthi. Di waktu malam Bhikkhu Mahacunda bangun dari meditasi, ia pergi menemui Sang Bhagava, memberi hormat kepada Beliau dan ia duduk. Setelah ia duduk ia berkata:
"Bhante, ada banyak pandangan yang muncul di dunia, di antaranya adalah pandangan-pandangan yang berkaitan dengan atta ditthi (pandangan tentang ada jiwa kekal) dan loka ditthi (pandangan tentang dunia). Apakah pelenyapan atau pemusnahan pandangan-pandangan seperti itu dilakukan oleh bhikkhu karena ia hanya memperhatikan tentang permulaan ini?”

“Bagaimanapun pandangan-pandangan itu muncul, dasarnya dan pelaksanaannya, bilamana seorang melihat (dasarnya) sebagaimana itu apa adanya, dengan pengertian benar seperti: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan jiwaku,’ maka dengan cara ini ia membuang pandangan itu, demikian pula ia melenyapkan pandangan-pandangan itu.’
Mungkin seseorang bebas dari nafsu indera, bebas dari dhamma yang tak berguna, mencapai dan berada pada Jhāna I dengan vitakka, vicara, piti, sukha dan ekagata karena ketenangan. Ia mungkin berpikir: "Saya berada dalam pemusnahan" (nibbana). 'Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut 'pemusnahan' dalam ariya vinaya; hal ini disebut: ‘keadaan yang menyenangkan di sini dan sekarang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan menghilangkan vitaka dan vicara, ia mencapai dan berada pada Jhāna II dengan keyakinan, pikiran terpusat (ekagata), piti, sukha yang muncul karena meditasi, tanpa vitaka dan vicara. Ia mungkin berpikir: "Saya berada dalam pemusnahan" (nibbāna). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut "pemusnahan" dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan menyenangkan di sini dan sekarang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melenyapkan piti, ia barada dalam keadaan seimbang, sadar dan sangat waspada, bahagia dengan jasmani ia mencapai dan berada pada Jhāna III. Ia mungkin berpikir: "Saya berada dalam pemusnahan" (nibbāna). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut ‘pemusnahan’ dalam ariya vinaya, hal ini disebut ‘keadaan menyenangkan di sini dan sekarang, dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melenyapkan kebahagiaan dan ketidak bahagiaan, dengan lebih dahulu melenyapkan kesenangan dan kesusahan. Ia mencapai dan berada pada Jhāna IV dengan tanpa kebahagiaan, tanpa ketidakbahagiaan, kesadarannya bersih karena keseimbangan ia mungkin berpikir: "Saya berada dalam pemusnahkan" (nibbāna). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut ‘pemusnahan’ dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan menyenangkan di sini dan sekarang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melampaui penerangan tentang jasmani (rûpa) dengan lenyapnya pencerapan ... tanpa perhatian pada pencerapan dan perbedaan (menyadari bahwa) "ruang tanpa batas", ia mencapai dan berada pada "kondisi ruang tanpa batas." Ia mungkin berpikir: “Saya berada dalam pemusnahan” (nibbāna). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut pemusnahan dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan tenang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melampaui kondisi ruang tanpa batas' (menyadari bahwa): "kesadaran tanpa batas", ia mencapai dan barada pada keadaan kesadaran tanpa batas", ia berpikir: “Saya berada dalam pemusnahan” (nibbāna). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut ‘pemusnahan’ dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan tenang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melampau kondisi kesadaran tanpa batas; (menyadari bahwa) "kekosongan", ia mencapai dan berada pada "kondisi kekosongan". Ia berpikir: ‘Saya berada dalam pemusnahan’ (nibbāna). Tetapi bukan pencapaian ini yang disebut keadaan pemusnahan dalam ariya vinaya; hal ini disebut ‘keadaan tenang’ dalam ariya vinaya.
Mungkin seseorang dengan melampaui alam kekosongan, ia mencapai dan berada pada kondisi 'bukan pencerapan atau bukan tidak pencerapan' ia berpikir: ‘Saya berada dalam pemusnahan’ (nibbāna). Tetapi pencapaian ini bukan disebut pemusnahan dalam ariya dhamma; ini disebut 'keadaan tenang' dalam ariya vinaya.
Pemusnahan akan efektif dalam keadaan:
1. Orang lain kejam; kita tidak akan kejam.
2. Orang lain membunuh; kita menghindar dari membunuh.
3. Orang lain mengambil barang yang tak diberikan, kita tidak mengambil barang yang tidak diberikan.
4. Orang lain tidak mau hidup brahmacari, kita hidup brahmacari.
5. Orang lain bicara bohong, kita menghindarkan diri dari berbohong.
6. Orang lain memfitnah, kita menghindarkan diri dari memfitnah.
7. Orang lain bicara kasar, kita menhindarkan diri dari bicara kasar.
8. Orang lain melakukan gosip, kita menghindarkan diri dari melakukan gosip.
9. Orang lain serakah, kita tidak serakah.
10. Orang lain iri hati, kita tidak iri hati.
11. Orang lain berpandangan salah, kita berpandangan benar.
12. Orang lain berpikir salah, kita berpikir benar.
13. Orang lain berucap salah, kita berucap benar.
14. Orang lain berperbuatan salah, kita berperbuatan benar.
15. Orang lain bermatapencaharian salah, kita bermata pencaharian benar.
16. Orang lain berusaha salah, kita berusaha benar.
17. Orang lain berperhatian salah, kita berperhatian benar .
18. Orang lain bermeditasi salah, kita bermeditasi benar .
19. Orang lain berpengetahuan salah, kita berpengetahuan benar.
20. Orang lain berpembebasan salah, kita berpembebasan benar.
21. Orang lain dikuasai ngantuk dan tidur, kita tidak dikuasi ngantuk dan tidur .
22. Orang lain kacau, kita tidak kacau .
23. Orang lain tidak tentu, kita pasti .
24. Orang lain marah, kita tidak marah.
25. Orang lain bermusuhan, kita bersahabat .
26. Orang lain menghina, kita tidak menghina .
27. Orang lain menguasai, kita tidak menguasai .
28. Orang lain cemburu, kita tidak cemburu .
29. Orang lain kikir, kita tidak kikir .
30. Orang lain penipu, kita tidak menipu .
31. Orang lain pembohong, kita tidak membohong.
32. Orang lain keras kepala (bandel), kita tidak keras kepala .
33. Orang lain angkuh, kita tidak angkuh .
34. Orang lain sulit dinasehati, kita mudah dinasehati.
35. Orang lain berkawan dengan orang jahat, kita berkawan dengan orang baik .
36. Orang lain lalai, kita rajin .
37. Orang lain tak berkeyakinan, kita berkeyakinan .
38. Orang lain tidak hati-hati, kita hati-hati .
39. Orang lain tidak tahu malu, kita tahu malu .
40. Orang lain belajar sedikit, kita belajar banyak.
41. Orang lain malas, kita bersemangat.
42. Orang lain tak waspada, kita waspada .
43. Orang lain berpengertian kurang, kita berpengertian .
44. Orang lain salah mengerti sesuai dengan pandangan-pandangan pribadinya, bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu dan sulit memusnahkan pandangan itu; kita tidak akan salah mengerti pada pandangan-pandangan pribadi itu dan akan mudah memusnahkan pandangan-pandangan itu.

Walaupun perkembangan batin dalam kusala dhamma (dhamma yang baik) adalah sangat penting, maka apakah yang harus dikatakan untuk aktivitas tubuh dan ucapan sebagai akibat hal-hal itu? Kita harus berpikir sebagai berikut:
1. Orang lain kejam, kita tidak akan kejam ….
2. Orang lain membunuh; kita menghindar dari membunuh.
3. Orang lain mengambil barang yang tak diberikan, kita tidak mengambil barang yang tidak diberikan.
4. Orang lain tidak mau hidup brahmacari, kita hidup brahmacari.
5. Orang lain bicara bohong, kita menghindarkan diri dari berbohong.
6. Orang lain memfitnah, kita menghindarkan diri dari memfitnah.
7. Orang lain bicara kasar, kita menhindarkan diri dari bicara kasar.
8. Orang lain melakukan gosip, kita menghindarkan diri dari melakukan gosip.
9. Orang lain serakah, kita tidak serakah.
10. Orang lain iri hati, kita tidak iri hati.
11. Orang lain berpandangan salah, kita berpandangan benar.
12. Orang lain berpikir salah, kita berpikir benar.
13. Orang lain berucap salah, kita berucap benar.
14. Orang lain berperbuatan salah, kita berperbuatan benar.
15. Orang lain bermatapencaharian salah, kita bermata pencaharian benar.
16. Orang lain berusaha salah, kita berusaha benar.
17. Orang lain berperhatian salah, kita berperhatian benar .
18. Orang lain bermeditasi salah, kita bermeditasi benar .
19. Orang lain berpengetahuan salah, kita berpengetahuan benar.
20. Orang lain berpembebasan salah, kita berpembebasan benar.
21. Orang lain dikuasai ngantuk dan tidur, kita tidak dikuasi ngantuk dan tidur .
22. Orang lain kacau, kita tidak kacau .
23. Orang lain tidak tentu, kita pasti .
24. Orang lain marah, kita tidak marah.
25. Orang lain bermusuhan, kita bersahabat .
26. Orang lain menghina, kita tidak menghina .
27. Orang lain menguasai, kita tidak menguasai .
28. Orang lain cemburu, kita tidak cemburu .
29. Orang lain kikir, kita tidak kikir .
30. Orang lain penipu, kita tidak menipu .
31. Orang lain pembohong, kita tidak membohong.
32. Orang lain keras kepala (bandel), kita tidak keras kepala .
33. Orang lain angkuh, kita tidak angkuh .
34. Orang lain sulit dinasehati, kita mudah dinasehati.
35. Orang lain berkawan dengan orang jahat, kita berkawan dengan orang baik .
36. Orang lain lalai, kita rajin .
37. Orang lain tak berkeyakinan, kita berkeyakinan .
38. Orang lain tidak hati-hati, kita hati-hati .
39. Orang lain tidak tahu malu, kita tahu malu .
40. Orang lain belajar sedikit, kita belajar banyak.
41. Orang lain malas, kita bersemangat.
42. Orang lain tak waspada, kita waspada .
43. Orang lain berpengertian kurang, kita berpengertian .
44. Orang lain salah mengerti sesuai dengan pandangan-pandangan pribadinya, bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu dan sulit memusnahkan pandangan itu; kita tidak akan salah mengerti pada pandangan-pandangan pribadi itu dan akan mudah memusnahkan pandangan-pandangan itu.

Misalnya, ada jalan tak rata dan tak ada jalan rata yang dapat digunakan untuk menghindari jalan tak rata itu. Maka begitu pula:
1. Orang kejam, karena tak memiliki sifat tak kejam untuk menghindarkannya.
2. Orang pembunuh, karena tak memiliki pantangan membunuh untuk menghindarkannya.
3. Orang mengambil barang yang tak diberikan, karena tak memiliki pantangan untuk tak mengambil barang yang tak dibenakan untuk menghindarkannya.
4. Orang tidak hidup brahmacari, karena tak memilm hidup brahmacari untuk menghindarkannya.
5. Orang yang berbohong, karena tak memiliki kejujuran untuk menghindarkannya.
6. Orang yang memfitnah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari memfitnah.
7. Orang yang bicara kasar, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari bicara kasar, atau tidak memiliki sopan santung
8. Orang yang melakukan gosip, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari melakukan gosip.
9. Orang yang serakah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak serakah.
10. Orang yang iri hati, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak iri hati.
11. Orang yang berpandangan salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpandangan benar.
12. Orang yang berpikir salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpikir benar.
13. Orang yang berucap salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berucap benar.
14. Orang yang berperbuatan salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berperbuatan benar.
15. Orang yang bermatapencaharian salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk bermata pencaharian benar.
16. Orang yang berusaha salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berusaha benar.
17. Orang yang berperhatian salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berperhatian benar .
18. Orang yang bermeditasi salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk bermeditasi benar .
19. Orang yang berpengetahuan salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpengetahuan benar.
20. Orang yang berpembebasan salah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpembebasan benar.
21. Orang yang dikuasai ngantuk dan tidur, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak dikuasi ngantuk dan tidur .
22. Orang yang kacau, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak kacau .
23. Orang yang tidak tentu, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk pasti .
24. Orang yang marah, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak marah.
25. Orang yang bermusuhan, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk bersahabat .
26. Orang yang menghina, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menghina .
27. Orang yang menguasai, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menguasai .
28. Orang yang cemburu, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak cemburu .
29. Orang yang kikir, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak kikir .
30. Orang yang penipu, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menipu .
31. Orang yang pembohong, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak membohong.
32. Orang yang keras kepala (bandel), karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak keras kepala .
33. Orang yang angkuh, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak angkuh .
34. Orang yang sulit dinasehati, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk mudah dinasehati.
35. Orang yang berkawan dengan orang jahat, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berkawan dengan orang baik .
36. Orang yang lalai, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk rajin .
37. Orang yang tak berkeyakinan, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berkeyakinan .
38. Orang yang tidak hati-hati, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk hati-hati .
39. Orang yang tidak tahu malu, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tahu malu .
40. Orang yang belajar sedikit, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk belajar banyak.
41. Orang yang malas, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk bersemangat.
42. Orang yang tak waspada, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk waspada .
43. Orang yang berpengertian kurang, karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk berpengertian .
44. Orang yang salah mengerti sesuai dengan pandangan-pandangan pribadinya, bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu dan sulit memusnahkan pandangan itu; karena tak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak akan salah mengerti pada pandangan-pandangan pribadi itu dan akan mudah memusnahkan pandangan-pandangan itu.

Bagaimana pun akusala dhamma (dhamma tak baik) itu, dhamma seperti itu mengarah ke kondisi yang rendah; sebaliknya, bagaimana pun kusala dhamma (dhamma baik) itu, dhamma seperti itu mengarah ke kondisi lebih tinggi.
Dengan demikian:
1. Orang yang kejam, tidak memiliki tanpa-kekejaman sebagai kondisi lebih tinggi.
2. Orang yang membunuh, tidak memiliki pantangan membunuh sebagai kondisi lebih tinggi.
3. Orang mengambil barang yang tak diberikan, tidak memiliki pantangan untuk tak mengambil barang yang tak diberikan sebagai kondisi lebih tinggi.
4. Orang tidak hidup brahmacari, tidak memiliki hidup brahmacari sebagai kondisi lebih tinggi.
5. Orang yang berbohong, tidak memiliki kejujuran sebagai kondisi lebih tinggi.
6. Orang yang memfitnah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari memfitnah sebagai kondisi lebih tinggi.
7. Orang yang bicara kasar, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri bicara kasar, atau tidak memiliki sopan santun sebagai kondisi lebih tinggi
8. Orang yang melakukan gosip, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk menghindarkan diri dari melakukan gosip sebagai kondisi lebih tinggi.
9. Orang yang serakah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak serakah sebagai kondisi lebih tinggi.
10. Orang yang iri hati, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak iri hati sebagai kondisi lebih tinggi.
11. Orang yang berpandangan salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpandangan benar sebagai kondisi lebih tinggi.
12. Orang yang berpikir salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpikir benar sebagai kondisi lebih tinggi.
13. Orang yang berucap salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berucap benar sebagai kondisi lebih tinggi.
14. Orang yang berperbuatan salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berperbuatan benar sebagai kondisi lebih tinggi.
15. Orang yang bermatapencaharian salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk bermata pencaharian benar sebagai kondisi lebih tinggi.
16. Orang yang berusaha salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berusaha benar sebagai kondisi lebih tinggi.
17. Orang yang berperhatian salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berperhatian benar sebagai kondisi lebih tinggi.
18. Orang yang bermeditasi salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk bermeditasi benar sebagai kondisi lebih tinggi.
19. Orang yang berpengetahuan salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpengetahuan benar sebagai kondisi lebih tinggi.
20. Orang yang berpembebasan salah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpembebasan benar sebagai kondisi lebih tinggi.
21. Orang yang dikuasai ngantuk dan tidur, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak dikuasi ngantuk dan tidur sebagai kondisi lebih tinggi.
22. Orang yang kacau, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak kacau sebagai kondisi lebih tinggi.
23. Orang yang tidak tentu, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk pasti sebagai kondisi lebih tinggi.
24. Orang yang marah, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak marah sebagai kondisi lebih tinggi.
25. Orang yang bermusuhan, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk bersahabat sebagai kondisi lebih tinggi.
26. Orang yang menghina, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menghina sebagai kondisi lebih tinggi.
27. Orang yang menguasai, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menguasai sebagai kondisi lebih tinggi.
28. Orang yang cemburu, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak cemburu sebagai kondisi lebih tinggi.
29. Orang yang kikir, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak kikir sebagai kondisi lebih tinggi.
30. Orang yang penipu, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak menipu sebagai kondisi lebih tinggi.
31. Orang yang pembohong, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak membohong sebagai kondisi lebih tinggi.
32. Orang yang keras kepala (bandel), tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak keras kepala sebagai kondisi lebih tinggi.
33. Orang yang angkuh, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tidak angkuh sebagai kondisi lebih tinggi.
34. Orang yang sulit dinasehati, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk mudah dinasehati sebagai kondisi lebih tinggi.
35. Orang yang berkawan dengan orang jahat, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berkawan dengan orang baik sebagai kondisi lebih tinggi.
36. Orang yang lalai, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk rajin sebagai kondisi lebih tinggi.
37. Orang yang tak berkeyakinan, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berkeyakinan sebagai kondisi lebih tinggi.
38. Orang yang tidak hati-hati, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk hati-hati sebagai kondisi lebih tinggi.
39. Orang yang tidak tahu malu, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk tahu malu sebagai kondisi lebih tinggi.
40. Orang yang belajar sedikit, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk belajar banyak sebagai kondisi lebih tinggi.
41. Orang yang malas, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk bersemangat sebagai kondisi lebih tinggi.
42. Orang yang tak waspada, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk waspada sebagai kondisi lebih tinggi.
43. Orang yang berpengertian kurang, tidak memiliki sifat dan kemauan untuk berpengertian sebagai kondisi lebih tinggi.
44. Orang yang berpengertian salah karena pandangan-pandangan pribadinya, bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu; tidak memiliki pengertian salah sesuai dengan pandangan pribadi, tidak bersikeras dan mudah memusnahkannya, adalah kondisi lebih tinggi.

Orang yang menggapai-gapai (untuk menyelamatkan diri) dalam rawa demi menyelamatkan orang lain yang mengapai-gapai dalam rawa adalah tidak mungkin; orang yang tidak berada dalam rawa dapat menyelamatkan orang yang menggapai-gapai dalam rawa adalah mungkin.
Orang tidak terlatih, tidak disiplin dan tidak mencapai nibbāna akan melatih, mendisiplinkan dan membimbing orang lain untuk mencapai nibbāna adalah tidak mungkin; namun orang yang terlatih, disiplin dan telah mencapai nibbāna, bila melatih, mendisiplinkan dan membimbing orang lain untuk mencapai nibbana adalah mungkin.

Begitu pula:
1. Orang kejam berubah menjadi tanpa kekejam merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
2. Pembunuh berubah menjadi pantang membunuh merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
3. Orang berubah menjadi pantang mengambil barang yang tak diberikan, merupakan cara untuk mencapai nibbāna
4. Orang berubah menjadi hidup brahmacari, merupakan cara untuk mencapai nibbāna
5. Orang berubah menjadi pantang berbohong, tidak memiliki kejujuran merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
6. Orang berubah menjadi pantang memfitnah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
7. Orang berubah menjadi pantang bicara kasar, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
8. Orang berubah menjadi pantang melakukan gosip, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
9. Orang berubah menjadi pantang serakah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
10. Orang berubah menjadi pantang iri hati, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
11. Orang berubah menjadi pantang berpandangan salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
12. Orang berubah menjadi pantang berpikir salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
13. Orang berubah menjadi pantang berucap salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
14. Orang berubah menjadi pantang berperbuatan salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
15. Orang berubah menjadi pantang bermatapencaharian salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
16. Orang berubah menjadi pantang berusaha salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
17. Orang berubah menjadi pantang berperhatian salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
18. Orang berubah menjadi pantang bermeditasi salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
19. Orang berubah menjadi pantang berpengetahuan salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
20. Orang berubah menjadi pantang berpembebasan salah, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
21. Orang berubah menjadi pantang dikuasai ngantuk dan tidur, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
22. Orang berubah menjadi pantang kacau, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
23. Orang berubah menjadi pantang tidak tentu, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
24. Orang berubah menjadi pantang marah, merupakan cara untuk mencapai nibbna.
25. Orang berubah menjadi pantang bermusuhan, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
26. Orang berubah menjadi pantang menghina, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
27. Orang berubah menjadi pantang menguasai, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
28. Orang berubah menjadi pantang cemburu, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
29. Orang berubah menjadi pantang kikir, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
30. Orang berubah menjadi pantang penipu, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
31. Orang berubah menjadi pantang pembohong, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
32. Orang berubah menjadi pantang keras kepala (bandel), merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
33. Orang berubah menjadi pantang angkuh, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
34. Orang berubah menjadi pantang sulit dinasehati, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
35. Orang berubah menjadi pantang berkawan dengan orang jahat, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
36. Orang berubah menjadi pantang lalai, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
37. Orang berubah menjadi pantang tak berkeyakinan, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
38. Orang berubah menjadi pantang tidak hati-hati, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
39. Orang berubah menjadi pantang tidak tahu malu, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
40. Orang berubah menjadi pantang belajar sedikit, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
41. Orang berubah menjadi pantang malas, merupakan cara untuk mencapai nibbana.
42. Orang berubah menjadi pantang tak waspada, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
43. Orang berubah menjadi pantang berpengertian kurang, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.
44. Orang berubah menjadi pantang berpengertian salah karena pandangan-pandangan pribadinya dan bersikeras mempertahankan pandangan seperti itu, merupakan cara untuk mencapai nibbāna.

Demikianlah, jalan untuk memusnahkan, jalan untuk mengembangkan batin, jalan untuk menghindari, jalan untuk mencapai pencapaian lebih tinggi dan jalan untuk mencapai nibbana telah saya tunjukkan.

Apa yang harus dilakukan untuk siswanya berdasarkan pada kasih sayang Guru yang mengharapkan kesejahteraan dan kasihnya, telah saya kerjakan untukmu, Cunda. Itulah akar dari pohon-pohon, ini pondok-pondok kosong. Cunda kembangkan-lah Jhana, jangan menunggu, itu akan mengakibatkan penyesalan. Inilah pesan kami untukmu.

Itulah yang dikatakan Sang Bhagava. Bhikkhu Mahacunda puas dan gembira mendegar uraian Sang Bhagava.

VATTHUPAMA SUTTA

Demikian yang telah saya dengar:
"Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Beliau berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu."
Mereka menjawab: "Ya, Bhante."

Selanjutnya Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, andaikata ada sepotong kain kotor dan bernoda, dan seorang pencelup merendamnya di dalam celupan atau lainnya, yang berwama biru, kuning, merah atau dadu, akan tetap jelek dan warnanya tak cemerlang. Mengapa demikian? Karena kain itu tidak bersih, demikian pula apabila batin kotor, maka masa depan tak menyenangkan yang mungkin terjadi.
Para bhikkhu, andaikata sepotong kain bersih dan terang, lalu seorang pencelup merendamnya di dalam bahan celupan atau lainnya, apakah biru, kuning, merah atau dadu, maka akan tampak indah dan terang warnanya. Mengapa demikian? Karena kain itu bersih, demikian pula apabila batin tidak kotor, maka masa depan menyenangkan yang mungkin tedadi. 'Apakah ketidaksempurnaan yang mengotori batin itu? Ketamakan dan keserakahan adalah ketidaksempurnaan yang mengotori batin. Keinginan jahat ... Kemarahan .... Kekikiran .... Penipuan .... Kecurangan …. Keras kepala .... Praduga .... Keangkuhan .... Kesombongan …. Kelalaian adalah ketidaksempurnaan yang mengotori batin.
Apabila seorang bhikkhu mengetahui bahwa ketamakan dan keserakahan adalah suatu ketidaksempurnaan yang mengotori batin, ia akan meninggalkan semua itu.'
'Setelah seorang bhikkhu mengetahui bahwa keinginan jahat ... kelalaian adalah ketidaksempumaan yang mengotori batin, maka ia akan meninggalkan semua itu.'
'Segera setelah hal itu diketahui dengan pandangan terang bahwa ketamakan dan keserakahan adalah suatu ketidak-sempurnaan yang mengotori batin, sifat itu terkikis dalam batinnya. Segera setelah hal itu diketahui dengan pandangan terang bahwa keinginan jahat ... kelalaian adalah ketidaksempumaan yang mengotori batin, semua itu terkikis di dalam batinnya.
'Dengan demikian, ia memiliki keyakinan sempurna terhadap Buddha, sebagai berikut: "Sang Bhagava adalah Arahat, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan dan tindak-tanduknya, luhur, pengenal segenap alam, pemimpim manusia tanpa banding, guru para dewa dan manusia, yang mencapai penerangan sempuma, Buddha." 'Juga, ia memiliki keyakinan sempurna terhadap Dhamma, sebagai berikut: "Dhamma Sang Bhagava telah dibabarkan dengan baik; berada sangat dekat, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan; menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing."
'Selanjutnya, ia memiliki keyakinan sempurna terhadap Sangha, sebagai berikut: "Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak baik, Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak lurus, Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak patut; mereka adalah empat pasang makhluk yang terdiri dari delapan jenis makhluk suci. Itulah siswa Sang Bhagava yang patut menerima pemberian, tempat bernaung, persembahan dan penghormatan; tempat untuk menanam jasa, yang tiada taranya di alam semesta."
Apapun (dari ketidaksempurnaan itu) yang telah, sesuai dengan batasannya (diatur oleh tiga tingkat kesucian pertama yang telah dicapainya), diatasi, dihentikan (selamanya), dibiarkan, ditinggalkan dan dilepaskan.
'Ia (merenung) demikian: "Saya memiliki keyakinan sempurna terhadap Buddha" dan ia memperoleh pengalaman berarti, ia memperoleh pengalaman Dhamma, oleh karenanya ia menemukan kesenangan berkenaan dengan Dhamma. Karena kesenangan ini maka ia diliputi kegiuran, dengan adanya kegiuran maka tubuhnya menjadi tenang, ketika tubuhnya tenang ia merasa bahagia, karena kebahagiaan itu, batinnya menjadi terkonsentrasi.’
'Ia (merenung) demikian: "Saya memiliki keyakinan sempurna terhadap Dhamma" dan ia memperoleh pengalaman berarti, ia memperoleh pengalaman Dhamma, oleh karenanya ia menemukan kesenangan berkenaan dengan Dhamma. Karena kesenangan ini maka ia diliputi kegiuran, dengan adanya kegiuran maka tubuhnya menjadi tenang, ketika tubuhnya menjadi tenang ia merasa bahagia, karena kebahagiaan itu, batinnya terkonsentrasi.’
'Ia (merenung) demikian: "Saya memiliki keyakinan sempurna terhadap Sangha" dan ia memperoleh pengamalan berarti, ia memperoleh pengalaman Dhamma, oleh karenanya ia menemukan kesenangan yang berkenaan dengan Dhamma. Karena kesenangan ini maka ia diliputi kegiuran, dengan adanya kegiuran maka tubuhnya menjadi tenang, ketika tubuhnya menjadi tenang ia merasa bahagia, karena kebahagiaan itu, batinnya terkonsentrasi.’
'Ia (merenung) demikian: "Apapun yang dimiliki, sesuai batasannya, telah diatasi, dihentikan, dibiarkan, ditinggalkan dan dilepaskan, maka ia memperoleh pengalaman berarti, ia memperoleh pengalaman Dhamma, oleh karenanya ia menemukan kesenangan yang berkenaan dengan Dhamma. Karena kesenangan ini maka ia diliputi kegiuran .... batinnya terkonsentrasi.
'Jika seorang bhikkhu memiliki sila, dhamma dan panna seperti itu, makan makanan pindapatta yang terdiri dari nasi dan kacang-kacangan hitam yang dicampur dengan saus dan kari, ia tidak merasa terganggu makan makanan seperti itu.
Bagaikan kain yang kotor dan bemoda menjadi bersih dan cerah dengan bantuan air yang jernih, atau seperti emas mepjadi murni dan berkilau dengan bantuan tungku perapian, demikian pula bagi seorang bhikkhu dengan sila, dhamma dan panna seperti itu, makan makanan pindapatta yang terdiri dari nasi dan kacang-kacangan hitam yang dicampur dengan saus dan kari, ia tidak merasa terganggu makan makanan seperti itu.
Ia hidup dengan batin yang diliputi dengan cinta kasih yang dipancarkan ke arah yang pertama, ke dua, ke tiga dan ke empat; juga ke atas, ke bawah, ke sekeliling dan segala penjuru dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri; ia hidup dengan batinnya yang diliputi cinta kasih, murni, tak terukur, tanpa keserakahan atau keinginan jahat, yang memancar ke segenap penjuru dunia.
Ia hidup dengan batin yang diliputi dengan kasih sayang yang dipancarkan ke arah yang pertama ... ke segenap penjuru dunia.
Ia hidup dengan batin yang diliputi dengan empati yang dipancarkan ke arah yang pertama, ... ke segenap penjuru dunia.
Ia hidup dengan batin diliputi dengan keseimbangan batin yang dipancarkannya ke arah yang pertama ... kesegenap penjuru dunia. (Berdasarkan hal itu) ia mengerti tentang: "Terdapat (Brahma vihāra) ini, terdapat (kekotoran-kekotoran batin vang telah ditinggalkan) yang lebih rendah, terdapat (tujuan dari Jalan Arahat yang telah dicapai) yang lebih tinggi, terdapat pembebasan (yaitu Nibbāna) dari (semua) pencerapan (sañña)."
'Ketika ia mengetahui dan melihat cara tersebut, batinnya terbebas dari ikatan nafsu indera, terbebas dari ikatan yang mengikat makhluk dan terbebas dari ikatan kebodohan. Ketika telah terbebas, terdapat pengetahuan: "Ini terbebas." la mengerti: "Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci (brahmanacari) telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilaksanakan, tak ada lagi yang melebihi hal ini." Bhikkhu, inilah yang disebut: "Dimandikan dengan mandi di dalam (sinato antarena sinanenati)."’
Ketika itu, brahmana Sundarika Bharadvaja duduk tak jauh dari Sang Bhagava. Kemudian Ia berkata kepada Sang Bhagava: "Namun, apakah petapa Gotama pergi ke sungai Bahuka untuk mandi?"
"Brahmana, mengapa ke sungai Bahuka? Apakah yang dapat dilakukan oleh sungai Bahuka?"'
"Petapa Gotama, sungai Bahuka dimanfaatkan oleh banyak orang karena sungai itu memberikan kebebasan dan jasa (puñña). Banyak orang memanfaatkan sungai Bahuka karena sungai itu dapat mencuci semua karma buruk yang telah kita buat."
Kemudian, Sang Bhagava berkata kepada brahmana Sundarika Bharadvaja, dalam syair:

Bahuka dan Andhikka
Gaya dan Sundarika, juga Pavaga dan Sarassati
Dan aliran sungai Bahumati
Tak akan pernah mencuci kamma hitam menjadi putih.


Apakah arti yang dapat diberikan Sundarika?
Apakah juga Payaga? Apakah Bahuka?
Mereka tak dapat menyucikan seorang pelaku kejahatan,
Seorang yang telah berbuat kejam dan brutal.

Seorang dengan batin murni, mempunyai lebih dari
Pesta musim semi, Hari Suci;
Seorang yang murni dalam perbuatan,
Yang murni dalam batin,

Memiliki setiap kesempurnaan moral.
Di sinilah brahmana, kamu layak
Datang untuk dimandikan,
Untuk membuat dirimu sebagai sarana

Perlindungan yang benar bagi semua makhluk.
Apabila ucapanmu tak ada yang tak benar,
Tak ada perbuatan yang menyakiti makhluk hidup,
Juga tak mengambil sesuatau yang tak diberikan,

Dengan keyakinan dan tanpa kejahatan,
Apakah yang akan kamu lakukan dengan pergi ke Gaya?
Andaikan Gaya itu baik.

Setelah hal ini dikatakan, brahmana Sundarika Bharadvaja berkata: "Menakjubkan, Gotama! Menakjubkan, Gotama! Dhamma telah dijelaskan dengan berbagal cara oleb Gotama, seakan-akan Beliau menegakkan sesuatu yang telah roboh, menyibak yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada yang tersesat, menyalakan lampu dalam kegelapan bagi seseorang agar dapat melihat."
"Saya berlindung kepada Gotama, Dhamma dan kepada Sangha. Saya ingin di-pabbajja (meninggalkan kehidupan berumah tangga) di bawah (bimbingan) Gotama, Saya ingin di-upasampada (menjadi bhikkhu). Brahmana Sundarika Bharadvaja di-pabbajja dan selanjutnya di-upasampada di bawah bimbingan Sang Bhagava. Tak lama setelah ia di-upasampada, ia hidup menyendiri di tempat yang sepi, rajin, bersemangat dan penuh pengendalian diri. Bhikkhu Bharadvaja dengan kemampuan sendiri merealisasikan abhinna (kemampauan batin) pada kehidupan sekarang ini, ia mencapai tujuan tertinggi dari kehidupan suci, yang merupakan tujuan bagi orang-orang yang hidup pabbajja. Ia memiliki pengetahuan langsung tentang: 'Kelahiran telah berakhir, brahmanacari (kehidupan suci) telah dijalani, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada yang melebihi hal ini lagi. Bhikkhu Bharadvaja menjadi salah seorang di antara para arahat.

Saturday, June 09, 2007

CULASIHANADA SUTTA

Demikianlah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Kemudian Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu."
"Ya, Bhante,” jawab mereka.
Selanjutnya Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, hanya di sini ada samana (sotapanna), hanya di sini ada samana kedua (sakadagami), hanya di sini ada samana ketiga (anagami) dan hanya di sini ada samana keempat (arahat). Dalam ajaran yang lain tidak ada samana; beginilah hal itu harus diraungkan (sihanada)."
Mungkin para pertapa dari ajaran lain bertanya: "Apakah sebabnya maka anda mengatakan demikian?"

Pertanyaan itu harus dijawab: "Saudara, empat dhamma telah dinyatakan oleh Bhagava, yaitu: (1) Kami yakin pada guru (sattha, Sang Buddha), (2) kami yakin kepada Dhamma, (3) kami memiliki sila yang sempurna, (4) kami mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma (saha-dhammika) apakah mereka umat awam (gahattha) atau pabbaja (meninggalkan kehidupan berumah-tangga menjadi petapa-bhikkhu)."
Berdasarkan hal-hal itu kami menyatakan begitu.
Namun, para pertapa dari ajaran lain dapat berkata: "Kami juga yakin kepada guru, yaitu guru kami; kepada dhamma yaitu dhamma kami; sila kami sempurna, sesuai dengan sila kami dan kami mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbaja. Apakah perbedaannya?"
Hal itu harus dijawab dengan bertanya: "Apakah tujuannya hanya satu atau banyak?"
Mereka akan menjawab dengan benar: "Tujuan hanya satu, bukan banyak."
"Apakah tujuan itu bebas dari napsu, kebencian, kebodohan, keinginan dan kemelekatan?"
"Ya, tujuan itu bebas dari napsu, kebencian, kebodohan, keinginan dan kemelekatan."
"Apakah tujuan itu disertai penglihatan, tanpa menyukai dan menolak, maupun perbedaan?"
"Ya, tujuan itu disertai penglihatan, tanpa menyukal, menolak maupun perbedaan," jawab mereka dengan benar.
Ada dua ditthi (pandangan) yaitu bhāva ditthi (pandangan tentang ada makhluk) dan vibhāva ditthi (pandangan tanpa ada makhluk). Para samana atau brahmana yang berpaham bhāva ditthi menentang paham vibhāva ditthi. Sedangkan para samana atau brahmana yang berpaham vibhāva ditthi menentang paham bhāva ditthi.
Para samana dan brahmana yang tidak mengerti 'sebagaimana apa adanya tentang asal mula' (yatthabhutam), lenyapnya, kesenangan, bahaya dan jalan keluar dari dua ditthi (pandangan) itu adalah diliputi oleh nafsu, kebencian, kebodohoan, keinginan, kemelekatan, tanpa penglihatan, terlibat dalam pro dan kontra, menyenangi dan menikmati perbedaan. Mereka tidak dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap-tangis, kesakitan, duka-cita dan putus asa. Mereka tidak dapat terbebas dari dukkha (penderitaan).
Para samana dan brahmana yang mengerti sebagaimana apa adanya tentang asal mula, lenyapnya, kesenangan, bahaya dan jalan keluar dari dua ditthi itu adalah tidak diliputi oleh napsu, kebencian, kebodohan, keinginan, kemelekatan, berpenglihatan, tidak terlibat dalam pro dan kontra, tidak menyenangi dan tidak menikmati perbedaan. Mereka dapat bebas dari kelahiran, usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka cita dan putus asa. Mereka dapat terbebas dari dukkha.
Ada empat macam kemelekatan (upadana): Kemelekatan pada napsu indera (kama-upadana), kemelekatan pada pandangan salah (ditthi-upadana), kemelekatan pada upacara dan ritual (silabbataupadana), kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal (attavada-upadana).
Ada samana dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi tidak rinci menerangkan 'pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan' itu. Mereka menerangkan 'pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada napsu indera, tetapi tidak rinci menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada upacara dan ritual, dan kemelekatan pada pandangan adanya jiwa. Mengapa begitu? Karena mereka itu tidak mengerti dengan jelas sebagaimana apa adanya tentang tiga kemelekatan itu. Maka, walaupun mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas mengenai napsu indera, tanpa menerangkan tiga kemelekatan yang lain.
Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi tidak rinci menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan’ itu. Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera dan kemelekatan pada pandangan salah, tetapi tanpa menerangkan tentang, kemelekatan pada upacara dan ritual serta kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal. Karena mereka itu tidak mengerti dengan jelas sebagaimana apa adanya tentang dua kemelekatan itu. Maka walaupun mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas mengenal nafsu indera dan kemelekatan pada pandangan salah, tanpa menerangkan dua kemelekatan yang lain.
Ada pertapa dan brahmana yang menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi tidak rinci menerangkan ‘pengetahuan jelas tentang semua kemelekatan’. Mereka menerangkan dengan pengetahuan jelas tentang kemelekatan pada nafsu indera, kemelekatan pada pandangan salah dan kemelekatan ' pada upacara serta ritual, tetapi tanpa menerangkan tentang kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal. Karena mereka tidak mengerti dengan jelas sebagaimana apa adanya tentang dua kemelekatan itu. Maka walaupun mereka itu menyatakan berpengetahuan jelas tentang semua kemelekatan, tetapi mereka hanya menerangkan tentang pengetahuan jelas mengenal nafsu indera dan kemelekatan pada pandangan salah, tanpa menerangkan dua kemelekatan yang lain.
Para bhikkhu, dalam 'dhammavināya' seperti itu adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan dhamma, namun tidak terarah dengan benar; pelaksanaan sila-sempurna tidak terarah dengan benar; mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbaja juga tidak terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena dhammavināya itu salah diuraikan, salah dinyatakan, tanpa tujuan, tidak mengarah ke kedamaian dan dibabarkan oleh bukan Samma Sambuddha.
Para bhikkhu, ketika Tathagata, Arahat Samma Sambuddha membabarkan pengetahuan jelas tentang semua macam kemelekatan, ia dengan sempurna menguraikan semua macam kemelekatan, yaitu: kemelekatan pada nafsu indera, kemelekatan pada pandangan salah, kemelekatan pada upacara dan ritual serta kemelekatan pada pandangan adanya jiwa yang kekal.
Para bhikkhu, dalam 'dhammavināya' seperti itu adalah biasa menyatakan keyakinan kepada guru dan dhamma yang terarah dengan benar, pelaksanaan sila sempurna yang terarah dengan benar, mencintai saudara-saudara pelaksana dhamma yang hidup sebagai umat awam atau pabbaja yang terarah dengan benar. Mengapa demikian? Karena 'dhammavinaya' itu benar diuraikan, benar dinyatakan, bertujuan, mengarah ke kedamaian dan dibabarkan oleh Samma Sambuddha.
Apakah sumber, asal mula, tempat kelahiran dan yang menghasilkan empat kemelekatan?
Empat kemelekatan ini bersumber dari keinginan (tanhā), berasal mula dari keinginan, lahir dari keinginan dan dihasilkan oleh keinginan.
Apakah sumber keinginan?
Keinginan bersumber dari perasaan (vedāna), berasal mula dari perasaan, lahir dari perasaan dan dihasilkan oleh perasaan.
Apakah sumber perasaan?
Perasaan bersumber mula dari kontak (phāssa), berasal mula dari kontak, lahir dari kontak dan dihasilkan oleh kontak.
Apakah sumber kontak?
Kontak bersumber dari enam indera (salayatana), berasal mula dari enam indera, lahir dari enam indera dan dihasilkan oleh enam indera.
Apakah sumber enam indera?
Enam indera bersumber dari batin dan jasmani (namā-rûpa), berasal mula dari batin dan jasmani, dilahirkan oleh batin dan jasmani, serta dihasilkan oleh batin dan jasmani.
Apakah sumber batin dan jasmani?
Batin dan jasmani bersumber dari kesadaran (viññāna), berasal mula dari kesadaran, dilahirkan oleh kesadaran serta dihasilkan oleh kesadaran.
Apakah sumber kesadaran?
Kesadaran bersumber dari bentuk-bentuk kamma (sankhāra), berasal mula dari bentuk-bentuk kamma, dilahirkan oleh bentuk-bentuk kamma dan dihasilkan oleh bentuk-bentuk kamma.
Apakah sumber bentuk-bentuk kamma?
Bentuk-bentuk kamma bersumber dari kebodohan (avijja), berasal mula dari kebodohan, dilahirkan oleh kebodohan dan dihasilkan oleh kebodohan.
Para bhikkhu, segera setelah kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, maka ia tidak lagi melekat pada nafsu indera, pandangan salah, pada upacara dan ritual serta pandangan tentang adanya jiwa yang kekal. Ketika tidak ada kemelekatan, maka ia tidak menderita. Ketika ia tidak menderita maka ia mencapai nibbāna. Ia mengerti: kelahiran telah lenyap, kehidupan suci telah dicapai, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada sesuatu melebihi ini.

Monday, June 04, 2007

AKANKHEYYA SUTTA

Demikianlah yang telah saya dengar:
1.Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Ketika itu, Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu."
Para bhikkhu menjawab: "Ya, Bhante."


“Para bhikkhu, hiduplah dengan sila dan laksanakanlah patimokkha. Hidup dan kendalikan diri sesuai Patimokkha, berprilaku baik (acara) dan ‘selalu berada di tempat yang pantas' (gocara), melihat bahaya pada kesalahan kecil sekalipun, serta melaksanakan 'peraturan latihan' (sikkhapāda).
2.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin' (akankheyya): ‘Semoga saya disayangi, disukai, dihormati dan dipuji oleh teman-teman brahmacari’, maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
3.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu ingin: ‘Semoga saya dengan mudah mendapat kebutuhan-kebutuhan: jubah, makanan, tempat menginap dan obat-obatan yang digunakan sewaktu sakit,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
4.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu ingin: ‘Semoga orang-orang yang berdana jubah, makanan, tempat menginap dan obat-obatan yang saya butuhkan, akan menerima buah karma yang besar dan kemajuan berdasarkan dana-dana itu,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
5.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga berdasarkan pada keyakinan dan kepatuhan dari sanak keluargaku yang telah meninggal, mereka akan menerima buah karma dan manfaat yang besar,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana melaksanakan rneditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
6.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya menjadi seorang yang mengatasi ketidakbahagiaan (dalam kebhikkhuan) atau kesenangan (menikmati pemuasan nafsu) dan bukan orang yang dikuasai oleh ketidakbahagiaan, namun sebagai seorang yang selalu mengatasi ketidakbahagiaan yang muncul,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat terpencil dan sunyi (suññagara).
7.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga menjadi seorang yang mengatasi kebencian dan kesukaan, dan bukan orang yang dikuasai oleh kebencian dan kesukaan, serta selalu mengatasi kebencian dan kesukaan,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosainatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
8.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya menjadi seorang yang mengatasi ketakutan dan kegentaran, dan bukan orang yang dikuasai oleh ketakutan dan kegentaran,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
9.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya menjadi seorang yang dapat mencapai pencapaian sesuai keinginan, tanpa kesulitan atau tanpa ganguan mengenai Empat Rûpajhāna, yang dihasilkan oleh batin yang bersih, sehingga seseorang dapat hidup dengan bahagia pada kehidupan ini,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
10.Para bhikkhu, jika scorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga setelah saya melampaui Rupajhana, dengan pencapaian batin dan tetap berada dalam kedamaian Arupajhana yang dihasilkan berdasarkan 'pembebasan' (vimokkha),’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
11.Para bhikkhu, jika seseorang bhikkhu 'ingin: ‘Semoga saya menjadi Sotapanna dengan melenyapkan tiga 'belenggu' (samyojana) dan tidak akan terlahir kembali di alam menyedihkan dan menderita, yang pasti dan akan mencapai 'penerangan agung' (bodhi),’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
12.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya menjad' Sakadagami dengan melenyapkan tiga 'belenggu' (samyojana) dan melemahkan kemelekatan pada nafsu (raga), kebencian (dosa) serta kebodohan (moha), akan terlahir sekali lagi demi melenyapkan dukkha,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
13.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': "Dengan melenyapkan lima belenggu (samyojana) yang rendah (orambhagiya), semoga saya terlahir secara 'langsung' (opapatika) dan tidak akan terlahir kembali di alam lain, serta akan mencapai nibbana di alam itu,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
14.Para bhikkhu, jika seseorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya memiliki bermacam-macam 'kemampuan batin phisik' (iddhividdha) seperti: dari satu tubuh menjadi banyak tubuh, dari banyak tubuh menjadi satu, saya menjadi terlihat atau tidak terlihat (menghilang); saya tanpa rintangan menembus dinding, pagar maupun gunung bagaikan berjalan di tempat terbuka; saya dapat menyelam dan keluar dari tanah bagaikan menyelam dan keluar dari air; saya berjalan di atas air bagaikan berjalan di tanah; saya dapat terbang ke angkasa dengan posisi duduk bagaikan burung terbang; saya dapat menyentuh matahari dan bulan yang sangat perkasa itu; saya dapat menguasai tubuh saya hingga dapat pergi ke alam para Brahma,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
15.Para bhikkhu, jika seseorang bhikkhu 'ingin': "Semoga saya dapat mendengar dua macam suara, yaitu suara para dewa dan manusia, jauh atau dekat, dengan kemwnpuan mendengar yang melampaui kemampuan mendengar manusia biasa, kemampuan mendengar yang sangat jelas seperti kemwnpuan para dewa," maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhāna, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
16. Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya, dengan pikiran saya sendiri, mengetahuai dengan jelas pikiran-pikiran para makhluk atau individu lain; semoga saya mengetahui pikiran yang 'diliputi napsu indera' (saraga); semoga saya mengetahui pikiran 'tanpa napsu indera' (vitaraga) sebagai pikiran tanpa napsu indera; semoga saya mengetah pikiran yang 'diliputi oleh kebencian' (sadosa); semoga saya mengetahui pikiran tanpa diliputi kebencian sebagai pikiran tanpa diliputi kebencian; semoga saya mengetahui pikiran yang 'diliputi kebodohan' (samoha); semoga saya mengetahui pikiran tanpa diliputi kebodohan sebagai pikiran tanpa diliputi kebodohan; semoga saya mengetahui pikiran kebingungan (sankhitta); semoga saya mengetahui pikiran tanpa kebingungan sebagai pikiran tanpa kebingungan; semoga saya mengetahui pikiran mulia (mahaggata) sebagai pikiran mulia; semoga saya mengetahui pikiran tidak mulia (amahaggata) sebagai pikiran tidak mulia; semoga saya mengetahui pikiran inferior (sa-uttara) sebagai pikiran rendah; semoga saya mengetahui pikiran superior (anuttara) sebagai pikiran superior; semoga saya mengetahui pikiran terkonsentrasi (samahita) sebagai pikiran terkonsentrasikan; semoga saya mengetahui pikiran tak terkonsentrasi (asamahita) sebagai pikiran tak terkonsentrasi; semoga saya mengetahui pikiran telah terbebas (vimutta) sebagai pikiran telah bebas; semoga saya mengetahui pikiran belum bebas (avimutta) sebagai pikiran belum bebas,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
17.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya dapat mengingat 'banyak dan bermacam-macam kehidupan yang lampau' (anekavihita pubbenivasa), seperti: mengingat satu kelahiran lampau, dua, tiga, empat, lima, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, seratus, seribu, seratus ribu kelahiran lampau, atau dalam banyak kali penghancuran bumi (samvattakappa), dalam banyak kali pembentukan bumi (vivattakappa), atau dalam banyak masa pembentukan dan penghancuran bumi, ketika itu: pada kehidupan itu saya memiliki nama, terlahir pada keluarga, memiliki penampilan, makan makanan, menikmati kenikmatan, saya menderita sakit; masa usiaku sepanjang itu, saya meninggal dari kehidupan itu dan kemudian saya terlahir pada kehidupan yang lain; pada kehidupan (baru) itu saya bernama, terlahir pada keluarga, memiliki penampilan, makan makanan, menikmati kenikmatan, saya menderita sakit, masa usiaku sepanjang itu, saya meninggal dari kehidupan itu dan saya lahir kembali pada kehidupan ini. Semoga saya dapat mengingat banyak dan macam-macam kelahiranku yang lampau seperti itu bersama dengan semua karakter dan keadaan yang berhubungan dengan kehidupan-kehidupan itu,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
18.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya memiliki kemampuan batin mata dewa (dibba cakkhu) yang sangat tajam dan melebihi kemampuan mata manusia biasa, dapat melihat makhluk-makhluk dalam proses meninggal dan lahir kembali, makhluk-makhluk inferior atau superior, makhluk-makhluk cantik atau buruk, serta makhluk-makhluk dengan kehidupan baik atau buruk. Semoga saya mengetahui bagaimana makhluk-makhluk lahir sesuai dengan karma-karma mereka: 'Kawan-kawan! Makhluk-makhluk ini dipenuhi perbuatan jahat yang dilakukan dengan jasmani, ucapan dan pikiran. Mereka kejam kepada para ariya, berpandangan keliru dan melakukan perbuatan-perbuatan berdasarkan pandangan keliru mereka. Setelah meninggal, mereka terlahir kembali di alam penderitaan (duggati), alam menyedihkan (apaya), alam penuh kesakitan dan kesediban (vinipata), di alam neraka (niraya). Tetapi, kawan-kawan, ada pula makhluk-makhluk yang diliputi oleh perbuatan baik yang dilakukan dengan jasmani, ucapan dan pikiran. Mereka tidak kejam kepada para ariya, memiliki pandangan benar. Setelah mereka meninggal, mereka terlahir kembali di alam menyenangkan, alam kebahagiaan para dewa. Dengan demikian, semoga saya memiliki kemampuan mata dewa (dibbacakkhu) yang sangat tajam dan melebihi kemampuan mata manusia biasa seperti itu,’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
19.Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu 'ingin': ‘Semoga saya dengan kemampuan batin (abhinnaya) melenyapkan semua kekotoran batin (asava) pada kehidupan sekarang ini, mencapai dan tetap berada dalam batin suci (cetovimutti) dan kesucian kebijaksanaan (paññavimutti),’ maka ia harus seseorang yang telah melaksanakan sila dengan baik, tekun menenangkan batinnya (cetosamatha), tidak lalai bermeditasi hingga mencapai jhana, melaksanakan meditasi pandangan terang (vipassana) dan sering tinggal di tempat yang terpencil dan sunyi (suññagara).
20.Itulah berdasarkan hal ini, maka kata-kata ini telah dinyatakan: ‘Para bhikkhu, hiduplah dengan sila dan laksanakanlah patimokkha. Hidup dan kendalikan diri sesuai patimokkha, berprilaku baik (acara) dan 'selalu berada di tempat yang pantas' (gocara), melihat bahaya pada kesalahan kecil sekalipun, serta melaksanakan 'peraturan latihan' (sikkhapāda).”
Demikianlah yang dikatakan Sang Bhagava. Para bhikkhu itu senang dan gembira dengan apa yang dikatakan Sang Bhagava.

ANANGAÑA SUTTA

1.Demikianlah yang telah saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi. Ketika Beliau berada di sana, Bhikkhu Sariputta berkata kepada para bhikkhu:

"Para bhikkhu ".
Para bhikkhu menjawab: "Ya, bhante".
Selanjutnya bhikkhu Sariputta berkata:
2.“Avuso, ada empat macam orang di dunia; siapakah mereka? Avuso, di dunia ini ada orang yang 'bermental ternoda' (angana) dan yang tidak mengetahui dengan benar: 'Saya bermental ternoda. Ada orang yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda.’ Ada orang tidak bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda.’ Ada orang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda.’
3.Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang bermental ternoda, ia yang bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda’ adalah disebut inferior.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang bermental ternoda, ia yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya bemental teroda’ adalah disebut superior.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang tidak bermental ternoda, ia yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ adalah disebut inferior.
Avuso, di antara mereka, dua macam orang yang tidak bermental ternoda, ia yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ adalah disebut superior.
4.Setelah hal ini dikatakan, maka Bhikkhu Mahamoggallana bertanya kepada Bhikkhu Sariputta: "Avuso Sariputta! Dari dua macam orang yang bermental ternoda, seorang disebut inferior dan yang lain disebut superior. Apakah alasan dan apa sebabnya?
Avuso Sariputta! Dari dua macam orang yang ‘tidak bermental ternoda’, seorang disebut inferior dan yang lain disebut superior.
Apakah alasan dan sebabnya?"
5.“Avuso, di antara dua macam orang, orang yang ‘bermental ternoda’ dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda’, tidak akan memunculkan keinginan, tidak berusaha, atau tidak mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Ia akan meninggal dunia dengan batin dipenuhi kemelekatan, kemarahan, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh sebuah 'wadah perunggu' (kamsapati) yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang diliputi oleh abu dan kotoran, yang mungkin dibiarkan tidak digunakan oleh pemiliknya, tidak dibersihkan dan dibiarkan dipenuhi debu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu wadah perunggu itu akan lebih ternoda dan kotor oleh kotoran?”
"Ya, avuso."
“Avuso, dengan cara yang sama, orang yang bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda’, tidak akan memunculkan keinginan, tidak berusaha, atau tidak mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Ia akan meninggal dunia dengan batin dipenuhi kemelekatan, kemarahan, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
6.Avuso, di antara mereka, orang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya bemental ternoda’, akan memunculkan keinginan, berusaha atau mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Akan meninggal dunia dengan pikiran tanpa kemelekatan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan, tanpa noda-noda mental dan tanpa ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh, sebuah 'wadah perunggu' (kamsapati) yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang diliputi oleh debu dan kotoran, yang mungkin dibersihkan oleh pemiliknya, tidak dibiarkan diliputi debu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu wadah perunggu itu menjadi bersih dan tanpa noda?”
"Ya, avuso."
“Avuso, sama halnya, orang yang bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya bermental ternoda’, akan memunculkan keinginan, berusaha atau mengembangkan semangat untuk melenyapkan noda mental itu. Akan meninggal dunia dengan pikiran tanpa kemelekatan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan, tanpa noda-noda mental dan tanpa ketidaksucian. Pasti, hal inilah yang akan terjadi padanya.
7.Avuso, di antara mereka, orang yang tidak bermental ternoda dan tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ akan tertarik pada hal-hal yang menyenangkan, karena tertarik pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya akan ternoda karena kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang agak bersih dan tidak ternoda, tetapi yang mungkin tidak digunakan dan tidak dibersihkan oleh pemiliknya dan dibiarkan di tempat berdebu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu wadah perunggu itu ternoda dan kotor oleh kotoran?”
"Ya, avuso."
“Avuso, sama halnya orang yang tidak bermental ternoda tetapi tidak mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’, akan tertarik pada hal-hal yang menyenangkan, karena tertarik-pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya akan ternoda oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin diliputi kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
8.Avuso, di antara mereka, orang yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ tidak akan tertarik padahal-hal menyenangkan, maka batinnya tidak akan ternoda oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin tidak diliputi kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidaksucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.
Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu yang baru dibeli dari toko atau tukang perunggu, yang agak bersih dan agak tidak ternoda, tetapi yang mungkin digunakan dan dibersihkan oleh pemiliknya dan tidak dibiarkan di tempat berdebu. Avuso, bukankah setelah berselang beberapa waktu wadah perunggu itu menjadi lebih bersih dan tidak ternoda?”
"Ya, avuso."
“Avuso, sama halnya, orang yang tidak bermental ternoda dan mengetahui dengan benar: ‘Saya tidak bermental ternoda’ tidak akan tertarik pada hal-hal menyenangkan, karena tidak tertarik pada hal-hal menyenangkan, maka batinnya tidak akan ternoda oleh kemelekatan. Ia akan meninggal dunia dengan batin tanpa kemelekatan, kebencian, kebodohan, noda-noda mental dan ketidak sucian. Pasti, inilah yang akan terjadi padanya.”
9.“Avuso Moggallana! Inilah alasan dan sebab dari pernyataan bahwa dari dua macam yang bermental ternoda, seorang disebut inferior dan orang yang lain disebut superior.
Avuso Moggallana! Inilah alasan dan sebab dari pernyataan bahwa dari dua macam orang yang tidak bermental ternoda, seorang disebut inferior dan orang yang lain disebut superior.”
10.Avuso, telah tersebut: 'Noda, noda.' Apa yang dimaksud dengan 'noda’?”
“Avuso, 'noda’ ini adalah sebutan untuk ‘faktor-faktor jahat' (papakanam) yang muncul dari ‘keinginan-keinginan buruk’ (akusalaiccha).”
“Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Saya akan melakukan 'pelanggaran peraturan' (apatti), mungkin para bhikkhu tidak mengetahui perbuatanku." Kemudian bhikkhu itu berpikir: ‘Para bhikkhu tahu bahwa saya telah melakukan apatti.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Saya akan melakukan apatti, mungkin para bhikkhu akan menuduhku secara pribadi dan tidak di tengah-tengah sangha.’ Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu menuduhnya di tengah-tengah sangha dan bukan secara pribadi. Kemudian bhikkhu itu berpikir: ‘Para bhikkhu menuduhku di tengah-tengah sangha, bukan secara pribadi.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
11.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Saya akan melakukan apatti, mungkin saya akan dituduh oleh teman (yang telah melakukan apatti) dan bukan oleh 'bukan temanku' (yang tidak melakukan apatti).’ Avuso, mungkin ia tidak dituduh oleh temannya, tetapi oleh bukan temannya. Bhikkhu itu berpikir: ‘Saya dituduh oleh 'bukan temanku', namun bukan oleh temanku.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sangat baik bila Guru (sattha) membabarkan dhamma kepada para bhikkhu, hanya bertanya kepada saya dan bukan kepada bhikkhu lain.’ Avuso, tetapi mungkin Guru membabarkan dhamma kepada para bhikkhu dan bertanya kepada bhikkhu lain dan tidak bertanya kepada bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir: ‘Guru mengajar dhamma kepada para bhikkhu dan bertanya kepada bhikkhu lain, tetapi tidak kepadaku.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
12.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila para bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan saya selalu sebagai pemimpin dan bukan bhikkhu lain yang memimpin.’ Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan dipimpin oleh bhikkhu lain dan bukan bhikkhu itu yang me-mimpin. Bhikkhu itu berpikir: ‘Para bhikkhu memasuki desa untuk menerima makanan dengan dipimpin oleh bhikkhu lain dan bukan saya yang memimpin.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noada batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila saya sendiri mendapat tempat terbaik, air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu yang lain tidak mendapat hal-hal itu.’ Avuso, tetapi mungkin bhikkhu yang lain mendapat tempat terbaik, air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu itu tidak mendapat hal-hal itu. Bhikkhu itu berpikir, "Para bhikkhu mendapat tempat terbaik, air terbaik dan dana-makanan terbaik di tempat makan yang ditentukan, sedangkan saya tidak mendapat hal-hal itu." Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
13.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila saya sendiri membabarkan dhamma sebagai pernyataan "anumodana" (membabar dhamma setelah menerima dana), setelah makan dana-makanan, di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu lain tidak melakukannya. Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain membabarkan dhamma setelah makan dana-makanan di tempat makan yang ditentukan, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain membabarkan dhamma setelah makan dana-makanan di tempat makan yang ditentukan, sedangkan saya tidak melakukannya.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila saya sendiri yang membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara dan tidak ada bhikkhu lain yang melakukannya.’ Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain yang membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain membabarkan dhamma kepada para bhikkhu yang mengunjungi vihara, sedangkan saya tidak melakukannya.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
14.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila saya sendiri yang membabarkan dhamma kepada para bhikkhuni ... dst... ... kepada upasaka yang mengunjungi vihara ... dst...... kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan bhikkhu lain tidak melakukannya." Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain yang membabarkan dhamma kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan bhikkhu itu tidak melakukannya. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain membabarkan dhamma kepada para upasika yang mengunjungi vihara, sedangkan saya tidak melakukannya.’ Ialu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai saya sendiri, sedangkan para bhikkhu tidak menghormat, memuja, memuji atau menghargai bhikkhu lain.’ Avuso, tetapi mungkin para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan para bhikkhu tidak menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir: ‘Para bhikkhu menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan saya tidak dihomat, dipuja, dipuji dan dihargai oleh para bhikkhu.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
15.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila para bhikkhuni ... para upasaka menghormat, memuja, memuji dan menghargai saya sendiri, sedangkan para upasika tidak menghormat, memuja, memuji atau menghargai bhikkhu lain.’ Avuso, tetapi mungkin para upasika menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan para upasika tidak menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu itu. Bhikkhu itu berpikir: ‘Para upasika menghormat, memuja, memuji dan menghargai bhikkhu lain, sedangkan saya tidak dihormat, dipuja, dipuji dan dihargai oleh para upasika.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila hanya saya sendiri menerima jubah yang bagus, sedangkan bhikkhu lain tidak menerima jubah yang bagus.’ Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain menerima jubah yang bagus, sedangkan bhikkhu itu tidak menerima jubah yang bagus. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain menerima jubah yang bagus, sedangkan saya tidak menerima jubah yang bagus.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan tidaksenangan adalah noda-noda batin.
16.Avuso, berdasarkan keadaan ini, mungkin ada bhikkhu berkeinginan: ‘Sungguh baik bila hanya saya sendiri menerima dana-makanan yang baik ... tempat tinggal saya bagus ... obat-obatan yang bagus dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan bhikkhu yang lain tidak menerima hal itu.’ Avuso, tetapi mungkin bhikkhu lain menerima obat-obatan dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan bhikkhu itu tidak menerima hal-hal itu. Bhikkhu itu berpikir: ‘Bhikkhu lain menerima obat-obatan yang bagus dan kebutuhan pengobatan yang digunakan dalam keadaan sakit, sedangkan saya tidak menerima hal-hal itu.’ Lalu ia marah dan tidak senang. Avuso, kemarahan dan ketidaksenangan adalah noda-noda batin.
Avuso, 'noda' ini adalah sebutan untuk faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
17.Avuso, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu tidak melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun bhikkhu itu melakukan 'praktik keras', seperti, 'tinggal di hutan' (arannako) atau 'tempat terpencil' (pantasenasano), menerima dana-makanan (pindapatiko) atau 'menerima makanan dari rumah-rumah' (sapadanacari), mengenakan jubah yang dibuat dari kain bekas pembungkus mayat' (pamsukuliko) atau jubah yang dibuat dari kain-kain kasar yang kurang berharga' (lukhacivara), ia tidak akan dihormat, dipuja, dipuji atau dihargai oleh rekan-rekannya yang' melaksanakan penghidupan suci' (sabrahmacari). Apa alasannya? karena melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu belum melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Avuso, sebagai contoh, sebuah 'wadah perunggu' (kamsapati) bersih dan tidak ternoda yang dibeli dari toko atau tukang perunggu dan pemiliknya pergi ke pasar mengisinya dengan (potongan) bangkai ular membusuk, bangkai anjing atau potongan mayat manusia dan menutupi wadah itu dengan wadah perunggu lain. Orang-orang yang melihat wadah perung-gu itu, mungkin berkata: ‘Kawan! mengapa anda membawa hadiah bagus ini?’ bangkit dari duduk, membukanya dan melihat kedalamnya. Namun, segera setelah mereka melihat isinya, mereka akan merasa mau muntah, jijik dan muak, sehingga orang yang lapar pun tidak berkeinginan untuk makan, apalagi mereka yang kenyang.’
Avuso, begitu pula halnya, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu tidak melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun bhikkhu itu melakukan 'praktik keras', seperti, 'tinggal dihutan' (arannako) atau 'tempat terpencil' (pantasenasano), menerima dana-makanan (pindapatiko) atau 'menerima makanan dari rumah-rumah' (sapadanacari), mengenakan 'jubah yang dibuat dari kain pembungkus mayat '(pamsukuliko) atau jubah yang dibuat dari kain-kain kasar yang kurang berharga' (lukhacivara), ia tidak akan dihormat, dipuja, dipuji atau dihargai oleh rekan-rekannya yang 'melaksanakan penghidupan suci' (sabrahmacari). Apa alasannya? karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu belum melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
18.Avuso, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun ia menetap di sebuah vihara desa, menerima dana-makanan dari mereka yang mengundangnya dan mengenakan jubah yang di danakan para umat, ia akan dihormat, di puja, di puji dan di hargai oleh para rekannya yang melaksanakan penghidupan suci. Apakah alasannya? karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.
Avuso, sebagai contoh, sebuah wadah perunggu bersih dan tak ternoda yang dibeli dari toko atau tukang perunggu, lalu pemiliknya pergi ke pasar, mengisinya dengan nasi matang yang bagus, tanpa bijian hitam, bersama banyak kari kacang, daging dan ikan, setelah itu menutupinya dengan wadah perunggu lain. Orang-orang yang melihat wadah perunggu itu, mungkin berkata: ‘Kawan! mengapa anda membawa hadiah bagus ini?’ bangkit dari duduk, membukanya dan melihat kedalamnya. Segera setelah mereka melihat isinya, mereka akan merasa gembira, tanpa merasa muak atau jijik. Sehingga orang yang telah kenyang pun berkeinginan untuk makan, apalagi mereka yang lapar.
Avuso, begitu pula halnya, bilamana seorang bhikkhu dilihat atau didengar oleh seseorang bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan factor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat walaupun ia menetap di sebuah vihara desa, menerima dana-makanan dari mereka yang mengundangnya dan mengenakan jubah yang didanakan para umat, ia akan dihormat, dipuja, dipuji dan dihargai oleh para rekannya yang melaksanakan penghidupan suci. Apakah alasannya? Karena mereka melihat atau mendengar bahwa bhikkhu itu telah melenyapkan faktor-faktor buruk yang muncul dari keinginan-keinginan jahat.”
19.Setelah hal ini dikatakan, lalu Bhikkhu Moggallana berkata kepada Bhikkhu Saruputta: "Avuso Sariputta, sebuah perumpamaan muncul dalam pikiranku.”
"Avuso Moggallana, ungkapkanlah perumpamaan itu."
“Avuso, saya pernah menetap di Giribbaje, dekat kota Rajagaha. Pada suatu pagi, setelah saya mengenakan jubah dan membawa patta serta civara, pergi ke Rajagaha untuk pindapata (menerima makanan), ketika itu, Samiti, putra pembuat kereta, sedang membentuk bagian sisi roda kereta, sedangkan petapa telanjang (ajiviko) bernama Panduputta, mantan pembuat kereta, sedang berdiri didekatnya. Avuso, kemudian muncul ide pada petapa telanjang Panduputta: ‘Akan baik bila Samiti memperbaiki lengkungan, bagian yang bengkok dan kerusakan dari bagian sisi roda kereta. Dengan demikian maka bagian sisi roda kereta akan tanpa lengkungan, bagian yang bengkok dan rusak, maka bagian sisi roda kereta akan tanpa cacad dan bagus.’
Avuso, Samiti memperbaiki lengkungan, bagian yang bengkok dan yang rusak, sesuai dengan ide petapa telanjang Panduputta. Kemudian petapa telanjang Panduputta gembira, dengan mengucapkan teriakan kegembiraan: ‘Nampaknya ia melakukan perbaikan (bagian luar dari roda) bagaikan ia, melalui pikirannya, mengetahui pikiran orang lain.’
Avuso, begitu pula halnya, orang-orang yang tanpa keyakinan (kepada Tiratana), meninggalkan kehidupan berumah-tangga menjadi petapa yang bukan karena berdasarkan pada kepercayaan (pada hukum kamma), tetapi sebagai mata pencaharian. Mereka licik, penipu, pemalsu, bingung, arogan, keji, pesolek dan cerewet; mereka tidak menjaga indera-indera, makan tidak sederhana (bhojane amattannuta), tidak selalu waspada (jagariya ananuyutta), tidak berkehidupan samana dengan baik (samane anapekhavanto), tidak melaksanakan peraturan dengan baik (sikkhaya na tibbagarava), ingin hidup mewah, lalai, kemauan-baik menurun, tak bertanggung jawab dalam usaha untuk melenyapkan dukkha (nibbana), malas, kurang bersemangat, tidak berperhatian, tidak berpengertian, tidak menenangkan pikiran, pikiran tidak tetap, pikiran tak terkendali, tidak bijak dan pikiran tumpul. Nampaknya seperti ayasma (saudara) Sariputta mengetahui pikiran mereka melalui pikiran yang mengatur (membentuk) pikiran mereka dengan uraian dhamma.
Tetapi, ada pula orang-orang dengan keyakinan (kepada Tiratana) meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa, yang tidak licik, tidak menipu, bukan memalsu, tidak bingung, tidak arogan, tidak keji, tidak pesolek dan tidak cerewet; menjaga indera-indera, makan sederhana, selalu waspada, berkehidupan samana dengan baik, melaksanakan peraturan dengan baik, hidup sederhana, bersemangat, berkemauan baik, berusaha untuk melenyapkan dukkha, rajin, berperhatian, berpengertian, pikiran tenang, pikiran tetap, pikiran terkendali, bijak dan pintar. Setelah mereka mendengar uraian dhamma dari ayasma Sariputta, bagaikan mereka minum (saripati) ungkapannya dan makan makananya, dengan berkata: ‘Baik sekali! Ayasma Sariputta telah menyebabkan rekan brahmacari-nya meninggalkan hal-hal buruk (akusala) dan mengembangkan hal-hal yang baik (kusala).
Avuso, seperti seorang wanita atau pria, remaja dan berusia muda yang biasa merias diri, mandi, mengambil bunga teratai, melati, akasia dan membawanya dengan kedua tangan atau menaruh itu di kepala, begitu pula orang-orang itu dengan keyakinan meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa, yang tidak licik, tidak menipu, bukan memalsu, tidak bingung, tidak arogan, tidak keji, tidak pesolek dan tidak cerewet; menjaga indera-indera, makan sederhana, selalu waspada, berkehidupan samana dengan baik, melaksanakan peraturan dengan baik, hidup sederhana, bersemangat, berkemauan baik, berusaha untuk melenyapkan dukkha, rajin, berperhatian, berpengertian, pikiran tenang, pikiran tetap, pikiran terkendali, bijak dan pintar. Setelah mereka mendengar uraian dhamma dari ayasma Sariputta, bagaikan mereka minum (saripati) ungkapannya dan makan maknanya, dengan berkata: ‘Baik sekali! Ayasma Sariputta telah menyebabkan rekan brahmacarinya meninggalkan hal-hal buruk (akusala) dan mengembangkan halhal yang baik (kusala).’”
Dengan cara ini kedua maha arahat (mahanaga) gembira dalam pembicaraan mereka.

BHAYABHERAVASUTTA

Demikianlah yang saya dengar:
1.Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di Jetavana, arama milik Anathapindika, Savatthi.


2.Kemudian Brahmana Janussoni pergi menemui Sang Bhagava, setelah bertemu, ia bersalaman dengan Sang Bhagava; setelah saling bersalaman dengan rasa persahabatan dan hormat, ia duduk di tempat yang telah tersedia. Setelah duduk, ia berkata kepada Sang Bhagava :
"Saudara Gotama, ketika para perumah tangga pabbaja (meninggalkan kehidupan berkeluarga menjadi petapa) karena yakin kepada Saudara Gotama, apakah mereka menjadikan Saudara Gotama sebagai pemimpin, penolong dan pembimbing mereka? Apakah orang-orang ini mengikuti pengertian pandangan Saudara Gotama?"
"Brahmana, begitulah. Ketika para perumah tangga pabbaja karena yakin kepada saya, mereka menjadikan saya pemimpin, penolong dan pembimbing mereka. Mereka mengikuti pengertian pandangan Saya."
"Saudara Gotama, tetapi tinggal di hutan yang terpencil adalah sulit dipertahankan, kesepian adalah sulit dicapai dan sulit menikmati keterpencilan. Seseorang berpikir bahwa hutan akan mengacaukan pikiran seorang bhikkhu, bila ia tidak bersamadhi.”
“Brahmana, begitulah. Tinggal di hutan yang terpencil adalah sulit dipertahankan, kesepian adalah sulit dicapai dan sulit menikmati keterpencilan. Seseorang berpikir bahwa hutan akan mengacaukan pikiran seorang bhikkhu, bila ia tidak bersamadhi”.
3."Sebelum Saya mencapai Penerangan Agung (sambhodi), ketika Saya masih Bodhisatta yang belum mencapai Penerangan Agung, Saya pun bepikir : 'Tinggal di hutan yang terpencil adalah sulit dipertahankan, kesepian adalah sulit dicapai dan sulit menikmati keterpencilan. Seseorang berpikir bahwa hutan akan mengacaukan pikiran seorang bhikkhu, bila ia tidak bersamadhi."
4.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana (petapa) atau brahmana tinggal di hutan yang terpencil dengan “perbuatan jasmani yang tidak suci" (aparisuddha-kayakammanta), dan karena mereka memiliki kekurangan dalam perbuatan, yaitu perbuatan jasmani yang tidak suci, maka muncul rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada para samana dan brahmana ini. Tetapi saya tinggal di hutan yang terpencil dengan "perbuatan jasmani yang suci" (parisuddhakaya-kammanta). Saya tinggal di hutan yang terpencil, sebagai seorang Ariya dengan perbuatan jasmani suci. 'Dengan melihat kesucian perbuatan jasmani pada diriKu, Saya sangat terhibur tinggal dalam hutan."
5.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di hutan yang terpencil dengan ucapan yang tidak suci (aparisuddhavacikammanta), karena mereka memiliki kekurangan dalam perbuatan, yaitu ucapan yang tidak suci, maka muncul rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada para samana dan brahmana ini. Tetapi saya tinggal di hutan yang terpencil dengan ucapan yang suci. Saya tinggal di hutan yang terpencil, sebagai seorang Ariya dengan ucapan suci. Dengan melihat kesucian ucapan pada diriKu, Saya sangat terhibur tinggal dalam hutan."
6.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana serakah, sangat bernafsu dengan keinginan-keinginan mereka, namun sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar, maka para samana dan brahmana ini karena serakah, bernapsu dengan keinginan-keinginan, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya tanpa keserakahan maupun tanpa nafsu pada keinginan-keinginan, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Saya tanpa keserakahan, Saya adalah salah seorang Ariya yang tanpa keserakahan, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri sendiri yang tanpa keserakahan, sangat terhibur hidup di hutan.
7.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran yang tidak suci (byapannacitta), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada ketidaksenangan' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikir buruk yang didasarkan pada ketidaksenangan, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya tanpa 'pikiran yang tidak suci', tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada ketidaksenangan', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Saya diliputi oleh 'pikiran cinta kasih' (mettacitta). Saya adalah salah seorang Ariya yang diliputi pikiran cinta kasih (mettacitta), juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', sangat terhibur hidup di hutan.
8.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'diliputi kelesuan dan ngantuk (thinamaddhapariyutthita), yang 'didasarkan pada ketidaksenangan' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena diliputi kelesuan dan ngantuk yang didasarkan pada ketidaksenangan, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tidak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya tanpa 'diliputi kelesuan dan ngantuk yang didasarkan pada ketidaksenangan'. Saya adalah salah seorang Ariya yang tanpa 'diliputi kelesuan dan ngantuk' juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa 'diliputi kelesuan dan ngantuk , sangat terhibur hidup di hutan.
9.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran gelisah dan tidak tenang' (uddhata avupasantacitta), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi Saya tanpa ‘pikiran gelisah dan tidak tenang', tidak 'berpikiran didasarkan pada kebencian'. Saya berpikir tenang', tidak berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah. seorang Ariya yang 'berpikiran tenang’, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
10.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran khawatir dan tidak pasti' (kankhi vecikicchi), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya tanpa 'pikiran khawatir dan tidak pasti', tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang Ariya yang tanpa 'pikiran khawatir dan tidak pasti', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
11.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain' (attukkamsaka paravambhi), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian '(sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya 'tidak memuji diri sendiri dan tidak merendahkan orang lain' dan tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang Ariya yang tidak memuji diri sendiri dan tidak merendahkan orang lain', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
12.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: 'Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'diliputi ketakutan dan kegentaran' (chamba bhiruka-jatika), yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya tanpa 'diliputi ketakutan dan kegentaran', 'tidak berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang Ariya yang tanpa 'diliputi ketakutan dan kegentaran', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
13.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'diliputi keinginan mendapat pemberian, kehormatan dan kemasyhuran' (labhasakkarasilokam nikamayamano), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya tidak diliputi keinginan mendapat pemberian, kehormatan dan kemasyhuran', tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah seorang Ariya yang hanya berkeinginan sedikit, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
14.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'malas dan kurang semangat' (kusita hinaviriya), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya tidak malas dan bersemangat, tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang Ariya yang 'bersemangat', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
15.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'sifat pelupa dan tidak teliti (muttahassati asampajana), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya 'berperhatian dan berpengertian', tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian'. Saya adalah salah seorang Ariya yang 'berperhatian dan berpengertian', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa 'pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
16.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'pikiran tak terpusat dan liar' (asamahita vibhantacitta), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya berpikiran yang terpusat dengan baik dan tidak 'berpikiran buruk yang didasarkan pada kebencian. Saya adalah salah seorang Ariya yang berpikiran terpusat dengan baik, juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang tanpa' pikiran tidak suci', mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
17.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Bilamana para samana atau brahmana tinggal di tempat terpencil dengan 'tanpa pengertian dan dungu' (dupanna elamuga), berpikiran buruk yang 'didasarkan pada kebencian' (sandosahetu), maka para samana dan brahmana ini karena memiliki pikiran yang tidak suci, berpikiran buruk yang didasarkan pada pikiran jahat, memunculkan rasa takut dan kegentaran yang tak berguna pada diri mereka. Tetapi, Saya berpengertian yang sempurna. Saya adalah salah seorang Ariya yang 'berpengertian sempurna', juga sering tinggal di tempat terpencil di hutan dan belukar. Brahmana, Saya mengamati diri Saya sendiri yang berpengertian sempurna', Saya mendapat kemantapan sangat kuat hidup di hutan.
18.Sehubungan dengan hal itu, Saya berpikir: "Seandainya Saya pada malam tertentu, yaitu: malam keempat belas, kelima belas dan kedelapan pada pertengahan bulan, Saya bermalam di tempat-tempat yang menakutkan dan menggentarkan, seperti di Aramacetiya, Vanacetiya atau Rukkhacetiya, maka Saya dapat melihat ketakutan dan kegentaran. Ketika Saya sedang tinggal di tempat-tempat itu, binatang liar mendatangiKu, atau burung merak mematahkan ranting, atau angin menggoyangkan dedauanan. Saya berpikir:' Sekarang, apakah ketakutan dan kegentaran muncul? Mengapa dengan tinggal di sini Saya selalu mengharapkan ketakutan dan kegentaran? Bagaimana, bila Saya melenyapkan ketakutan dan kegentaran yang muncul pada diriKu, ketika Saya dalam posisi apapun?’”
“Brahmana, ketika Saya sedang berjalan, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriku; Saya tidak berdiri, duduk atau berbaring hingga Saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu. Ketika Saya sedang berdiri, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriKu; saya tidak berjalan, duduk atau berbaring hingga Saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu. Ketika Saya sedang duduk, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriKu; Saya tidak berjalan, berdiri atau berbaring hingga Saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu. Ketika Saya sedang berbaring, ketakutan dan kegentaran muncul pada diriKu; Saya tidak berjalan, berdiri atau duduk hingga Saya dapat melenyapkan ketakutan dan kegentaran itu.”
19.Brahmana, ada beberapa samana dan brahmana menganggap malam sebagai siang, sedangkan siang dianggap sebagai malam. Para samana dan brahmana ini Saya nyatakan mereka hidup dalam kebodohan. Brahmana, karena bagi Saya, malam adalah malam, dan siang adalah siang. Brahmana, siapapun yang berbicara benar: "Sesosok makhluk yang tidak dikuasai kebodohan telah muncul di dunia untuk kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan banyak orang, karena kasih sayangnya kepada dunia demi manfaat, kesejahteraan dan kebahagiaan pada dewa dan manusia", pernyataan seperti itu adalah tepat dinyatakan untukKu.
20.Semangat tanpa lelah telah muncul dalam diriKu, perhatian tanpa lupa telah mantap, tubuhKu telah tenang dan tanpa gangguan, pikiranKu telah terkonsentrasi dan terpusat (ekagata).
21.Agak bebas dari nafsu indera, bebas dari dhamma yang tak berguna, Saya mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai oleh vitakka (usaha pikiran untuk menangkap obyek), vicara (obyek telah tertangkap), kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) karena pemusatan pikiran.
22.Dengan meninggalkan vitakka dan vicara, Saya mencapai dan berada dalam Jhana II yang disertai "percaya diri" (sampasadanam), pemusatan pikiran, kegiuran (piti) dan kebahagiaan (sukha) karena pemusatan pikiran, tanpa vitakka dan tanpa vicara.
23.Dengan lenyapnya kegiuran (piti), Saya diliputi ketenangan, penuh perhatian (sati) dan kebahagiaan jasmani Saya mencapai dan berada dalam Jhana III, yang dinyatakan oleh para Ariya sebagai: "Ia senang karena memiliki ketenangan dan perhatian (sati)."
24.Dengan lenyapnya kebahagiaan (sukha) dan penderiaan (dukkha) jasmani, yang didahului oleh lenyapnya "Kebahagiaan dan penderitaan batin (somanassadomanassa), Saya mencapai dan berada pada Jhana IV, yang tanpa dukkha (adukkha) dan tanpa sukha (asukha) disertai "perhatian dan keseimbangan suci" (upekhasatiparisuddhi).
25.Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak ternoda, bersih dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mencapai ketenangan, Saya mengarahkan batin (citta) pada 'pengetahuan tentang kehidupan-kehidupan yang lampau' (pubbenivasanussatiñāna).
Saya mengingat banyak kehidupanku yang lampau, yaitu: satu kelahiran, dua kelahiran ... lima kelahiran, sepuluh kelahiran ... lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, scribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penjadian dunia (samvattakappa), banyak kappa penghancuran dunia (vivattakappa), dan banyak kappa penjadian dan penghancuran dunia (samvattavivatta-kappa): "Di sana Saya bernama, ras, penampilan, makanan, mengalami kesenangan serta penderitaan, panjang usia seperti itu; meninggal dari sana, Saya terlahir kembali di tempat-tempat lain; di sana pun Saya bernama, ras, penampilan, makanan, mengalami kesenangan serta penderitaan, panjang usia seperti itu; dan meninggal dari alam itu, Saya terlahir di sini. Demikianlah, dengan rinci dan khusus, Saya mengingat banyak kelahiranKu yang lampau.
26.Inilah pengetahuan pertama yang Saya capai pada masa- pertama di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
27.Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak temoda, bersih dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mencapai ketenangan, Saya mengarahkan batin (citta) pada' pengetahuan tentang lenyap dan munculnya makhluk-makhluk' (cutupapatañāna). Dengan pandangan mata dewa (dibbacakkhu) yang suci dan melampaui kemampuan manusia biasa, Saya melihat makhluk-makhluk lenyap (meninggal) dan muncul (lahir) kembali sebagai terhormat atau hina, berwajah cakap atau jelek, berprilaku baik atau jahat; Saya mangerti bagaimana makhluk-makhluk hidup sesuai dengan karma mereka, sebagai berikut: "Makhluk-makhluk ini yang melakukan perbuatan baik melalui ucapan perbuatan dan pikiran, menghina para Ariya, berpandangan keliru, melakukan perbuatan berdasarkan pandangan keliru mereka, setelah mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali dalam keadaan yang tidak menyenangkan, di alam yang menyedihkan, bahkan di neraka; sedangkan makhluk-makhluk yang melakukan perbuatan baik melalui ucapan, perbuatan dan pikiran, tidak menghina para Ariya, berpandangan benar, melakukan perbuatan berdasarkan pada pandangan benar, setelah mereka meninggal dunia, mereka terlahir kembali dalam keadaan menyenangkan, di alam yang membahagiakan, bahkan di surga. "Demikianlah dengan dibbacakkhu yang suci dalam melampaui kemampuan manusia biasa, Saya melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali sebagai terhormat atau hina, berwajah cakap atau jelek, berprilaku baik atau jahat; Saya mengerti bagaimana makhluk-makhluk hidup sesuai dengan karma mereka.
28.Inilah pengetahuan kedua yang Saya capai pada masa-kedua di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
29.Ketika batinnya (citta) telah suci, terang, tak temoda, bersih dari kekotoran, lentur, mudah digunakan, mantap dan mancapai ketenangan, Saya mengarahkan batin (citta) pada 'pengetahuan tentang pelenyapan kotoran batin' (asavanam khayañāna). Saya memiliki pengetahuan: "Inilah Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah sebab Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah lenyapnya Dukkha.” Saya memiliki pengetahuan: "Inilah jalan untuk melenyapkan Dukkha." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah sebab kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah lenyapnya kekotoran-kekotoran batin." Saya memiliki pengetahuan: "Inilah jalan untuk melenyapkan kekotoran-kekotoran batin."
30.Ketika saya mengetahui dan melihat seperti itu, batinku terbebas dari 'kekotoran-batin nafsu indera' (kamāsava), 'kekotoran-batin untuk menjadi' (bhavāsava) dan 'kekotoran - batin kebodohan' (avijjāsava). Ketika terbebas, muncul pengetahuan: "Telah terbebas". Saya memiliki pengetahuan: "Kelahiran telah dilenyapkan, kehidupan suci telah direalisasi, apa yang harus dikerjakan telah dilaksanakan, tidak ada lagi sesuatu di seberang sana."
31.Inilah pengetahuan ketiga yang saya capai pada masa-ketiga di malam hari. Kebodohan (avijja) dilenyapkan dan pengetahuan (vijja) muncul, kegelapan lenyap dan cahaya bersinar, begitulah seseorang yang hidup rajin, bersemangat dan waspada.
32.Brahmana, mungkin anda berpikir: "Barangkali saat ini petapa Gotama tidak terbebas dari nafsu (raga), kebencian (dosa) dan kebodohan (avijja), itulah sebabnya maka beliau tetap tinggal di belukar terpencil di hutan. Tetapi anda tidak perlu berpikir begitu, karena Saya melihat dua manfaat tinggal di belukar terpencil di hutan: 'Saya melihat hal yang menyenangkan bagiKu sendiri di sini dan sekarang, serta Saya memiliki kasih sayang terhadap generasi akan datang."'
33.Benar, karena saudara Gotama adalah Arahat Sammasambuddha yang memiliki kasih sayang kepada generasi mendatang.
34.Mengagumkan saudara Gotama. Mengagumkan saudara Gotama, Dhamma telah dijelaskan dengan banyak cara oleh saudara Gotama, ia bagaikan meluruskan yang bengkok, mengungkap yang tersembunyi, menunjuk jalan bagi yang tersesat, menerangi kegelapan dengan lampu sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat obyek.
35.Saya berlindung pada Gotama, kepada Dhamma dan kepada Sangha. Sejak hari ini semoga Gotama mengingat saya sebagai upasaka (umat) yang berlindung kepadaNya selama hidup.