Sign up for PayPal and start accepting 
credit card payments instantly.
Selamat Datang di Tipitaka Pali

Google
 

Karaniya Metta Sutta

Inilah yang harus dikerjakan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan. Untuk mencapai Keadaan Ketenangan Ia harus mampu jujur, sungguh jujur Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong

Karaniya Metta Sutta

Merasa puas, mudah disokong, Tiada sibuk, sederhana hidupnya, Tenang inderanya, berhati-hati, Tahu malu, tak melekat pada keluarga

Karaniya Metta Sutta

Tak berbuat kesalahan walaupun kecil yang dapat dicela oleh para Bijaksana Hendaklah ia berpikir: Semoga semua makhluk berbahagia dan tentram, Semoga semua makhluk berbahagia

Karaniya Metta Sutta

Makhluk hidup apapun juga, Yang lemah atau kuat, tanpa kecuali, Yang panjang atau besar, Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk

Karaniya Metta Sutta

Jangan menipu orang lain, Atau menghina siapa saja, Jangan karena marah dan benci, Mengharap orang lain celaka

Thursday, September 13, 2007

MAHA ASSAPURA SUTTA

Begitulah yang telah saya dengar :
Pada suatu waktu Sang Baghava sedang berdiam di tengah-tengah Angas; pada suatu kotapraja Angas yang namanya Assapura : Ketika Beliau berdiam di sana, Sang Baghava memanggil para bhikkhu, katanya : "Para bhikkhu." "Bhante", para bhikkhu menjawab Sang Baghava dengan sikap menghormati. Sang Baghava berkata demikian :
" 'Hai para pertapa, hai para pertapa,' maka masyarakat mengenal kalian, para bhikkhu, dan kamu bila ditanya : 'Siapakah kamu?' kalian akan memberikan jawaban : 'Kita adalah pertapa.' Maka, para bhikkhu, jadikanlah tanda-tanda dirimu, jadikanlah hasil karyamu, sehingga, para bhikkhu, kamu seharusnya melatih dirimu sendiri : 'Kita akan terus melaksanakan hal-hal di atas yang telah harus dijalankan oleh para pertapa, yang telah harus dijalankan oleh para brahmana; sehingga tanda-tanda dari diri kalian akan menjadi kebenaran dan hasil karya yang nyata; dan pemberian-pemberian dana yang kita pakai seperti bahan jubah, tempat pemondokan, obat-obatan bagi yang sakit akan mendatangkan buah yang besar dan keuntungan yang besar bagi kita; dan pembe¬rian-pemberian dana yang terus diberikan tidak akan kosong tetapi berisi dan tumbuh.'
Para bhikkhu, dan hal-hal apakah yang harus dijalankan oleh para pertapa dan harus dijalankan oleh para brahmana? Dengan berpikir : 'Kita akan diber¬kahi oleh kerendahan hati dan ketakutan akan dosa - sehingga, para bhikkhu, kalian seharusnya melatih diri kalian sendiri. Tetapi hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : 'Kita diberkahi oleh kerendahan hati dan ketakutan akan dosa - sampai dengan tingkat ini adalah cukup, sampai dengan tingkat ini adalah sudah dilakukan; dicapai oleh kita yang merupakan tujuan pertapaan, tidak ada lagi yang harus dilakukan oleh kita' - sampai dengan batas ini, kalian dapat mencapai kepuasan hati. Para bhikkhu, saya menegaskan kepada kalian, para bhikkhu, saya menyatakan kepada kalian : para bhikkhu, ketika kalian menjalankan hidup bertapa, jangan jatuh, selain menuju hidup bertapa, seandainya ada lagi yang harus dilakukan.
Para bhikkhu, dan apakah yang harus dilakukan lagi? Sambil berpikir : '[272] Perbuatan tubuh kita harus murni dengan sempurna, jernih, terbuka, tanpa cacat dan terkendali. Tetapi bukan karena sempurnanya perbuatan tubuh kita yang murni, kita akan mengagungkan diri kita sendiri atau meremehkan orang lain - sehingga, para bhikkhu, kalian seharusnya melatih diri kalian sendiri. Tetapi hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : 'Kita diber¬kahi dengan kerendahan hati dan ketakutan akan dosa; perbuatan tubuh kita adalah sungguh-sungguh murni - sampai dengan tingkat ini adalah cukup, sampai dengan tingkat ini adalah sudah dilakukan; dicapai oleh kita yang merupakan tujuan pertapaan, tidak ada lagi yang harus dilakukan oleh kita' - sampai dengan batas ini, kalian dapat mencapai kepuasan hati. Para bhikkhu saya menegaskan kepada kalian, para bhikkhu, saya menyatakan kepada kalian : ketika kalian menjalankan hidup bertapa, jangan jatuh, selain menuju hidup bertapa, seandainya ada lagi yang harus dilakukan.
Para bhikkhu, dan apakah yang harus dilakukan lagi? Sambil berpikir : 'Perbuatan kita dalam ucapan harus murni dengan sempurna, jernih, terbuka, tanpa cacat dan terkendali. Tetapi bukan karena sempurnanya ucapan kita yang murni, kita akan mengagungkan diri kita sendiri atau meremehkan orang lain' - sehingga, para bhikkhu, kalian seharusnya melatih diri kalian sendiri. Tetapi hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : 'Kita akan diberkahi dengan kerendahan hati dan ketakutan akan dosa; perbuatan tubuh kita adalah murni dengan sempurna; perbuatan kita dalam ucapan adalah murni dengan sempurna - sampai dengan tingkat ini adalah cukup ...' sampai dengan batas ini, kalian dapat mencapai kepuasan hati. Para bhikkhu, saya menegaskan kepada kalian ... seandainya ada lagi yang harus dilakukan.
Para bhikkhu, dan apakah yang harus dilakukan lagi? Sambil berpikir : 'Perbuatan kita dalam pikiran harus murni dengan sempurna, jernih, terbuka, tanpa cacat dan terkendali. Tetapi bukan karena sempurnanya perbuatan pikiran kita yang murni, kita akan mengagungkan diri kita sendiri atau meremehkan orang lain' - sehingga, para bhikkhu, kalian seharusnya melatih diri kalian sendiri. Tetapi hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : Kita akan diberkahi dengan kerendahan hati dan ketakutan akan dosa; perbuatan tubuh kita adalah murni dengan sempurna, perbuatan kita dalam ucapan adalah murni dengan sempurna; perbuatan kita dalam pikiran adalah murni dengan sempurna - sampai dengan tingkat ini adalah cukup ...' sampai dengan batas ini, kalian dapat mencapai kepuasan hati. Para bhikkhu, saya menegaskan kepada kalian ... seandainya ada lagi yang harus dilakukan.
Para bhikkhu, dan apakah yang harus dilakukan lagi? Sambil berpikir : 'Cara dari kehidupan kita harus murni dengan sempurna, jernih, terbuka, tanpa cacat dan terkendali. Tetapi bukan karena sempurnanya cara kehidupan yang murni ini, kita akan mengagungkan diri kita sendiri atau meremehkan orang lain' - sehingga, para bhikkhu, kalian seharusnya melatih diri kalian sendiri. Tetapi hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : 'Kita diberkahi dengan kerendahan hati dan ketakutan akan dosa; perbuatan tubuh kita adalah murni dengan sempurna, perbuatan kita dalam ucapan adalah murni dengan sempur¬na; perbuatan kita dalam pikiran adalah murni dengan sempurna; cara kehidupan kita adalah murni dengan sempurna - [273] sampai dengan tingkat ini adalah cukup ...' sampai dengan batas ini, kalian dapat mencapai kepuasan hati. Para bhikkhu, saya menegaskan kepada kalian ... seandainya ada lagi yang harus dilakukan.
Para bhikkhu, dan apakah yang harus dilakukan lagi? Sambil berpikir : 'Kita harus berjaga-jaga dalam hal pintu-pintu dari alat-alat penginderaan; setelah melihat bentuk-bentuk jasmaniah dengan mata, kita tidak tertarik dengan penampakkan yang umum, kita tidak tertarik dengan seluk beluk; jika seandainya seseorang memiliki pandangan yang tidak terkendali, yang melekat dan yang mengesalkan hati, keadaan pikiran yang tak terlatih ini adalah jahat dan dapat berkuasa. Setelah mendengarkan suatu bunyi-bunyian dengan telinga ... setelah mencium suatu wangi-wangian dengan hidung ... setelah mengecap suatu rasa dengan lidah ... setelah merasakan suatu sentuhan dengan tubuh ... setelah mengenali suatu obyek bathiniah dengan pikiran, kita tidak tertarik dengan penampakkan yang umum, kita tidak tertarik dengan seluk beluk; jika seandainya seseorang memiliki pikiran yang tidak terkendali, yang melekat dan yang mengesalkan hati, keadaan pikiran yang tidak terkendali ini adalah jahat dan dapat berkuasa. Kita akan mengendalikan pikiran - para bhikkhu, ini adalah cara bagaimana kalian seharusnya melatih diri kalian sendiri. Tetapi hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : 'Kita diberkahi dengan kerendahan hati dan ketakutan akan dosa; perbuatan tubuh kita adalah murni dengan sempurna; perbuatan kita dalam ucapan adalah murni dengan sempurna; perbuatan kita dalam pikiran adalah murni dengan sempurna; cara kehidupan kita adalah murni dengan sempurna, pintu-pintu dari alat penginderaan kita adalah dijaga' - ini adalah cara bagaimana kalian seharusnya melatih diri kalian sendiri - sampai dengan tingkat ini adalah cukup ...' sampai dengan batas ini, kalian dapat mencapai kepuasan hati. Para bhikkhu, saya menegaskan kepada kalian, para bhikkhu, saya menyatakan kepada kalian ... seandainya ada lagi yang harus dilakukan.
Para bhikkhu, dan apakah yang harus dilakukan lagi? Sambil berpikir : 'Kita harus sewajarnya dalam makanan, kita harus makan dengan hati-hati, tidak untuk kesenangan atau kegembiraan atau perhiasan atau keindahan, tetapi dengan secukupnya untuk merawat tubuh ini dan menjaganya tetap sehat, untuk menjaga¬nya dari penyakit, seperti pada kehidupan Brahmana; dengan pikiran : Saya telah menghancurkan perasaan yang lama, dan saya harus tidak membiarkan pera¬saan baru itu muncul, agar supaya akan ada kebebasan dari rasa bersalah dan hidup dalam kesenangan' - sehingga, para bhikkhu, kalian seharusnya melatih diri kalian sendiri. tetapi hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : 'Kita diberkahi dengan kerendahan hati dan ketakutan akan dosa; perbuatan tubuh kita adalah murni dengan sempurna; perbuatan kita dalam ucapan ... dalam pikiran ... cara kehidupan kita adalah murni dengan sempurna; pintu-pintu dari alat penginderaan kita adalah dijaga; kita sewajarnya dalam makanan - sampai dengan tingkat ini adalah cukup ... ' sampai dengan batas ini, kalian dapat mencapai kepuasan hati. Para bhikkhu, saya menegaskan kepada kalian ... sean¬dainya ada lagi yang harus dilakukan.
Para bhikkhu, dan apakah yang harus dilakukan lagi? Sambil berpikir : 'Kita harus sungguh-sungguh waspada; sepanjang hari, melangkah bolak-balik, duduk, kita harus membersihkan pikiran kita dari obyek batiniah yang cendrung menghalangi : selama jaga malam pertama. [274] melangkah bolak-balik, seraya duduk kita harus membersihkan pikiran kita dari obyek batiniah yang cende¬rung menghalangi, selama jaga malam pertengahan, kita harus membaringkan diri pada sisi kanan kita dalam posisi singa, melangkahkan kaki satu per satu, waspada, sadar dengan jelas, merawat pikiran selagi bangun kembali; selama jaga malam terakhir, bangun, melangkah bolak-balik, duduk, kita harus member¬sihkan pikiran dari obyek bathiniah yang cenderung menghalangi - sehingga, para bhikkhu, kalian seharusnya melatih diri kalian sendiri. Tetapi hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : 'Kita diberkahi dengan kerendahan hati dan ketakutan akan dosa; perbuatan tubuh kita adalah murni dengan sempur¬na; perbuatan kita dalam ucapan ... dalam pikiran ... cara kehidupan kita adalah murni dengan sempurna; pintu-pintu dari alat penginderaan kita adalah dijaga; kita sewajarnya dalam makanan; kita sungguh-sungguh waspada - sampai dengan tingkat ini adalah cukup ...' sampai dengan batas ini, kalian dapat mencapai kepuasan hati. Para bhikkhu, saya menegaskan kepada kalian ... sean¬dainya ada lagi yang harus dilakukan.
Para bhikkhu, dan apakah yang harus dilakukan lagi? Sambil berpikir : Kita harus mengendalikan kewaspadaan dan kesadaran dengan jelas, bertindak dengan kesadaran yang jelas, baik berangkat atau pulang kembali ... baik melihat ke bawah atau melihat ke sekeliling ... baik membungkuk atau meren¬tangkan tangan ... baik membawa jubah luar, mangkuk, jubah .. baik mengunyah, minum, makan, mengecap ... baik membuang hajat, bertindak dengan kesadaran yang jelas ketika berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun tidur, berbicara, diam' - sehingga, para bhikkhu, kalian seharusnya melatih diri kalian sen¬diri. Tetapi hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : 'Kita diberkahi dengan kerendahan hati dan ketakutan akan dosa; perbuatan tubuh kita adalah murni dengan sempurna; perbuatan kita dalam ucapan .. perbuatan kita dalam ingatan .. cara kehidupan kita adalah murni dengan sempurna; pintu-pintu dari alat penginderaan kita adalah dijaga; kita sewajarnya dalam makanan; kita sungguh-sungguh waspada; kita mengendalikan kewaspadaan dan kesadaran dengan jelas - sampai dengan tingkat ini adalah cukup, sampai dengan tingkat ini adalah dilakukan; dicapai oleh kita yang merupakan tujuan pertapaan, tidak ada lagi yang harus dilakukan' - sampai dengan batas ini, kalian dapat mencapai kepuasan hati. Para bhikkhu, saya menegaskan kepada kalian, para bhikkhu saya menyatakan kepada kalian : ketika kalian menjalankan hidup bertapa, jangan jatuh, selain menuju hidup bertapa, seandainya ada lagi yang harus dilakukan.
`Para bhikkhu, dan apakah yang harus dilakukan lagi? Para bhikkhu, jika seandainya seorang bhikkhu memilih sebuah pemondokan yang terpencil di dalam hutan, pada akar dari suatu pohon, pada suatu lereng gunung, dalam suatu hutan belantara, dalam suatu gua bukit, dalam suatu biara, dalam suatu hutan yang sering dikunjungi, di tempat yang terbuka atau pada tumpukan jerami. Pulang kembali dari mengumpulkan makanan setelah menyantap makanan, dia duduk bersi¬la, menegakkan punggungnya, setelah membuat kesadaran muncul di depannya. Dengan menyingkirkan kemelekatan duniawi, dia berdiam dalam pikiran yang tidak melekat, dia menyucikan pikiran dari kemelekatan. Dengan menyingkirkan noda-noda kemauan yang buruk, dia berdiam dalam pikiran yang benar, [275] berbelas kasih akan keselamatan semua mahluk hidup, dia menyucikan pikiran dari noda-noda kemauan yang buruk. Dengan menyingkirkan kemalasan dan kelambanan, dia berdiam tanpa kemalasan dan kelambanan; melihat sinar, waspada, sadar dengan jelas, dia menyucikan pikirannya dari kemalasan dan kelambanan. Dengan meny¬ingkirkan kegelisahan dan kekhawatiran, dia berdiam dalam ketenangan, subyek pikiran ditenangkan, dia menyucikan pikiran dari kegelisahan dan kekhawatiran. Dengan menyingkirkan keragu-raguan, dia berdiam dengan tidak ragu-ragu, bebas dari kebingungan seperti sampai pada keadaan yang terlatih, dia menyucikan pikiran dari keragu-raguan.
Para bhikkhu, seperti seorang laki-laki yang membuat perjanjian hutang, menjalankan kehidupan hari demi hari, dan seandainya kehidupannya berhasil, dan seandainya dia memiliki kelebihan dalam harta benda, dia akan menikahi seorang isteri, hal ini akan terjadi padanya : 'Dahulu, saya setelah membuat perjanjian hutang, menjalankan kehidupan, dan kehidupan ini berhasil, maka saya melunasi hutang lama, dan setelah mendapatkan hasil yang berlebih dalam harta benda, saya akan menikahi seorang isteri.' Dengan jalan ini, dia akan mendapatkan kesenangan, dia akan mencapai kegembiraan.
Para bhikkhu, dan seperti seorang laki-laki yang menjadi sasaran penya¬kit, dalam kesakitan, sakit yang berat, dan tidak dapat mencerna makanannya, dan tidak ada kekuatan dalam tubuhnya, tetapi seandainya setelah lewat dari masa sakit, dia memulihkan diri dari penyakit dan dapat mencerna makanannya dan ada kekuatan dalam tubuhnya, hal ini dapat terjadi padanya : 'Dahulu, saya menjadi sasaran penyakit, dalam kesakitan, sakit yang berat, dan tidak dapat mencerna makanan saya, dan tidak ada kekuatan dalam tubuh saya, tetapi seka¬rang saya dapat memulihkan diri dari penyakit, saya mencerna makanan saya, ada kekuatan dalam tubuh saya.' Dengan jalan ini, dia akan mendapatkan kesenangan, dia akan mencapai kegembiraan.
Para bhikkhu, dan seperti seorang laki-laki yang mungkin ditahan di dalam penjara, tetapi setelah waktunya lewat, dia dibebaskan dari tahanan, aman dan sehat, dan tanpa kehilangan hartanya, hal ini dapat terjadi padanya : 'Dahulu, saya ditahan dalam penjara, tetapi sekarang saya bebas dari tahanan, sehat dan selamat, dan tanpa kehilangan harta saya.' Dengan jalan ini, dia akan mendapatkan kesenangan, dia akan mencapai kegembiraan.
Para bhikkhu, seolah-olah seorang laki-laki menjadi budak, bukan sebagai tuannya sendiri, sebagai subyek bagi orang lain, tidak dapat pergi ke tempat dia suka, tetapi setelah waktunya lewat, dia bebas dari perbudakan, sebagai tuannya sendiri, tidak menjadi subyek bagi orang lain, dapat pergi ke tempat dia suka; hal ini dapat terjadi padanya : 'Dahulu, saya adalah budak, tidak menjadi tuan bagi saya sendiri, [276] sebagai subyek bagi orang lain, tidak dapat pergi ke tempat yang saya suka.' Dengan jalan ini, dia akan mendapatkan kesenangan, dia akan mencapai kegembiraan.
Para bhikkhu, seperti seorang laki-laki yang kaya dan makmur yang mung¬kin sedang bepergian pada sebuah jalan yang melewati hutan belantara dan setelah waktunya lewat, dapat muncul rasa aman dan rasa sehat dan tanpa kehilangan harta miliknya, hal ini dapat terjadi padanya : 'Dahulu, saya sebagai orang yang kaya dan makmur, sedang bepergian pada sebuah jalan yang melewati hutan belantara, tetapi sekarang saya dapat memunculkan rasa aman dan rasa sehat dengan tanpa kehilangan harta milik saya.' Dengan jalan ini, dia akan mendapatkan kesenangan, dia akan mencapai kegembiraan.
Dengan menyingkirkan lima halangan yang merupakan kotoran dari pikiran dan yang melemahkan intuisi kebijaksanaan, menjauhkan diri dari kesenangan inderawi, menjauhkan diri dari keadaan pikiran yang tidak terlatih, dia mema¬suki dan berdiam dalam meditasi tingkat pertama dengan disertai oleh pikiran awal dan pikiran yang mengembara, dan hal ini terlahir dari menyepi, dan akan bergairah dan bergembira. Dia merendamnya, memenuhinya, menembusnya dan menu¬tupi seluruh tubuhnya dan hal ini adalah terlahir karena menyepi; tidak ada bagian dari seluruh tubuhnya yang tidak tertutupi dengan kegairahan dan kegem¬biraan, dikarenakan hidup menyepi. Para bhikkhu, seperti seorang pembantu pemandi yang terlatih atau muridnya, setelah memerciki dengan bubuk sabun ke dalam bejana perunggu, dapat mencampurkannya bersama-sama dengan sejumlah air sampai bola busa menyerap embun, adalah merendamnya dengan embun, adalah menutupi dengan embun pada bagian dalam dan pada bagian luar, tetapi tidak memancarkan - para bhikkhu, meskipun demikian, seorang bhikkhu harus meren¬damnya, memenuhinya, menembusnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan kegairahan dan kegembiraan, yang terlahir karena menyepi; tidak ada bagian dari keseluru¬han tubuhnya yang tidak tertutupi dengan kegairahan dan kegembiraan, yang terlahir karena menyepi.
Para bhikkhu, dan sekali lagi, seorang bhikkhu dengan pikiran yang mengawali dan pikiran yang mengembara, dengan menenangkan subyek pikiran dan terpanah pada satu titik, memasuki dan berdiam di dalam metidasi tingkat kedua dengan tidak adanya pikiran yang mengawali dan pikiran yang mengembara, adalah terlahir karena konsentrasi, dan akan begairah dan bergembira. Dia merendam¬nya, memenuhinya, menembusnya, meliputi seluruh tubuhnya dengan kegairahan dan kegembiraan, yang lahir karena konsentrasi; tidak ada bagian dari seluruh tubuhnya yang tidak ditutupi dengan kegairahan dan kegembiraan, yang lahir karena konsentrasi. Para bhikkhu, seperti sebuah kolam air [277] yang airnya terpancar di dalamnya, yang tidak mempunyai cerukan air pada bagian timur, yang tidak mempunyai cerukan air pada bagian barat, yang tidak mempunyai cerukan air pada bagian utara, yang tidak mempunyai cerukan air pada bagian selatan, dan jika seandainya dewa mencurahkan ke bawah air hujan, jatuh pada atas kolam air sekali-sekali, namun arus air yang dingin telah terpancar dari kolam, akan merendamnya, memenuhinya, menembusnya, menutupi kolam ini dengan air dingin. Para bhikkhu, meskipun demikian seorang bhikkhu merendamnya, memenuhinya, menembusnya, meliputi seluruh tubuhnya dengan kegairahan dan kegembiraan, yang terlahir karena konsentrasi; tidak ada bagian dari seluruh tubuhnya yang tidak tertutup dengan kegairahan dan kegembiraan, yang terlahir karena konsentrasi.
Para bhikkhu, dan sekali lagi, seorang bhikkhu yang menghilangkan kegai¬rahan, berdiam dengan keseimbangan, penuh perhatian dan sadar dengan jelas dan mengalami dalam pribadinya, dengan kegembiraan sebagai suku ariya berkata : 'Rasa gembira itu berada pada seseorang yang seimbang dan penuh kesadaran,' dan dia memasukinya dan berdiam dalam meditasi tingkat ketiga. Dia merendam¬nya, memenuhinya, menembusnya, menutupi seluruh tubuh ini dengan kegembiraan, juga tanpa adanya kegairahan; tidak ada bagian dari seluruh tubuhnya yang tidak tertutup dengan kegembiraan, juga tanpa adanya kegairahan. Seperti pada sebuah kolam teratai putih atau kolam teratai merah atau teratai biru, bebera¬pa teratai putih atau teratai merah atau teratai biru yang tumbuh dalam air, berkembang dalam air, tidak pernah muncul ke permukaan, tetapi berkembang ke bawah - teratai-teratai ini dari akarnya sampai ke puncaknya adalah terendam, terpenuhi, tertembus, tertutup seluruh tubuhnya dengan kegembiraan, juga tanpa adanya kegairahan. Para bhikkhu, meskipun demikian seorang bhikkhu merendamnya, memenuhinya, menembusnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan kegem¬biraan, juga tanpa adanya kegairahan; tidak ada bagian dari seluruh tubuhnya yang tidak tertutup dengan kegembiraan, juga tanpa adanya kegairahan.
Para bhikkhu, dan sekali lagi, seorang bhikkhu yang menyingkirkan kegem¬biraan dan penderitaan, dengan mengurangi kesenangan dan kesedihan yang dahu¬lu, dia memasukinya dan berdiam dalam meditasi tingkat keempat, yang tanpa adanya penderitaan juga tanpa adanya kegembiraan, dan murni dengan sepenuhnya dalam keseimbangan dan kewaspadaan. Setelah dia menutupi tubuhnya dengan pikiran yang murni sepenuhnya, jernih sepenuhnya, dia duduk bersamadi; tidak ada bagian dari seluruh tubuhnya yang tidak tertutup dengan pikiran yang murni sepenuhnya dan jernih sepenuhnya. Para bhikkhu, seperti seorang bhikkhu, yang duduk bersamadi, dia membajui dirinya termasuk kepalanya dengan kain putih. Para bhikkhu, meskipun demikian, seorang bhikkhu setelah menutupi seluruh tubuh dengan pikiran yang murni sepenuhnya, dia duduk bersamadi; tidak ada bagian dari seluruh tubuhnya yang tidak tertutup dengan pikiran yang murni sepenuhnya dan jernih sepenuhnya.
Dengan pikiran yang terkendali, dia sungguh-sungguh murni, sungguh jernih, tanpa cacat, tanpa noda, berkembang dan bekerja halus, tetap, tak bergerak, mengarahkan pikirannya menuju pengetahuan dan mengingat tempat tinggal sebelumnya ... Sehingga dia mengingat lebih dari satu kehidupan sebe¬lumnya dalam semua bentuk dan seluk beluknya. Para bhikkhu, seperti seorang laki-laki yang akan pergi dari desanya sendiri menuju desa yang lain, dan akan pergi dari desa yang satu menuju desa yang lain, dan seolah-olah dia akan kembali lagi ke desanya sendiri. Hal ini dapat terjadi padanya : 'Saat ini saya pergi dari desa saya sendiri menuju desa yang lain, di sana saya berdiri di suatu jalan, duduk di suatu jalan, berbicara di suatu jalan, diam di suatu jalan. Dan dari desa itu saya pergi ke desa yang lainnya, di sana saya berdiri di suatu jalan, duduk di suatu jalan, berbicara di suatu jalan, diam di suatu jalan . Kemudian saya kembali lagi dari desa itu menuju desa saya sendiri.' Para bhikkhu, meskipun demikian, seorang bhikkhu, akan mengingat sejumlah tempat tinggal dia sebelumnya, dari satu kelahiran dan dua kelahiran ... Sehingga dia mengingat lebih dari satu kehidupan sebelumnya dalam semua bentuk dan seluk beluknya.
Dengan pikiran yang terkendali, dia sungguh-sungguh murni, sungguh-sungguh jernih, tanpa cacat, tanpa noda, berkembang dan bekerja halus, tetap, tak bergerak, mengarahkan pikirannya menuju pengetahuan untuk mengingat masa lalu dan munculnya para mahluk hidup. Dengan kesucian pandangan dewa ... [279] ... Sehingga dengan kesucian pandangan dewa, yang melampaui kemampuan manusia, dia melihat masa lalu dan masa yang akan datang, dia mengerti mah¬luk-mahluk yang buruk, baik, menarik, jelek, kelahiran baik, kelahiran buruk, sesuai dengan akibat dari perbuatan-perbuatan mereka. Para bhikkhu, seolah-olah seperti dua buah rumah dengan pintu-pintunya, seorang laki-laki yang memiliki pandangan, berdiri di antara kedua rumah itu, dapat melihat orang-orang yang memasuki rumah dan tinggal di dalamnya dan pergi bolak-balik dan berjalan menyeberang. Para bhikkhu, meskipun demikian seorang bhikkhu dengan pandangan dewa yang murni, yang melebihi kemampuan manusia, melihat mahluk-mahluk pada kelahiran yang dahulu, pada kelahiran yang akan datang, dan men¬gerti mahluk-mahluk itu ada yang buruk, baik, menarik, jelek, kelahiran buruk, kelahiran baik ... sesuai dengan akibat dari perbuatan-perbuatan mereka.
Dengan pikiran yang terkendali, dia sungguh-sungguh murni, sungguh-sungguh jernih, tanpa cacat, tanpa noda, tumbuh dan bekerja halus, tetap, tak bergerak, mengarahkan pikirannya menuju pengetahuan akan pemusnahan kebusukan ... Ketika dia mengerti hal demikian, melihat hal demikian. pikiran¬nya bebas dari kebusukan kesenangan inderawi, pikirannya bebas dari kebusukan akan kelahiran kembali, pikirannya bebas dari kebusukan yang membodohkan. Dengan pengetahuan ini, dia menjadi bebas dan dia menjadi mengerti : Menghan¬curkan kelahiran kembali, membawanya sampai mencapai tingkat Brahma, telah menjalankan apa yang harus dikerjakan, tidak ada lagi keadaan kelahiran yang demikian. Para bhikkhu, dia yang telah bebas, seperti kolam air yang murni, jernih dan tenang, dia yang memiliki pandangan berdiri pada tepi kolam air itu dan dapat melihat tiram-tiraman, kerang-kerangan, juga batu-batu kerikil dan batu-batu koral, dan sekawanan ikan yang bergerak dan diam. Hal ini dapat terjadi pada kalian, para bhikkhu : Kolam air ini adalah murni, jernih, te-nang, di sini tiram-tiraman dan kerang-kerangan, [280] dan batu-batu kerikil dan batu-batu koral, dan sekawanan ikan bergerak dan diam. Para bhikkhu, meskipun demikian seorang bhikkhu yang mengerti kenyataan : Ini adalah pender¬itaan ... dia mengerti kenyataannya : Ini adalah jalan menuju berhentinya kebusukan. Ketika dia mengetahuinya demikian, melihatnya demikian, pikirannya bebas dari kebusukan kesenangan indera dan pikirannya bebas dari kebusukan akan kelahiran kembali dan pikirannya bebas dari kebusukan yang membodohkan. Dengan pengetahuan ini, _]SPH_Q s dan dia menjadi mengerti : Menghan¬curkan kelahiran kembali, membawanya sampai mencapai tingkat Brahma, telah menjalankan apa harus yang dikerjakan, tidak ada lagi keadaan kelahiran yang demikian.
Para bhikkhu, seorang bhikkhu akan dipanggil sebagai seorang pertapa, dan sebagai seorang brahmana, dan sebagai seorang pemandi, dan sebagai seorang yang ahli dalam adat dan ilmu pengetahuan, dan sebagai seorang cendikiawan dan sebagai seorang suku ariya, dan sebagai seorang Yang Sempurna. Para bhikkhu, dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah sebagai seorang pertapa? Perbuatan jahat, keadaan pikiran yang tak terlatih yang berhubungan dengan kekotoran dan kelahiran kembali, ketakutan, yang menjadi penyebab penderitaan, yang akan menuju kelahiran kembali, usia tua dan kematian pada waktu yang akan datang, ditenangkan olehnya. Para bhikkhu, demikianlah seorang bhikkhu adalah sebagai seorang pertapa.
Para bhikkhu, dan bagaimana seorang bhikkhu sebagai seorang brahmana? Perbuatan jahat, keadaan pikiran yang tak terlatih yang berhubungan dengan kekotoran ... yang akan menuju kelahiran kembali, usia tua dan kematian pada waktu yang akan datang, tidak menjadi bagian darinya. Para bhikkhu, demikian¬lah seorang bhikkhu adalah sebagai seorang pertapa.
Para bhikkhu, dan bagaimanakah seorang bhikkhu sebagai seorang pemandi? Perbuatan jahat, keadaan pikiran yang tak terlatih yang berhubungan dengan kotoran ... yang akan menuju kelahiran kembali, usia tua dan kematian pada waktu yang akan datang, telah dibersihkan olehnya. Para bhikkhu, demikianlah seorang bhikkhu adalah sebagai seorang pemandi.
Para bhikkhu, dan bagaimanakah seorang bhikkhu sebagai seorang yang ahli dalam adat dan ilmu pengetahuan? Perbuatan jahat, keadaan pikiran yang tak terlatih yang berhubungan dengan kekotoran ... yang akan menuju kelahiran kembali, usia tua dan kematian pada waktu yang akan datang, telah dimengerti olehnya. Para bhikkhu, demikianlah seorang bhikkhu adalah sebagai seorang yang ahli dalam adat dan ilmu pengetahuan.
Para bhikkhu, dan bagaimanakah seorang bhikkhu sebagai seorang cendikia¬wan? Perbuatan jahat, keadaan pikiran yang tak terlatih yang berhubungan dengan kekotoran ... yang akan menuju kelahiran kembali, usia tua dan kematian pada waktu yang akan datang, telah dilenyapkan darinya. Para bhikkhu, demiki¬anlah seorang bhikkhu adalah sebagai seorang cendikiawan.
Para bhikkhu, dan bagaimanakah seorang bhikkhu sebagai seorang suku ariya? Perbuatan jahat, keadaan pikiran yang tak terlatih yang berhubungan dengan kekotoran ... yang akan menuju kelahiran kembali, usia tua dan kematian pada waktu yang akan datang, telah dibuat jauh dari dirinya. Para bhikkhu, demikianlah seorang bhikkhu adalah sebagai seorang suku ariya.
Para bhikkhu, dan bagaimanakah seorang bhikkhu sebagai seorang Yang Sempurna? Perbuatan jahat, keadaan pikiran yang tak terlatih yang berhubungan dengan kekotoran dan kelahiran kembali, ketakutan, yang menjadi penyebab penderitaan, yang akan menuju kelahiran kembali, usia tua dan kematian pada waktu yang akan datang, telah dibuat jauh darinya. Para bhikkhu, demikianlah seorang bhikkhu adalah sebagai seorang Yang Sempurna.
Begitulah yang telah Sang Baghava katakan. Dalam kegembiraan , para bhikkhu ini senang terhadap apa yang Sang Baghava telah katakan.

MAHATANHASANKHAYA SUTTA

1. Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, taman milik Anathapindika Savatthi
2. Pada ketika itu suatu pandangan jahat telah timbul pada diri Bhikkhu Sati Kevattaputta (anak nelayan): "Aku mengerti dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagava, kesadaran (vinnana) yang saina ini yang berpindah-pindah dalam lingkaran kehidupan (samsara) ini"
3. Banyak bhikkhu mendengar bahwa hal ini Kemudian mereka pergi kepada Bhikkhu Sati Kevattaputta dan mereka bertanya kepadanya "Avuso, apakah benar bahwa suatu pandangan jahat telah timbul dalam 'Aku mengerti Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagava bahwa kesadaran sama ini yang berpindah-pindah dalain lingkaran kehidupan ini".
"Benar, paraavuso aku mengerti Dhanuna yang diajarkan Sang Bhagava lingkaran kehidupan ini". Karena para bhikkhu ingin agar dia mau melepaskan pandangan jahatnya itu, mereka bertanya, menekan dan menyudutkan dia dengan kata-kata "Avuso Sati, janganlah berkata begitu,janganlah salah mewakili Sang Bhagava, adalah tidak baik untuk salah mewakili Sang Bagava. Sang Bhagava tidak berkata begitu, sebab kesadaran itu telah dikemukakan di dalain banyak kotbah dhamma oleh Sang Bhagava sebagai hal yang timbul karena adanya sebab, karena tanpa kondis maka kesadaran tidak muncul (ada)". Nainun walaupun ditekan, ditanyai serta disudutkan oleh pertanyaan-pertanyaan mercka, bhikkhu Sati Kevattaputta masih dengan kepala batu salah menanggapi sesuai dengan pandangan jahatnya dan tetap bertahan dan berkata :
"Para Avuso, memang demikian seperti apa yang aku mengerti tentang Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagava lingkaran kehidupan ini".
4. Karena para bhikkhu tidak dapat membebaskan dirinya dari pandangan salah itu, mereka pergi kepada Sang Bhagava, setelah memberi hortnat kepada beliau, mereka duduk ditempat yang tersedia. Setelah duduk, mereka menceritakan kepada Beliau semua yang terjadi dan mereka menambahkan "Bhante, karena kita tidak dapat melepaskan bhikkhu hati Kevattaputta (dari pandangan jahat itu, kami melaporkan kepada Sang Bhagava tentang kejadian itu".
5 . Kemudian Sang Bhagava berkata kepada seorang bhikkhu dengan katakata sebagai berikut " 'Ayo bhikkhu, atas nama-ku katakan kepada bhikkhu Sati bahwa Guru memanggilmu".
"Baik, bhante", jawabnya ia pergi menemui bhikkhu hati dan berkata Sang Guru memanggilmu avuso Sati"
"Baiklah, avuso", ia menjawab Ialu bhikkhu Sati pergi menghadap Sang Bhagava, setelah memberi hormat kepada beliau, ia duduk ditempat yang tersedia. Ketika ia telah duduk, Sang Bhagava bertanya kepadanya: "Sati, apakah betul, bhwa pandangan jahat berikut telah timbul pada dirimu 'Saya mengerti dhainma yang diajarkan Sang Bhagava lingkaran kehidupan ini?"
"Bhante, memang benar demikian. Seperti apa yang aku mengerti Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagava, kesadaran lingkaran kehidupan ini"
"Apakah kesadaran itu Sati?"
"Bhante, itu adalah apa yang berbicara dan merasakan serta mengalaini akibat dari perbuatan baik dan jahat di sini maupun di sana".
6--- "Orang bodoh, dari siapakah kamu pernah mendengar saya mengajar Dhamma seperti itu? Orang bodoh, bukankah saya telah nyatakan dalam banyak kotbah bahwa kesadaran muncul karena adanya sebab, karena tanpa adanya kondisi maka kesadaran tidak muncul. Tetapi kamu telah salah menginterprestasikan dengan pengertian kamu yang salah dan mengatakan pandangan salahmu, itu akan menyebabkan banyak akibat buruk (apunna), karena hal ini maka kainu akan lama terganggu dan menderita".
7. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu, bagaimana pendapat kamu sekalian. 'Sudahkah Sati Kevattaputta menyalakan (usmikato) dhamma dan vinaya ini?"'
"Bhante, mengapa harus dia? Tidak, Bhante" Setelah hal ini dinyatakan, Bhikkhu Sati Kevattaputta duduk diam, cemas, bahu turun, kepala tertunduk, muram dan tak berkata sepatah katapun. Menyadari keadaan bhikkhu Sati, maka Sang Bhagava berkata kepadanya "Orang bodoh, ketahuilah karena pandangan jahatmu, Saya akan menanyakan hal ini kepada para bhikkhu".
8-- Lalu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu "Para bhikkhu, apakah kamu sekalian tahu Dhamma yang Saya ajarkan adalah seperti yang dipahami oleh Bhikkhu Sati Kevattaputta, ketika ia salah menginterprestasikan karena pengertiannya yang salah dan mengatakannya yang salah, yang menyebabkan banyak akibat buruk, maka ia akan lama terganggu dan menderita".
Tidak, bhante, karena kesadaran telah dinyatakan dalam banyak kotbah Sang Bhagava bahwa itu muncul karena adanya sebab karena tanpa adanya kondisi maka kesadaran tidak muncul"
"Baik, para Bhikkhu, bahwa kamu sekalian mengetahui dhamma yang telah Saya ajarkan 'Karena kesadaran telah saya nyatakan dalam banyak kotbah bahwa itu muncul karena adanya sebab karena tanpa adanya kondisi maka kesadaran tidak muncul. Tetapi Bhikkhu Sati Kevattaputta telah salah menginterprestasikan .... terganggu dan mencerita".
9. "Para bhikkhu, kesadaran hanya muncul, tergantung pada sebabnya: bila kesadaran (vinnana) muncul tergantung pada mata (cakkhu) dan bentuk-bentuk (rupa), disebut kesadaran mata (cakkhuninnana): kesadaran muncul tergantung pada telinga (sota) dan suara (sadda) disebut kesadaran telinga (sotavinnana): kesadaran yang muncul tergantung pada hidung (nasa) dan bau (gandha) disebut kesadaran hidung (nasavinnana): kesadaran yang muncul tergantung pada lidah (Oivha) dan rasa (rasa) disebut kesadaran lidah (oivhavinnana); kesadaran yang muncul tergantung pada tubuh (kaya) dan sentuhan (photthabba) disebut kesadaran tubuh (kaya vinnana): kesadaran yang muncul tergantung pada pikiran (mano) dan obyek pikiran (dhamma) disebut kesadaran pikiran (manovinnana). Seperti api yang hanya diperhitungkan tergantung pada sebab yang memunculkannya, api terbakar tergantung pada batang kayu di sebut api batang kayu, bila api terbakar tergantung pada kayu bakar disebut api kayu bakar, bila api terbakar tergantung pada rumput disebut api rumput, bila api terbakar tergantung pada kotoran sapi disebut api kotoran sapi, bila api terbakar tergantung pada dedak disebut api dedak, bila api terbakar tergantung pada sampah disebut api sampah. Demikian pula, kesadaran hanya muncul tergantung pada sebabnya. Ketika kesadaran muncul tergantung pada mata dan bentuk disebut kesadaran mata .... bila kesadaran muncul tergantung pada pikiran dan obyek pikiran disebut kesadaran pikiran".
"Para Bhikkhu, bagaimana kamu sekalian melihat 'ini ada'?" "Begitulah bhante" "Para bhikkhu, keberadaan makhluk karena sari makana'n.. Begitukah kainu sekalian melihatnya?" "Ya, bhante"
"Bagaimanapun keberadaan (makhluk itu), dengan lenyapnya sari makanan maka itu akan lenyap Begitukah kamu sekalian melihatnya?"
"Ya, bhante"
"Para Bhikkhu, 'apakah keberadaan ini tidak ada?': apakah ketidak pastian muncul karena cara yang meragukan seperti itu?" "Ya, bhante" "Para bhikkhu, 'apakah keberadaan makhluk karena sari makanan atau bukan?" Bukankah ketidak pastian muncul karena cara yang meragukan seperti itu?" "Ya bhante"
"Apapun keberadaan (makhluk itu), dengan lenyapnya sari makanan, apakah itu memiliki sifat berubah atau tidak?' apakah ketidak pastian muncul karena cara yang meragukan seperti itu?" "Ya, bhante"
"Para bhikkhu. 'Ini ada': apakah keragu-raguan ditinggalkan oleh orang yang melihat itu sebagaimana apa adanya dengan pengertian benar?" "Ya, bhante"
"Para bhikkhu,'makhluk itu muncul karena sari makanan': apakah keragu-raguan ditinggalkan oleh orang yang melihat itu sebagaimana apa adanya dengan pengertian benar?" "Ya, bhante".
Apapun keberadaan (makhluk itu), dengan lenyapnya sari makanan, itu men-tiliki sifat berubah"
"Apakah keragu-raguan lenyap pada orang yang melihat itu sebagai mana apa adanya dengan pengertian benar?" "Ya, bhante"
"Para bhikkhu, 'apakah kamu sekalian (berpandangan) begitu karena dalain hal ini kamu sekalian bebas dari keragu-raguan?" "Ya, bhante" "Para bhikkhu, 'makhluk itu muncul karena sarimakanan', apakah kamu sekalian (berpandangan begitu karena dalain hal ini kamu sekalian bebas dari keragu-raguan?" "Ya, bhante"
"Para bhikkhu, apapun keberadaan (makhluk itu), dengan lenyapnya sari makanan, itu memiliki sifat berubah, apakah kamu sekalian (berpandangan) beliau karena dalam hal ini kamu sekalian bebas dari keragu-raguan?"
"Ya, bhante"
13. "Para bhikkhu, 'ini dia', apakah kamu sekalian berpandanggn begitu sebagaimana apa adanya dengan pengertian benar?" "Ya, bhante"
"Para bhikkhu, makhluk itu muncul karena sari makanan, apakah kamu sekalian berpandangan begitu sebagaimana apa adanya dengan pengertian benar?"
"Ya, bhante
"Para bhikkhu, 'apapun keberadaan (makhluk itu), dengan lenyapnya sari makanan, itu memiliki sifat lenyap'. karena itu dipandang dengan baik sebag@dmana apa adanya dengan pengertian benar?"
"Ya, bhante"
14. "Para bhikkhu, murni dan cemerlang seperti pandangan inilah yang kamu harus anut, hargai, jadikan harta dan menj'adi milikmu sendiri, apakah kamu mengerti dhamma yang telah diajarkan sama seperti sebuah rakit, yang dipakai untuk menyeberangi sungai, tetapi bukan untuk dipegang saja?"
"Ya, bhante"
"Para bhikkhu, murni dan cemerlang seperti pandangan inilah, apabila kainu tidak menganutnya, tida.k menghargainya, tidak menjadikannya sebagai harta dan tidak menjadi milikmu sendiri, apakah kamu akan mengerti dhamma yang telah diajarkan sama seperti sebuah rakit, yang dipakai untuk menyeberangi sungai, tetapi bukan untuk dipegang saja?"
"Ya. bhante"
15. "Para bhikkhu. ada empat jenis sari makanan untuk mempertahankan atau menjaga kelestarian hidup makhluk-makhluk yang ada serta untuk membantu mercka yang mencari untuk memperbaharui keberadaannya. Apa keempat jenis itu? Sari-sari makanan itu adalah makanan fisik sebagai sari makanan keras maupun lunak , kontak (phassa), kehendak pikiran (manosancetana) dan kesadaran (vinnana)"
16. "Empat jenis sari makanan ini memiliki 'sumber (dana), asal (samudaya), memunculkannya (jati) dan yang menjadikannya (pabhava) Empat jenis sari makanan ini bersumber, berasal, dimunculkan dan dijadikan olch keinginan (tanha)"
17. "Keinginan ini memiliki sumbernya ... keinginan bersumber pada perasaan (vedana) Perasaan ini memiliki sumbemya perasaan bersumber ada kontak (phassa) ... " "Kontak ini meniiliki sumbernya kontak bersumber pada 'landasan enain indera' (salayatana)
"Landasan enam indera ini memiliki sumbemya landasan enam indera ini bersumber pada batin jasmani (nama rupa)
"Batin jasmani ini memiliki sumbemya ... batinjasmani bersumber pada kesadaran (vinnana)
"Kesadaran ini memiliki sumbemya ... kesadaran bersumber ... pada bentuk-bentuk karma (sankhara) Bentuk-bentuk karma ini memiliki sumber, asal, memunculkannya dan menjadikannya Bentuk-bentuk karma ini bersumber, berasal, dimunculkan dan dijadikan oleh ke6odohan (avijja)".
18. "Para bhikkhu, begitulah, kebodohan mengkondisikan bentuk-bentuk karma, bentuk-bentuk karma mengkond'sikan kesadaran, kesadaran mengkondisikan batinjasmani, batinjasmani mengkondisikan landasan enam indera, landasan enam indera mengkondisikan kontak, kontak mengkondisikan perasaan, perasaan mengkondisikan keinginan, keinginan mengkondisikan kemelekatan (upada), kemelekatan mengkondisikan 'perwujudan' (bhava), 'perwujudan' mengkondisikan kelahiran, kelahiran mengkondisikan usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan, kesedihan dan putus asa: itu adalah bagaimana sebab dari penderitaan"
19. "Demikianlah dikatakan, kelahiran mengkondisikan usia tua dan kematian. Apakah ini benar atau tidak, atau dalam hal ini bagaimana pendapat kamu sekalian?"
"Bhante, kelahiran mengkondisikan usia tua dan kematian; dalam hal ini, kami berpendapat 'kelahiran mengkondisi-kan usia tua dan kematian"
.......perwujudan' mengkondisikan kelahiran…..
……kemelkatan mengkondisikan perwujudan…
……keinginan' mengkondisikan kemelekatan
........perasaan mengkondisikan keinginan…..
........kontak mengkondisikan perasaan
.........landasan enam indera mengkondisikan kontak
.........batin jasmani mengkondisikan landasan enam indera ... "
........kesadaran mengkondisikan batin j asmani
.....…bentuk-bentuk karma mengkondisikan kesadaran
........kebodohan mengkondisikan bentuk-bentuk karma
Apakah ini benar atau tidak, atau dalam hal ini bagaimana pendapat "Dengan lenyapnya kontak maka perasaan lenyap" kamu sekalian?"
"Bhante, kebodohan mengkondisikan bentuk-bentuk karma dalam hal ini kami berpendapat ‘kebodohan mengkondisikan bentuk-bentuk karma”
20-- "Bagus, para bhikkhu. Kamu sekalian berkata begitu, Saya juga berkata sama dengan kamu, yaitu itu ada, bila ini ada, itu muncul karena ini muncul, atau dengan kata lain kebodohan mengkondisikan bentuk-bntuk karma, bentuk-bentuk karma mengkondisikan kesadaran, kesadaran … kelahiran mengkondisikan usia tua dan kematian, kesedihan, ratap tangis, kesakitan duka dan putus asa; itu adalah bagaimana sebab penderitaan.
21—23 Dengan memudarnya dan berhentinya sisa-sia kebodohan maka bentuk-bentuk karma lenyap,dengan lenyapnya bentuk-bentuk karma maka kesadaran lenyap, dengan lenyapnya bentuk-bentuk karma maka kesadaran lenyap, dengan lenyapnya kesadaran maka batin jasmani lenyap, dengan lenyapnya batin jasmani maka lenyapnya landasan enam indera, dengan lenyapnya batin jasmani maka lenyap landasan enam indera, dengan lenyapnya landasan enam indera maka kontak lenyap, dengan lenyapnya landansan enam indera maka kontak lenyap, danan lenyapnya kontak maka perasaan lenyap, dengan lenyapnya perasaan maka keinginan lenyap, dengan lenyapnya keinginan maka kemelekatan lenyap, dengan lenyapnya kemelekatan maka perwujudan lenyap, dengan lenyapnya perwujudan maka kelahiran lenyap, dengan lenyapnya kelahiran maka usia tua dan kematian lenyap, juga kesedihan ratap tangis, kesakitan, duka dan putus asa; itu adalah bagaimana semua penderitaan lenyap.
22.. Dengan lenyapnya kelahiran maka usia tua dan kematian lenyap, begitu dikatakan. Apakah itu benar atau tidak, bagaimana hal ini terjadi?
“Bhante, dengan lenyapnya kelahiran maka usia tua dan kematian lenyap begitu saja jadinya, dalam hal ini “Dengan lenyapnya kelahiran maka usia tua dan kematian lenyap.
“Dengan lenyapnya perwujudan maka kelahiran lenyap”
“Dengan lenyapnya kemelekatan maka perwujudan lenyap”
“Dengan lenyapnya perasaan maka kemelatan lenyap”
“Dengan lenyapnya perasaan maka keinginan lenyap”
“Dengan lenyapnya kontak maka perasaan lenyap”
“Dengan lenyapnya landasan em indera maka kontak lenyap”
“Dengan lenyapnya batin jasmani maka landasan enam indera lenyap”
“Dengan lenyapnya kesadaran maka batin jasmani lenyap”
“Dengan lenyapnya bentuk-bentuk karma maka kesadaran lenyap”
“dengan lenyapnya kebodohan maka bentuk-bentuk karma lenyap”
Begitu dikatakan, Apakah benar atau tidak, bagaimana hal ini terjadi.
“Bhante, dengan lenyapnya kebodohan maka bentuk-bentuk karma lenyap, begitulah jadinya,d alam hal ini dengan lenyapnya kebodohan maka bentuk-bentuk karma lenyap.”
23— “Baik, para bhikkhu. Kamu sekalian mengatakan begitu,saya juga mengatakan itu benar, karena ini tidak benar; itu lenyap dengan lenyapnya ini, yakni dengan lenyapnya kebodohan maka bentuk-bentuk karma lenyap, dengan lenyapnya kebodohan maka bentuk-bentuk karma lenyap, dengan lenyapnya bentuk-bentuk karma maka kesadaran lenyap… dengan lenyapnya kelahiran maka usia tua dan kematian lenyap, juga kesedian, ratap tangis, kesakitan, duka dan putus asa, itulah bagaimana semua penderitaan lenyap.
24. Para bhikkhu, setelah mengetahui dan melihat hal ini, akankah kamu lenyapnya kelahiran maka usia tua dan kematian lenyap, juga kesedihan, sekalian lari kembali kemasa lainpau dengan berkata 'Adakah pada waktu yang lampau? Apakah kami ada di waktu yang lampau? Apakah kami ini pada waktu yan' ana kami ini diwaktu yang lampau? Jadi apakah kami ini diwaktu yang lampau?'
"Tidak, bhante"
"Setelah mengetahui dan melihat hal ini, apakah kainu sekalian lari ke depan ke masa yang akan datang dengan berkata 'Akan adakah kita dimasa datang? Akan tidak adakah kita di masa datang? Akan j adi apakah kita dimasa datang? Akan jadi apakah kita dimasa datang?'
"Tidak, bhante"
"Setelah mengetahui dan melihat hal ini kamu sekalian akan ragu-ragu tentang keadaan kamu sekarang dengan berkata 'Adakah saya? Tidak adakah saya? Apakah saya? Bagaimanakah saya? Dari manakah makhluk ini datang? Kemana makhluk ini akan pergi?"
"tidak, bhante"
25. "Para bhikkhu, setelah mengetahui dan melihat hal ini, apakah kamu akan berkata 'Guru kami hormati, kami bicara (sama dengan perbuatan) karena menghorinati Guru?'
"Tidak bhante?'
Mengetahui dan melihat hal ini apakah kainu akan berkata "Seorang bhikkhu mengatakan kepada kami, bhikhu-bhikkhu yang lainnya berkata begitu juga, tetapi kami tidak berkata begitu!"
"Tidak, bhante"
Mengetahui dan melihat hal ini, apakah kainu akan memberitahukan yang lain?'
"Tidak, bhante"
"Mengetahui dan melihat hal ini, apakah kamu sekalian akan kembali pada pekerjaan-pekerjaan para petapa dan brahmana biasa, kepada pertanda-pertanda baik yang dapat menyebabkan kericuhan.
"Tidak, bhante"
"Apakah kamu berbicara hanya tentang apa yang kamu sendiri ketahui, lihat dan alami?"
"Ya, bhante".
26. "Bagus, para bhikkhu. Dengan demikian kamu telah dibimbing olehku dengan Dhamma yang nyata pada kehidupan setelah beberapa waktu kemudian, mengundang untuk dibuktikan, maju terus dan dapat dialami sendiri oleh setiap orang bijaksana.
Karena berdasarkan pada hil ini maka telah dikatakan: 'Para bhikkhu, inilah dhamma yang nyata pada kehidupan sekarang disini. bukan setelah heberapa waktu kemudian, mengundang untuk dibuktikan, maju terus dan dapat dialami sendiri oleh setiap orang bijaksana' "
27. "Para bhikkhu, embrio (dalamkandungan) terjadi karena penggabungan tiga hal, yaitu: adanya pertemua-n aya ibu, tetapi ibu tidak ada makhluk yang siap teriahir (kembali), dalam hal ini tidak ada pembuahan dalam kandungan; ada pertemuan ayah dan ibu, ibu dalam keadaan masa subur, tetapi tidak ada makluk yang siap untuk terlahir (kembali), dalam hal ini tidak ada pembuahan dalam kandungan; tetapi ada pertemuan ayah dan ibu, ibu dalam keadaan masa subur dan ada makhluk yang siap terlahir (kembali), maka tedadi pembuahan karena pertemuan tiga hal itu.
28. Ibu mengandung selama sembilan atau sepuluh bulan dengan penuh beban kecemasan. Selanjutnya pada akhir sembilan atau sepuluh bulan dengan penuh beban kecemasan ibu melahirkan anaknya. Ketika bayi telah lahir, ia memeliharanya dengan darahnya sendiri; karena dalam vinaya ariya, susu ibu disebut sebagai 'darah'.
29. Karena kebutuhan untuk pertumbuhan maupun kebutuhan untuk pematangan indera-inderanya, anak itu bermain Permainan anak-anak (ghatikam), seperti boneka bajak, pemukul kayu pendek dengan kayu panjang bedumpalitan, boneka kincir angin kereta, pengukur, busur dan anak panah.
30. Karena kebutuhan untuk pertumbuhan maupun kebutuhan untuk Pematangan indera-inderanya, anak reniaia itu dilengkapi dan diliputi dengan lima macam keinginan indera dan menikmatinya, Yaitu mata mengainati bentuk-bentuk Gasmani) yang diinginkan, disukai, sesuai, menyenangkan, berhubungan dengan keinginan indera dan membangkitkan nafsu; telinga mendengar suara-suara Yang diinginkan, disukai, hidung membaui bau-bau yang diinginkan; lidah mengecap rasa yang diinginkan tubuh merasakan sentuhan yang diinginkan dan membangkitkan nafsu.
31. Setelah melihat bentuk-bentuk dengan mata ia bergairah kalau hal itumenyenangkan; ia kesal kalau hal itu tidak menyenangkan; ia berada dalam keadaan perhatian tubuh (kayasati) tidak terbina dan pikiran terbatas (parittacetasa) tanpa mengerti bagaimana mencapai kesucian (cetovimutti) dan kesucian kebijaksanaan (pannavimutti) sehingga semua akusala dhamma yang jahat lenyap tanpa sisa. Sibuk karena iamelayani yang disukai dan tidak disukai, ketika ia merasakan suatu rasa yang menyenangkan, menyedihkan atau bukan menyenangkan maupun bukan menyedihkan, ia menyukai perasaan itu, mantap dengan itu dan melekat padanya. Ketika ia berbuat begitu, rasa suka muncul padanya. Sesungguhnya menyukai salah satu dari perasaan-perasaan itu adalahkemelekatan. Kemelekatan mengkondisikan 'perwujudan' (bhava), perwujudan mengkondisikan kelahiran, kelahiran mengkondisikan usiatua dan kematian, jika kesedihan, ratap tangis, kesaldtan, duka dan putus asa. Itulah, bagaiman semua penderitaan ini.
Karena mendengar suara dengan telinga
Karena mencium bau dengan hidung
Karena mengecap rasa dengan lidah
Karena menyentuh sentuhan dengan tubuh
Karena mengetahui obyek pikiran (dhamma) dengan pikiran ia bergairah kalau hal itu menyenangkan, ia kesal kalau hal itu tidak menyenangkan; ia berada dalam keadaan perhatian tubuh (kayasati) tak terbina dan pikiran terbatas (parittacetasa) tanpa mengerti bagaimana mencapai kesucian batin (cetovimutti) dan kesucian kebijaksanaan (pannavimutti) sehingga semua akusala dhamma yangjahat lenyap tanpa sisa. Sibuk karena ia melayani yang disukai dan tidak disukai, ketika ia merasakan suatu rasa yang menyenangkan, menyedihkan atau bukan menyenangkan maupun bukan menyedihkan, ia menyukai perasaan itu, mantap dengan itu dan melekat padanya. Ketika ia berbuat begitu, rasa suka muncul padanya. Sesungguhnya menyukai salah satu dari perasaan-perasaan itu adalah kemelekatan. Kemelekatan mengkondisikan perwujudan' (bhava), perwujudan mengkondisikan kelahiran,kelahiran mengkondisikan usia tua dan kematian, juga kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka dan putus asa. Itulah bagaimana asal mula semua penderitaan ini".
32-33 "Para bhikkhu sekarang Tathagata muncul didunia Arahat Samma Sambuddha (lihat Culahatthipadopama Sutta 13-21) ia mensucikan pikirannya dari keragu-raguan (vicikiccha)".
34-37 "Setelah melenyapkan lima rintangan (nivarana), kotoran-kotoran batin yang melemahkan pengertian,jauh dari keinginan nafsu,jauh dari akusala dhamma, ia mencapai dan berada dalam Jhana I (seperti dalam Bhayabherava Sutta 23-26) Jhana II Jhana III Jhana IV data telah mensucikan batinnya karena keseimbangan batin".
"Setelah melihat bentuk-bentuk dengan mata, ia tidak bergairah kalau hal itu menyenangkan; ia tidak kesal kalau hal itu tidak menyenangkan; ia berada dalam perhatian tubuh (kayasati) yang terbina dan pikiran berpengertian yang tak terbatas bagaimana mencapai kesucian batin (cetovimutti) dan kesucian kebijaksanaan (pannavimutti) sehingga semua akusala dhamma yang jahat lenyap tanpa sisa. Setelah meninggalkan yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, ketika ia merasa suatu perasaan yang apakah menyenangkan, menyedihkan atau bukan menyenangkan maupun bukan menyedihkan, ia tidak menyukai perasaan itu tidak mantap dengan itu dan tidak melekat padanya. Ketika ia berbuat begitu rasa suka pada perasaan-perasaan itu lenyap. Dengan lenyapnya rasa suka maka kemelekatan lenyap; dengan lenyapnya kemelekatan maka 'perwujudan' lenyap dengan lenyapnya perwujudan maka kelahiran lenyap; dengan lenyapnya kelahiran maka usia tua dan kematian lenyap, juga kesedihan, ratap tangis, kesakitan, duka dan putus asa. Itulah bagaimana semua pendeitaan lenyap.
Karena mendengar suara dengan telinga
Karena mencium bau dengan hidung
Karena mengecap rasa dengan lidah
Karena menyentuh sentuhan dengan tubuh
Karena mengetahui objek pikiran (dhamma) dengan pikiran
Itulah bagaimana semua penderitaan lenyap.
39-- "Para bhikkhu, ingatlah kesucian karena pelenyapan total dari keinginan (tanhasankhayavimutti) yang saya uraikan ini. Tetapi bhikkhu Sati Kevattaputta telah terperangkap dalam jaring nafsu yang besar dan terkungkung oleh nafsu.
Inilah yang dikatakan oleh Sang Tathagata. Para bhikkhu sangat puas dan senang terhadap kata-kata dari Sang Bhagava".

CULATANHASANKHAYASUTTA

Demikian telah saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang tinggal dekat Savatthi di bagian Timur vihara di dalam istana dari ibu Migara. Kemudian, Sakka, tuhan dari pada deva, mendekati Sang Buddha; setelah mendatanginya, setelah menghormat Sang Buddha, ia berdiri di suatu jarak yang pantas, Sakka, Tuhan dari para deva, berbicara demikian ke pada Sang Buddha:
"Secara singkat, Yang Mulia, hingga sampai ke batas mana seorang bhikkhu dibebaskan oleh penghancuran dari nafsu, dipenuhi secara total, menjadi aman secara total dari ikatan-ikatan, seorang kelana brahmana sepenuhnya, komplit sepenuhnya seperti titik kul¬minasi ini, yang terbaik di atas para deva dan manusia.
"Apabila seperti hal ini, Tuhan dari para deva, seorang bhikkhu datang untuk mendengarkan: 'Adalah tidak cocok bahwasa¬nya di sana harus terdapat kecenderungan terhadap sesuatu kondisi-kondsi. Apabila Tuhan pada deva, seorang bhikkhu datang mendengar ini, bahwa 'Adalah tidak cocok bahwasanya di sana harus terdapat kecenderungan terhadap sesuatu kondisi-kondisi, 'Maka ia tahu semua kondisi-kondisi dengan seksama; dengan mengetahui semua kondisi-kondisi secara secara seksama, ia tahu semua kondisi-kondisi secara akurat; dengan mengetahui semua kondisi-kondisi secara akurat, perasaan apapun yang ia rasakan, baik menyenangkan maupun menyakitkan atau yang bukan menyenangkan maupun pula bukan menyakitkan, ia mematuhi menggambarkan atau menghayati ketidak kekalan, ia mematuhi menghayati tidak adanya nafsu, ia mematuhi menghayati penghentian-penghentian, apabila ia sedang memasuki untuk mematuhi penghayatan-penghayatan terhadap pelenyapan-pelenyapan yang berkenaan dengan perasaan ini, ia akan menagkap kehampaan di dunia ini; dengan tidak menangkap itu maka ia tidaklah disusuhkan maka dirinya sendiri individu akan mencapai nibbana, dan ia memahaminya: 'Dihancurkan adalah kelahiran, didekatkan adalah kelana Brahma, dikerjakan adalah apa yang harus dilakukan, tiada adalagi yang akan menjadi ini dan itu.' Secara ringkas, adalah sampai kepada dibebaskan oleh penghancuran dari nafsu, dipenuhi secara total, mutlak hingga sampai pada titik kulminasi, terbaik dari para deva, dan manusia." Kemudian Sakka, tahun dari para deva, setelah menyukuri, dan menyukai tentang apa yang diucapkan oleh Sang Buddha, setelah memberikan terima kasihya, setelah menghormat sang buddha, menhilanglah ia dari tempat itu dengan selalu diri Sang Buddha di sisi sebelah kanannya.
Kebetulan pada waktu itu yang mulia Moggallana yang besar sedang duduk-duduk di dekat Sang Buddha. Kemudian terjadilah kepada yang Mulia Mogallana yang besar: "Apakah Yakkha, ketika ia berterima kasih kepada Sang Buddha untuk kata-kata wejangan itu, menangkap serta memahaminya atau tidak? Seandai aku harus meny¬elidiki apakah Yakkha, ketika ia berterima kasih kepada Sang Buddha atas kata-kata tersebut, menangkap serta memahaminya atau tidak ? Kemudian yang Mulia Mogallana yang besar, sebagai orang kuat yang merentangkan tangan-tangannya yang terlipat atau yang melipat kembali tangan-tangannya yang telah direntangnya itu, kemudian menghilang dari istana dari ibu Migara di vihara bagian Timur, muncul di antara para deva dari tigapuluh tiga.
Pada waktu itu Sakkha, Tuhan dari para deva, dilengkapi serta disediakan dengan lima ratus alat-alat musik dewata sedang menghibur diri sendiri di dalam semak belukar kesenangan yang bernama satu lotus.
Sekha, Tuhan dari pada deva, melihat yang mulia Moggalla¬na yang besar, mendatangi dari kejauhan; melihat dirinya, ia meng¬hentikan kelimaratus alat-alat musik dewata itu, ia mendekati yang mulia Moggallana yang besar; setelah mendekatinya, ia berbicara demikian kepada yang mulia Moggallana yang besar: "Marilah, Moggalana ku yang baik silahkan datang, Moggallana ku yang baik; akhirnya, Moggallana ku yang baik, kamu mengambil kesempatan untuk datang ke mari; duduklah, Moggalana yang baik, tempat duduk ini telah ditunjuk bagimu. "Yang Mulia Moggallana yang besar, duduklah pada tepat duduk yang telah ditunjuk itu. Sakkha, tuhan dari para deva setelah duduk di tempat duduk yang lebih rendah duduk dengan jarak yang terhormat.
Yang mulia Moggalana Besar berbicara demikian kepada Sakka, tuhan dari para deva, ketika ia duduk pada jarak yang terhor¬mat:
"Berkenaan dengan pembicaraan yang dilakukan oleh Sang Buddha secara singkat kepada-Mu, Kosiya, mengenai kebebasan oleh penghancuran dari nafsu, adalah baik sekalipun untukku mendengar sebagian dari pembicaraan itu."
"Aku, Moggallana-ku yang baik, sedang sangat sibuk, ada banyak hal akan aku lakukan; kedua-duanya baik untuk diriku aa banyak hal-hal yang harus dikerjakan, dan juga masih banyak hal-hal yang harus dikerjakan, dan juga hal-hal yang harus dikerjakan untuk para deva dari Tigapuluh-Tiga. Lebih lanjut, Moggallana ku yang baik, ia pembicaraan sudah di dengar sepantasnya, sehingga dengan demikian ia tidak dapat lenyap dengan cepat nya. Pada suatu ketika, Moggallana-ku yang baik, suatu pertempuran itu, Moggallanaku yang baik, para deva menguasai, para setan dikalahkan. Sehingga aku, Moggallana ku yang baik, para deva menguasai, para setan dikalah¬kan. Sehingga aku, Moggalana yang baik, setelah memenangkan pertempuran itu dan mendatangkan kemenangan di dalam pertempuran itu, ketika aku kembali dari medan laga, membangun sebuah istana yang dinamakan Vejayanta. Sekarang, Moggalana masing-masing menara terdapatlah tujuh buah rumah bertingkat ber¬sisi tiga, di dalam masing-masing rumah bertingkat bersisi tiga terda¬plah tujuh putri-putri kayangan dan bagi setiap putri kayangan terda¬patlah tujuh orang dayang. Apakah kamu, Moggallana ku yang baik, ingin melihat kesenangan dari Istana Vejayanta itu?" Moggallana yang besar menyetujui ajakan itu dengan berdiam diri saja.
Kemudian Sakka, tuhan dari para deva, dan raja besar dari Vessavana, setelah menempatkan yang mulia Moggalana yang besar di depan mereka, mendekatilah mereka ke Istana Vejayanta itu. Para dayang dari Sakka, tuhan dari para deva, melihat yang mulia Moggal¬lana yang besar datang dari jauh; setelah melihat beliau,menjadi mengkerut dan malu, masing-masing masuk ke dalam kamar dalam¬nya sendiri. Seperti anak menantu perempuan mengkerut dan malu ketika melihat ayah mertuanya, demikian juga para dayang putri dari Sakkh, tuhan dari para deva, ketika melihat yang mulia Moggalllana yang besar, menjadi mengkerut dan malu, masing-masing masuk ke dalam kamar dalam-nya sendiri. Kemudian Sakka, tuhan dari para deva, dan Vessavana, raja besar, menyilahkan yang mulia Moggalana yang besar mengikuti mereka masuk ke dalam Istana Vejayanta dan menjelajahi dalam-nya, dan berkata: "Moggallana-ku yang baik, lihat¬lah kesenangan dari Istana Vejayanta ini." "Ia bersinar memancar sebagai suatu perbuatan jasa yang dahulunya diperbuat oleh yang mulia Kosiya, dan orang-orang yang melihat segala sesuatunya menyenangkan itu berbicara demikian: "Ternyata ia bersinar meman¬car dari para deva dari Tigapuluh Tiga, dengan kata lain, ia bersinar terang memancar sebagai suatu perbuatan jasa yang dahulunya diper¬buat oleh yang mulia Kosiya."
Kemudian terjadilah pada yang mulia Moggalana yang Besar: "Yakka ini hidup terlalu santai. Seandai aku akan mengagitasi yakkha ini?" Kemudian yang mulia Moggallana yang Besar mengerjakan suatu pekerjaan kekuatan psygis sedemikian sehingga dengan tumit beliau yang besar membuat Istana Vejayanta itu bergetar, bergoyang dan bergerak-gerak. (254) Kemudian pikiran dari Sakka, tuhan dari para deva, dan dari raja besa Vessavana dan dari para deva Tigapu¬luh-Tiga semuanya menjadi Takjub dan terpesona, dan mereka berka¬ta: "Ternyata, kekuatan psygis besar, kedigjayaan besar dari seorang petapa adalah mengagumkan, ia adalah ternyata hebat sekali, sebab dengan tumit-nya yang besar beliau membuat tempat tinggal deva ini bergetar, bergoyang dan bergerak-gerak." Kemudian yang mulia Moggallana yang besar tahu bahwa Sakka, Tuhan dari pada deva, telah teragitasi dan takjub, berbicara demikian kepada Sakka, Tuhan dari para deva: "Berkenaan dengan pembicaraan dari Sang Buddha yang ditujukkan kepadamu secara singkat, Kosiya, tentang kebebasan dengan penghancuran dari nafsu, adalah baik sekalipun bagi diriku untuk mendengar bagian-bagian dari pembicaraan itu."
"Jika soal itu aku, Moggalana-ku yang baik, mendatangi Sang Buddha; sesudah mendatangi, sesudah memberi hormat kepada Beliau, aku berdiri pada jarak yang hormat. Ketika aku sedang berdiri pada suatu jarak yang hormat, Moggallana-ku yang baik, aku berbica¬ra demikian kepada Sang Buddha: 'Secara singkat, Yang Mulia, hingga sampai batas mana seorang bhikkhu terbebaskan dengan penghancuran dari nafsu itu, dipenuhi secara total, aman secara total dari ikatan-ikatan, kelana-Brahma yang komplit, komplit sesuai dengan titik tertinggi-nya (kulminasi), yang terbaik dari para deva dan manusia?' Apabila hal ini telah dikatakan, Moggalana-ku yang baik, sang Buddha berbicara demikian kepadaku: "Apabila soal ini, tuhan dari pra deva, seorang bhikkhu datang untuk mendengar: Adalah tidak cocok atau tidak pantas bahwa di sana harus ada kecenderungan terhadap sesuatu (psygo-phisik) kondisi-kondisi .... Secara singkat, adalah hingga batas ini, tuhan dari para deva, bahwa seorang bhikkhu sampai kepada dibebaskan ole penghancuran dari nafsu, secara total dipenuhi, secara total aman dari ikatan-ikatan, suatu kelana-brahmana total, total hingga sampai pada titik kulminasinya, terbaik dari para deva dan manusia.' Demikian, Moggallana-ku yang baik, demikianlah Sang Buddha bicara kepadaku secara singkat tentang kebebasan dengan penghancuran nafsu."
Kemudian yang mulia Moggalana yang Besar, setelah mensyukuri apa yang dikatakan oleh Sakk, tuhan dari pra deva, (255) setelah memberikan rasa terima kasih, seperti seorang kuat dapat membentankan kedua belah tangan-nya yang terlipat atau membeng¬kokan kembali kedua tangan-nya yang telah direntangkan-nya itu, kemudian menghilang sekejap dari kerumunan para deva dari Tigapu¬luh-Tiga, beliau menjadi jelas (manifest) di dalam istana Migara milik ibunya di Vihara sebelah Timur. Kemudian segera sesudah yang mulia Moggallana yang Besar meninggalkan tempat itu, dayang-dayang permpuan dari Sakka, tuhan dari para deva, berbicara demiki¬an kepada Sakka, tuhan dari para deva:
"Tuan yang baik, apakah tuan ini bukankah gurumu?"
"Perempuan-perempuan yang baik, tuan ini adalah bukan guruku, ia adalah teman kelana brahma dariku, yang mulia Moggalla¬na yang Besar." : Adalah suatu keuntungan bagimu, tuan yang baik, bahwa teman kelana-Brahma milikmu ini memiliki potensi kekuatan psygis yang besar, memiliki keagungan yang demikian besar; sudah pasti tuan ini adalh gurumu."
Kemudian yang mulia Moggallana yang Besar datang mende¬kati Sang Buddha; setelah mendekati Beliau, setelah memberi hormat Beliau, ia duduk di tempat yang cukup terhormat. Ketika ia sudah duduk di suatu tempat yang jaraknya cukup hormat, yang mulia Moggallana yang besar demikian kepada Sang Buddha.
"Yang Mulia, apakah Tuanku tahu bahwasanya ia baru saja berbicara secara singkat tentang kebebasan oleh penghancuran dari nafsu kepada yakkha yang sangat perkasa itu?"
"Aku tahu, Moggallana, bahwa Sakka, tuhan dari para deva, telah mendatangi Diriku di sini; setelah mendekati, setelah menghor¬mat pada-Ku, ia berdiri pada jarak yang cukup hormat. Ketika ia sedang berdiri para jarak yang cukup hormat, Sakka, tuhan dari para deva, berbicara demikian kepada-ku, Moggallana." Secara singkat, Tuanku, hingga sampai batas mana seorang bhikkhu sampai kepada pembebasan oleh penghancuran dari nafsu, terpenuhi secara total, aman secara total dari ikatan-ikatan, seorang kelana-Brahma mutlak, mutlak hingga sampai pada titik kulminasinya, terbaik dari para deva dan manusia?' Ketika ini telah diucapkan, Aku Moggallana, berbicara demikian kepada Sakka, tuhan dari para deva: 'Apabila mengenai ini, tuhan para deva, seorang bhikkhu datang untuk mendengar: Adalah tidak pantas bahwasanya di sana harus ada kecenderungan terhadap sesuatu (psycho-phisical) kondisi-kondisi. Apabila, tuhan para deva, seorang bhikkhu datang untuk mendengar ini, yakni, "bahwasanya adalah tidak pantas jika di sana harus ada kecenderungan terhadap sesuatu (psycho-phisik) kondisi-kondisi, "Ia tahu tentang semua kondisi secara seksama; dengan mengetahui kondisi-kondisi secara seksama, ia tahu akan kondisi-kondisi secara akurat; dengan mengeta¬hui semua kondisi-kondisi secara akurat, apapun perasaan yang ia rasakan, menyenangkan atau menyakitkan atau bukan menyakitkan maupun pula bukan menyenangkan, ia mendalami untuk mengamati keadaan tidak kekekalan, ia mendalami untuk mengamati keadaan tiada adanya nafsu, ia mendalami memandangi penghentian-penghentian, ia mendalami untuk mengamati penghentian berkenaan perasaan-perasaan tersebut. Ketika ia sedangmendalami mengabati ketidak kekalan ... tiada ada nafsu ... penghentian, apabula ia sedang mendalami mengamati penghentian-penghentian yang berkenaan dengan perasaan-perasaan tersebut, (maka) ia menangkap kehampaan di dunia ini; dengan tidak menangkap ia tidak disusahkan; tidak disu¬sahkan ia secara pribadi telah mencapai nibbana, dan ia menjadi mengerti: "Dihancurkanlah kelahiran, dibawa mendekat kepada kelan-Brahma (256), dikerjakan adalah apa yang harus dikerjakan, sudah tidaka da lagi untuk menjadi yang begini dan begitu." Secara singkat,adalah sampai batas ini, tuhan dari para deva, bahwa seorang bhikkhu sampai dbebaskan oleh destruksi dari nafsu, dipenuhi secara total, sepenuhnya aman dari ikatan-ikatan, seorant kelana-Brahma, komplit seperti pada titik kulminasinya, terbaik bagi para deva dan manusia.' Aku, Moggalana, tahu bahwa aku bicara demikian secara ringkas tentang kebebasan dengan penghancuran dari nafsu kepada Sakka, Tuhan dari para deva."
Demikian kata Sang Buddha. Menjadi senang, yang mulia Moggallana Besar mensukuri tentang apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha itu.

MARASACCAKA SUTTA

1 Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang menginap di Kutagarasala, Mahavana, Vesali.
2. Ketika hari masih pagi, setelah Sang Bhagava selesai berpakaian dan mengambil patta sertajubah luar (civara), beliau akan pergi ke Vesali untuk pindapata.
3. Pada saat itu Saccaka Niganthaputta sedang cankamana (berjalan mondar-mandir melakukan latihan), ia pergi ke Kutagarasala, Mahavana. Bhikkhu Ananda melihat dia datang dari jauh.
Ketika beliau melihatnya, beliau berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, Saccaka Niganthaputta sedang ke sini, ia adalah seorang pedebat, seorang pembicara yang pandai dan dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci. Ia ingin mencela Sang Buddha. Dhamma dan Sangha. Lebih baik apabila yang Bhagava mau duduk sebentar demi kasih sayang".
Sang Bhagava duduk di tempat duduk yang ada.
Kemudian Saccaka Niganthaputta pergi menemui beliau, saling memberikan salam, setelah kata-kata pembuka yang penuh hormat serta lemah lembut itu dilakukan, ia duduk ditempat duduk yang tersedia. Setelah duduk ia berkata Sang Bhagava:
4. 'Guru Gotama, ada beberapa petapa dan brahmana yang melibatkan diri untuk mengajar praktik pengembangan jasmani tanpa mengembangkan pikiran. Mereka itu tersentuh oleh perasaan sakit jasmani menjadi lumpuh dipaha atau jantung meledak atau darah panas menyembur keluar dari mulutnya atau ia menjadi gila, hilang kesadarannya. Begitulah karena pikiran tunduk pada jasmaninya dan membiarkan jasmani menguasainya.
Mengapa?
“Sebab pikiran tidak dikembangkan”.
Tetapi ada pula beberapa petapa dan brahmana yang terlibat dalam mengejar mengembangkan pikiran tanpa mengembangkan jasmani.
Mereka itu tersentuh oleh perasaan sakit dari mentalnya, juga menjadi lumpuh pada pahanya atau jantungnya meledak, darah segar menyembur keluar dari mulutnya atau ia menjadi gila, hilang kesadarannya. Begitulah karena jasmani tunduk pada pikiran, membiarkan pikiran menguasainya.
Mengapa?
“Sebab jasmani itu tidak dikembangkan”.
Guru Gotama, saya berpendapat bahwa sudah pasti siswa-siswa Guru Gotama adalah mengutamakan mengembangkan pikiran tanpa mengembangkan jasmani?.
5-- "Aggivessana, tetapi bagaimana cara mengembangkan jasmani kamu pelajari?"
"Ada contohnya, yaitu: Nanda Vaccha, Kisa Sankicca, Makkhali Gosala. Mereka itu berjalan dengan telanjang, mereka menolak kaidah-kaidah peraturan, menjilati tangan-tangan mereka, tidak mau memenuhi undangan, tidak berhenti apabila diminta, mereka tidak apapun yang dibawa (kepadanya), atau sesuatu yang khusus dibuat (untuk dirinya), atau suatu undangan: mereka tidak akan menerima segala sesuatu yang dikeluarkan dari panci, dari mangkok, melewati daun pintu, melewati tongkat, melewati alu (alat penumbuk), dari dua orang makan bersama, dari seorang wanita dengan anak, dari wanita menyusui, dari (dimana) seorang wanita sedang merebahkan diri dengan seorang laki-laki, dari makanan yang telah diumumkan untuk dibagibagikan, dari tempat dimana seekor anjing sedang menunggu, darimana lalat-lalat sedang beterbangan: mereka tidak menerima ikan atau daging, mereka tidak minum anggur, arak atau minuman yang diragikan. Mereka menerima makanan hanya dari satu rumah untuk sesuap nasi: mereka menerima makanan hanya dari dua rumah untuk dua suap nasi .... tujuh rumah untuk tujuh suap nasi. Mereka hidup hanya dengan sepiring, dengan dua piring ... tujuh piring sehari. Mereka hanya makan satu kali sehari, satu kali dalam dua hari .... satu kaii dalam tujuh hari; dan sedemikian selanjutnya hingga satu kali dalam empat belas hari, mereka berkelana mengabdikan diri kepada praktik semacam itu tentang mengambil makanan pada waktu-waktu yang telah dikemukakan itu".
6-- "Aggivessana, tetapi apakah mereka itu., selalu hidup atas dasar hal itu?"
“Tidak, Guru Gotama, kadang-kadang mereka mengunyah makanan keras yang baik, makanan-makanan baik yang lembut, mencicipi cemilan-cemilan enak, minum-minuman enak. Dengan itu mereka mendapat kekuatan, pertumbuhan dan lemak”.
Agivessana, apa yang dahulu mereka tinggalkan, mereka mengumpulkannya kembali. Itulah mengapa terdapat pengumpulan dan pembuangan dari badan ini. Sekarang bagaimana pengembangan pikiran yang telah kamu pelajari?'. Ketika Saccaka Niganthaputta ditanya oleh Sang Bhagava tentang pengembangan pikiran, ia tidak dapat menjawabnya.
7. Kemudian Sang Bhagava berkata kepadanya: "Aggivessana, apa yang baru saja kamu bicarakan sebagai pengembangan jasmani, adalah bukan pengembangan jasmani sesuai dengan Dhamma dan Vinaya Ariya. Sedangkan pengembangan jasmani kamu tidak tahu, apalagi tentang pengembangan pikiran itu! Namun demikian, dengarkan bagaimana seseorang tidak mengembangkan jasmani dan tidak mengembangkan pikiran, juga bagaimana ia mengembangkan jasmani dan pikiran, perhatikan baik-baik apa yang akan saya katakan".
"Baiklah. Bhante," jawab Saccaka Niganthaputta. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:
"Bagaimana seseorang tidak mengembangkan jasmani serta tidak mengembangkan pikiran? Aggivessana, dalam hal ini perasaan menyenangkan timbul dalam di dalam diri seorang awam Yang tidak diajar sebagaimana orang-orang biasa pada umumnya itu, ia bernafsu terhadap perasaan disentuh oleh Pcrasaan menyenangkan. Menyenangkan tersebut, ia tetap saja bernafsu terhadap perasaan menyenangkan itu. Perasaan menyenangkan itu berhenti, dengan berhentinya perasaan menyenangkan itu maka timbullah perasaan menyakitkan (dikemudian hari). Disentuh oleh perasaan menyakitkan itu maka ia berduka, sedih, meratapi, memukul-mukul dadanya, ia menangis dan meniadi Putus asa. Ketika perasaan menyenangkan itu timbul padanya, perasaan itu masuk dalam pikiran dan tinggal disana karena badan jasmaninya tidak dikembangkan. Dalam hal ini, setiap yang dalam cara atau gaya ganda ini, perasaan menyenangkan timbul dan masuk dalam pikiran serta tinggal di sana karena badan jasmani itu tidak dikembangkan; perasaan menyakitkan timbul dan masuk dalam pikiran serta tinggal di sana sebab pikiran itu tidak dikembangkan. Beginilah jasmani yang tidak dikembangkan dan pikiran yang tidak dikembangkan.
9-- Bagaimana sescorang mengembangkan jasmani dan pikiran? menyenangkan timbul pada ariya Aggivessana, dalam hal ini perasaan savaka yang terpelajar dengan baiknya. Disentuh oleh perasaan menyenangkan itu, ia tidak bernafsu terhadap perasaan menyenangkan itu, ia tidak tetap mempertahankan nafsunya terhadap perasaan menyenangkan itu. Perasaan menyenangkannya itu berhenti. Karena perasaan menyenangkan berhenti, maka timbullah perasaan menyakitkan, ia tidak berduka, tidak bersedih atau meratapinya, ia tidak memukuli dirinya, tidak menangis dan tidak putus asa. Ketika perasaan menyenangkan itu timbul Padanya, perasaan menyenangkan itu tidak masuk dalam pikiran dan tidak tetap tinggal di sana sebab badan jasmaninya telah dikembangkan. Ketika perasaan menyakitkan itu timbul padanya, perasaan menyakitkan tidak masuk dalam pikiran dan ganda ini, perasaan menyenangkan telah dikembangkan. Dalain hal ini, timbul tidak masuk dalain pikiran dan tidak tinggal di sana sebab badan jasmani telah dikembangkan, dan perasaan menyakitkan timbul dan tidak masuk dalam pikiran Saya serta tinggal di sana".
10-- Saya mempunyai kepercayaan kepada Guru Gotama demikian: "Beliau telah mengembangkan jasmani dan pikiran".
"Aggivessana, sudah tentu kata-kata yang telah kamu ucapkan itu adalah pernyataan pribadi. Namun begitu Saya akan menjawabmu. Sejak aku mencukur rwnbut dan jenggot, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa, maka tidak mungkin perasaan menyenangkan muncul dan masuk dalam pikiran yang telah dikembangkan.
Apakah barangkali tidak pemah timbul di dalam diri Guru Gotama suatu perasaan begitu menyenangkan yang dapat masuk dalam pikiran serta tetap tinggal di sana? Apakah tidak pernah timbul di dalam diri Guru Gotama suatu perasaan yang begitu menyakitkan sehingga masuk dalain pikiran dan tetap tinggal di sana?"
"Aggivessana, mengapa tidak? Sekarang, sebelum aku mencapai Penerangan Sempuma, ketika aku masih sebagai Bodhisatva yang belum mencapai penerangan sempuma itu, saya berpikir: "Hidup berumah tangga itu adalah tidak leluasa dan merupakan tempat yang kotor; hidup itu berjalan terus menerus tak henti. Adalah tidak mungkin sementara masih hidup berumah tangga dan menjalani hidup suci yang sempurna dan mumi seperti kerang yang digosok. Seandai aku mencukur rambut dan jenggotku, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa?"
13-16-- Selanjutnya, ketika masih muda, sebagai seorang anak laki laki dengan rambut hitam kelam, yang diliputi keremajaan, pada phase pertama dari kehidupan ... walaupun ayah dan ibu ... (dan seterusnya seperti di dalam M.26 para. 14-17 hingga) ... di sana terdapat sebidang tanah yang cocok, ada tainan yang menyenangkan, ada sungai jernih yang mengalir dengan tepinya yang bagus dan didekatnya ada dusun sebagai tempat pindapata. Semua ini menyediakan sarana usaha bagi orang yang mau berusaha. Saya duduk di sana dan berpikir: "Ini akan menjadi sarana untuk usaha".
17-- "Sekarang, tiga perumpamaan muncul padaku secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalnya, ada sepotong kayu basah, lapuk terletak di dalam air, dan seseorang datang dengan membawa kayu-api, sambil berpikir: 'aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas. 'Bagaimana pendapatmu Aggivessana, apakah orang itu akan (dapat) menyalakan api dan menghasilkan panas dengan membenamkan kayu-api yang ia bawa itu dan digosokgosokan pada kayu lapuk basah tersebut, yakni kayu yang terletak di dalam air itu?"
"Tidak, Guru Gotama. Mengapa? sebab kayu itu basah, lapuk dan disamping itu pula, terletak di dalam air. Oleh karena itu orang tersebut akan memetik hasil kelelahan serta kekecewaan".
"Demikianlah. Aggivessana, sementara seorang petapa dan brahmana yang hidup dengan jasmani dan mental mereka belum menghindar dari keinginan indera, juga sementara nafsu-nafsunya, cinta kasih, kasih sayang, haus dan demam terhadap kesenangan indera belum ditinggalkannya dengan tuntas, makajikalau petapa maupun brahmana merasakan sakit. Tersiksa, perasaan yang menusuk, ia tidak mampu mendapat pengetahuan (nana), pandangan (dassana) dan penerangan sempuma itu. Sama pulajikalau seorang petapa maupun brahmana yang baik merasakan rasa sakit, tersiksa maupun rasa sakit hingga menusuk yang disebabkan oleh usahanya, ia tidak mampu mendapatkan pengetahuan dan penglihatan dan penerangan sempuma. Ini adalah persamaan pertama yang terjadi padaku, belum pernah mendengar sebelumnya.
18-- Begitu pula, umpamanya ada sepotong kayu yang basah dan lapuk tergeletak diatas tanah keringjauh dari air dan seseorang datang dengan membawa tongkat kayu-api, dan berpikir: "aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas. 'Aggivessana, bagaimana pendapatmu, apakah orang itu akan dapat menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosok-gosokkan kayu-api itu pada sebatang kay' u yang basah serta lapuk itu. Walaupun kayu terletak di tanah kering j auh dari air?" "Tidak Guru Gotama. Mengapa? Sebab kayu itu basah, lapuk, walaupun terletak di tanah kering yang jauh dari air. Olch karena itu orang tersebut akan memetik hasil yang melelahkan dan mengecewakan".
"Aggivessana, demikianlah sementara seorang petapa dan brahmana masih saja hidup hanya meninggalkan pemuasan nafsu inderajasmaniah; sedangkan nafsu-nafsunya, cinta kasih, nafsu kerasnya, haus dan demam untuk keinginan-keinginan indera tidak sepenuhnya ditinggalkan serta ditenangkan di dalam dirinya, sekalipun jikalau seorang petapa dan brahmana merasakan sakit, tersiksa dan tertusuk oleh perasaan-perasaan yang disebabkan oleh usaha kerasnya itu, ia tidak akan mampu mendapat pengetahuan, pandangan dan penerangan sempurna.
Demikian pula jikalau petapa maupun brahmana yang baik tidak merasakan sakit, tersiksa, perasaan-perasaan yang menusuk yang disebabkan karena keinginan atau usaha kerasnya itu, ia tidak akan mampu mendapat pengetahuan, pandangan dan penerangan sempuma. Ini adalah perumpamaan kedua yang muncul pada- Ku secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya.
19-- Sekali lagi, umpainanya ada sepotong kayu yang tidak bergetah atau yang kering terletak diatas tanah yang kering jauh dari air, Ialu ada orang datang dengan sepotong kayu-api, sambil berpikir: "Aku akan menyalakan api, aku akan membuat panas".
Aggivessana, bagaimana pendapatmu: 'Apakah orang itu akan bisa menyalakan api itu pada sebatang kayu kering, tanpa getah yang terletak di atas tanah keringjauh dari air'.
"Ya, Guru Gotaina. Mengapa? Sebab kayu itu adalah kering, tanpa getah disamping itu, kayu itu tergeletak di atas tanah kering jauh dari air!"
"Aggivessana, demikianlah sementara seorang petapa dan brahmana yang baik dengan jasmani serta mentalnya meninggalkan keinginankeinginannya, kasih sayangnya, nafsunya, haus dan demam untuk keinginan-keinginan indera telah sama sekali ditinggalkan dan ditenangkan dalam dirinya, kemudian, sekalipun jika kalau seorang petapa maupun brahmhna merasakan rasa sakit, rasa menyiksa, rasa menusuk disebabkan karena keinginan atau usaha-usahanya itu, ia mampu mendapat pengetahuan, pandangan dan penerangan sempurna agung. Sekalipun apabila scorang pendeta baik atau orang suci tidak merasakan rasa menyakitkan, rasa menyiksa, rasa yang menusuk-nusuk disebabkan karena usahanya itu, ia m'ainpu mendapat pengetahuan, pandangan dan penerangan sempurna. Inilah tiga perumpainaan yang terjadi padaku secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya".
20-- Aku berpikir: "Seandainya dengan gigi-gigiku tertutup rapat dan lidahku ditekan kuat-kuat pada langit-langit mulut, aku mengalahkan, memaksa dan menghancurkan pikiran dengan pikiran?" Oleh karena itu, dengan gigi tertutup rapat dan lidah tertekan pada langit-langit mulut, aku mengalahkan, memaksa dan menghancurkan pikiran dengan pik.iran. Sementara aku ' berbuat demikian, keringat mengalir dari ketiakku. Sama seperti halnya seorang kuat akan menangkap orang yang lebih lemah pada kepalanya atau pada pundaknya dan mengalahkannya, memaksa serta menghancurkannya; demikian juga, sementara gigi-gigiku tertutup rapat dan lidah ku tertekan pada langit-langit mulut, aku mengalahkan, memaksa dan menghancurkan, pikiran dengan pikiran, keringat mengalir dari ketiakku. Tetapi walaupun semangat yang tiada habis-habisnya itu telah timbul dalam diriku dan kesadaran yang tidak dapat dibatalkan kembali telah dibentuk, namun tubuhku telah dipaksakan dan tidak tenang, saya kelelahan disebabkan aku oleh usaha yang menyakitkan itu. Tetapi perasaan menyakitkan yang tedadi pada diriku seperti itu, tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana".
21-- Aku berpikir: "Seandainya aku melatih meditasi tanpa bemafas?" Maka saya menghentikan nafas masuk dan nafas keluar dari mulut dan hidungku. Sementara aku berbuat demikian, terjadilah suara yang amat keras oleh angin yang datang dari lubang-lubang telingaku. Sama seperti adanya suara keras dari teriakan seseorang, demikianjuga halnya, ketika 25. aku menghentikan nafas masuk dan nafas kcluar dari mulut dan dari hidungku, tedadilah suara keras dari angin yang datang dari lubang telingaku. Tetapi walaupun semangat yang tiada habis-habisnya telah timbul di dalam diriku perasaan menyaldtkan tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana.
22-- Aku berpikir: "Seandainya aku mempraktikkan lebih lanjut meditasi tanpa bemafas?" Oich karena itu aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar dari mulut dan dari hidungku serta telingaku. Sementara aku berbuat demikian, angin mengganggu kepalaku. Sama seperti halnya ada orang kuat sedang membelah kepalaku pecah dengan pedang tajam, demikian juga, ketika aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar di dalam mulutku, hidung dan telinga, angin dahsyat mengganggu kepalaku. Tetapi walaupun semangat yang tanpa habis-habisnya telah timbul di dalam diriku perasaan menyakitkan tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana. Aku berpikir: "Seandainya lebih lanjut saya mempraktikkan meditasi tanpa bemafas?" Oleh sebab itu aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar di dalam mulutku, hidung dan telinga. Sementara aku berbuat demikian,tedadilah rasa sakit nan dahsyat di dalain kepalaku. Sama seperti halnya seseorang yang kuat sedang mengikat erat-erat ikat pinggang kulit dikepalaku, demikianjuga ketika aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar di dalam mulutku, hidung dan telinga, terjadi rasa sakit yang luar biasa dalam kepalaku itu. Tetapi walaupun semangat yang tanpa habis-habisnya telah timbul didalain diriku perasaan menyakitkan tidak masuk dalam pikiran dan tidak tinggal di sana.
Aku berpikir: "Seandainya aku melatih meditasi lebih lanjut tanpa bemafas?" Oleh karetia itu aku berhenti menarik dan mengeluarkan nafas di dalain mulutku, hidung dan telinga. Sementara saya berbuat demikian, angin dahsyat mengukir-ukir di dalain perutku. Tepat seperti seorang panjagal pandai atau anak buahn ya mengores-gores isi perut lembu tajam dengan pisau tajam, demiikian juga, ketika aku berhenti menarik dan mengeluarkan nafas di dalam mulut, hidung dan telinga, angin dahsyat menyayat-nyayat perutku. Tetapi walaupun energi yang tiada habis-habisnya itu di bangkitkan di dalam diriku .... perasaan menyakitkan tidak menjajah pikiranku dan tinggal di sana dewa melihat diriku, mereka berkata: "Samana Gotama telah mati". Dewa-dewa lain berkata: "Samana Gotaina tidak mati, ia hainpir mati". Para dewa yang lain berkata: "Sainana Gotama itu tidak mati dan bukan dalain keadaan mau mati; ia seorang Arahat. inilah c;ara para Arahat".
26-- Aku berpikir: "Seandainya aku sama sekali tidak makan?" Kemudian datanglah para dewa kepadaku dan berkata: "Saudara yang baik, janganlah tidak makan sama sekali.
Apabila kamu berbuat demikian, kita akan memasukkan makanan surgawi melalui pori-porimu dan kamu akan hidup atas makanan surgawi itu". Aku berpikir: "Jika aku memaksa untuk berpuasa total dan para dewa ini memasukkan makanan surgawi melalui pori-poriku dan saya hidup atas dasar itu, maka aku akan berbohong". Maka saya menolak para dewa itu: "Tidak perlu".
27. Aku berpikir: "Seandainya aku hanya makan sedikit saja, katakanlah, setiap kali satu kepal, apakah makan itu adalah sop kacang atau sop miju-miju atau sop kacang-kacangan dan lain-lain. Ketika aku berbuat demikian, badanku menjadi kurus kering luar biasa. Disebabkan karena makan begitu sedikitnya tulang-tulangku menjadi semacam sambungan dari batang tumbuh-tumbuhan atau seperti sambungan bambu-bambu. Disebabkan karena makan begitu sedikit punggungku menjadi melengkung bagaikan pungguk onta. Disebabkan karena makan begitu sedikit sehingga penampilan dari tulang-tulang belakangku mirip dengan manik-manik yang diikat dengan tali. Disebabkan makan begitu sedikit tulang-tulang igaku menonjol keluar bagaikan kayu kaso dari sebuah gudang yang tidak mempunyai atap. Disebabkan karena makan begitu sedikit cahaya dari sinar mataku tenggelam jauh ke bawah masuk ke dalamkelopaknya seperti pancaran air yang tenggelain jauh ke dalam sumur yang amat dalam. Disebabkan karena makan begitu sedikit kulit kepalaku mengkerut dan layu bagaikan buah labu hijau yang mengkerut dan layu terkena angin dan matahari. Disebabkan makan begitu sedikitnya, apabila aku menyentuh kulit perutku, aku dapat menyentuh tulang belakangku akujuga menyentuh kulit perutku. Disebabkan makan begitu sedikitnya, apabila aku membuang air kecil atau air besar, aku jatuh terjungkal di atas mukaku di sana. Disebabkan makan begitu sedikitnya, apabila aku mencoba untuk mengusap tubuhku tercabut sampai keakar-akamya, berjatuhan dari tubuhku ketika saya mengusap.
28. Pada waktu itu apabila orang-orang melihat diriku seperti itu, mereka berkata: "Samana Gotama adalah seorang hitam". Orang -orang lain berkata: "Samana Gotama adalah bukan orang hitam, ia adalah orang coklat". Orang lain pula berkata: "Samana Gotama adalah bukan orang hitam maupun pula bukan orang coklat, tetapi ia adalah orang kulit cerah". Begitu banyaknya warna kulitku yang biasanya terang, cerah menjadi rusak tidak karuan karena makan begitu sedikitnya. Aku berpikir: "Apabila seorang petapa atau brahmana merasakan rasa sakit, bergetar, menu@uk dikarenakan keinginan kerasnya, rasa itu dapat menyamai keadaanku ini tetapi tidak dapat melampauinya. Kapanpun seorang peta'pa atau brahmana pada waktu yang akan datang akan merasakan sakit, bergetar dan perasaan menusuk yang amat tajam disebabkan keinginan-keinginan kerasnya. Keadaan itu dapat menyamai perasaanku itu tapi bukan melebihinya. Kapanpun seorang petapa atau brahmana pada waktu sekarang merasakan sakit, bergetar atau perasaan yang menusuk disebabkan karena keinginan kerasnya, keadaan sakit itu bisa menyamai perasaanku itu namun tidak melebihinya. Tetapi dengan melaksanakan hal yang amat menyakitkan ini saya mencapai tingkat yang tidak beda dengan keadaan manusia biasa yang belum mencapai p engetahuan dan pandangan ariya. Apakah masih ada jalan lain untuk pencapaian penerangan sempurna?.
'Aku berpikir: "Ketika ayahku Sakya sedang sibuk, ketika aku sedang duduk di bawah rindangnya pohon apel-jingga Gambuddhaya), jauh dari pemuasan nafsu indera, jauh dari akusala dhamma, saya memiliki pengetahuan mencapai dan berada dalam Jhana I dengan memiliki vitakka, vicara, piti yang dihasilkan oleh ketenangan. Apakah jalan ini mencapai penerangan sempurna? "Kemudian, ingatan berikut muncul dan mengenal: "Inilah jalan pencapaian Penerangan Sempurna".
Aku berpikir: "Mengapa aku takut pada kesenangan? Itu adalah kesenangan yang tidak ada hubungannya dengan keinginan-keinginan indera-indera dan akusala dhamma. Aku berpikir: "Saya tidak takut terhadap kesenangan-kesenangan itu, karena kesenangan-kesenangan itu tidak ada hubungannya dengan keinginan-keinginan indera dan akusala dhamma. Aku berpikir: "Adalah tidak mungkin niencapai kesenangan semacam itu dengan badan yang sangat kurus. Seandainya aku makan sedikit makanan padat sedikit nasi dan roti? Saya makan sedikit makanan padat - sedikit nasi dan roti, tetapi pada waktu itu ada lima bhikkhu yang sedang menemani saya, sambil berpikir: "Apabila Samana Gotama mencapai suatu kemajuan ia akan memberitahukan kepada kita". Segera setelah aku makan nasi dan roti, kelima bhikkhu menjadi muak dan meninggalkan aku (sambil berpikir): "Samana Gotama telah berbalik menjadi memuaskan diri sendiri, ia telah meninggalkan usaha dan hidup mewah".
33. Ketika saya telah makan makanan padat dan menemukan kembali kekuatanku, karena jauh dari pemuasan nafsu indera dan akusala dhanuna saya mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai oleh vitakka, vicara dan piti yang muncul karena ketenangan. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul adalah tidak masuk ke dalain pikiranku dan tinggal di sana.
34. Dengan vitakka dan vicara lenyap, saya mencapai dan berada dalam Jhana II ....
35-- Dengan piti lenyap Jhana III Tetapi perasaan menye-nangkan yang muncul itu tidak masuk ke dalam pikiranku dan tidak tinggal di sana.
36. Dengan melenyapkan kebahagiaan (sukha) dan ketidak senangan (dhultkha), saya mencapai dan berada dalam Jhana IV. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul itu tidak masuk, ke dalam pikiranku dan tidak tinggal di sana.
37. Ketika pikiranku yang terkonsentrasi menjadi murni, jemih, tanpa cacat, ketidak sempurnaan lenyap, menjadi tak tertundukkan, kuat, mantap, mencapai keadaan yang tidak dapat diganggu, saya mengarahkan pikiranku kepada pengetahuan mengingat kehidupan pada masa yang lampau (pubbenivasanussatinana) .... (seperti dalam M.4.27) jadi dengan rinci dan khusus saya mengingat banyaknya kehidupanku pada masa yang lampau itu.
38. Ini adalah pengetahuan benar pertama bagiku yang saya capai pada masa pertama di malam hari. Kebodohan telah dimusnahkan dan pengetahuan sejati timbul; kegelapan telah dilenyapkan dan cahaya terang timbul; seperti (yang tedadi) pada orang yang menyenangkan yang muncul itu tidak masuk dalain pikiranku dan tidak tinggal di sana.
39. Ketika pikiranku yang terkonsentrasi menjadi mumi, jemih ... saya mengarahkan pikiranku kepada meninggal dan terlahir kembali makhluk-makhluk .... (seperti di dalam M.4.29) .... jadi dengan mata dewa (dibba cakkhu), yang telah dimurnikan dan melampaui kemampuan mata manusia biasa. Saya melihat bagaimana makhlukmakhluk itu mati sesuai dengan kamma-kamma mereka.
40. Ini adalah pengetahuan benar kedua yang telah saya capai pada masa kedua di malam hari. Kebodohan telah dilenyapkan dan timbullah pengetahuan sejati; kegelapan telah dilenyapkan dan terang telah timbul; seperti yang terjadi pada diri orang yang rajin, tekun dan menguasai diri sendiri. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul itu tidak masuk dalam pikiranku dan tidak tinggal di sana.
41-42. Ketika pikiranku yang terkonsentrasi menjadi murni, jemih saya mengarahkan pikiranku kepada pengetahuan pemusnahan kekotoran batin noda-noda (asavakkayanana). Saya mempunyai abhinna (pengetahuan batin) 'apa adanya' tentang: "Inilah dukkha seperti dalam M.4.31-32 Tidak ada lagi kehidupan berikut yang akan muncul".
43. Ini adalah pengetahuan benar ketiga yang telah saya capai pada masa ketiga di malam hari. Kebodohan telah dilenyapkan dan kebenaran sejati timbul; kegelapan telah dilenyapkan cahaya terang timbul; seperti tedadi pada diri orang yang rajin, tekun dan menguasai diri sendiri. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul itu tidak masuk dalain pikiran dan tidak tinggal di sana.
44. Saya mempunyai pengetahuan langsung untuk mengajarkan Dhamma kepada sekumpulan orang yang terdiri dari beberapa ratus orang. Barangkali seseorang atau orang lain telah membayangkan: "Samana Gotama sedang mengajarkan Dhamma kepadaku". Tetapi hal itu harap jangan menganggap bahwa Tathagata mengajarkan Dhamma kepada orang-grang hanya untuk memberikan pengetahuan kepada mercka., Ketika pembicaraan telah selesai, maka selapjutnya saya memusatkan pikiranku ke dalam diriku sendiri, menenangkannya, memusatkannya pada obyek yang s,ama seperti pada pemusatan pikiran yang Ialu, yang selalu saya hayati. Itu dapat dipercaya (sebagai suatu pemyataan) dari Samana Gotama karena ia adalah Arahat Samana Sambuddha. Tetapi barangkali Samana Gotama mempunyai abhinna tentang tidur di siang hari?
45. "Aggivessana, di akhir bulan pada musim panas setelah kembali dari pindapata dan setelah makan, saya mempunyai pengetahuan melipat jubah (sanghati) saya empat kali, membaringkan tubuh pada sisi kanan, tertidur dengan penuh perhatian dan sadar".
"Beberapa petapa dan brahmana menamakan itu sebagai cara orang bodoh, Guru Gotama".
46. "Itu adalah bukan bagaimana seseorang bodoh atau tidak bodoh , ditipu. Dengarkan dengan penuh perhatian apa yang akan saya katakan tentang bagaimana seseorang itu bodoh atau tidak bodoh. "Baiklah". jawab Saccaka Niganthaputta. Selanjutnya Sang Bhagava berkata:
47. "Ia saya sebut bodoh karena dirinya dikotori noda-noda batin, menghasilkan kelahiran baru, menyebabkan kesusahan, matang dalam penderitaan, mengarah pada kelahiran diwaktu yang akan datang, menjadi tua dan kematian adalah tidak dapat dihindari; di karenakan tidak adanya penghindaran dari noda-noda, itulah yang dinamakan orang bodoh. Ia saya namakan tidak bodoh, karena dirinya tidak dikotori oleh noda-noda batin yang menyebabkan kelahiran baru, menyebabkan kesusahan, matang dalam penderitaan, mengarah pada kelahiran diwaktu yang akan datang, menjadi tua dan mati, telah ditinggalkan; dikarenakan dengan meninggalkan noda-noda batin, maka seseorang itu adalah tidak bodoh. Dalam diri Tathagata, noda-noda semacam itu yang menyebabkan kelahiran baru, seperti memberikan kesusahan, seperti menjadi matang di dalam penderitaan, mengarah pada kelahiran kembali diwaktu yang akan datang, menjadi tua dan kematian, telah ditinggalkan, dipotong pada akarnya, dibuat seperti batang pohon palem, dibuat sedemikian rupa sehingga naluri untuk tumbuh kembali diwaktu yang akan datang sudah tidak ada lagi. Sama seperti pohon palem yang ujungnya dipotong sehingga tidak bisa lagi tumbuh: demikianjuga dalam diri Tathagata noda-noda yang mengotori. Yang menyebabkan kelahiran baru, memberikan kesusahan, matang dalam penderitaan dan mengarah pada kelahiran yang akan datang, menjadi tua dan kematian, telah ditinggalkan, dipotong hingga akarnya, dibuat seperti batang pohon palem, dibuat sedemikian rupa sehingga kemampuan untuk tumbuh lagi adalah suatu tidak mungkin".
48. Ketika hal ini telah dikatakan, Saccaka Nigantaputta berkata: "Mengagumkan, Guru Gotama, bagus sekali, bagaimana, ketika Guru Gotama memiliki kata-kata pribadi yang ditujukan berkali-kali kepada dirinya sendiri, wama kulitnya menjadi cemerlang, dan wama kulit muka menjadi jelas, seperti (yang diharapkan) di dalam diri seorang Arahat Sainma Sambuddha. Aku telah memiliki pengalaman berdebat dengan Purana Kassapa, ia memutar balikkan pembicaraan, membiarkan pembicaraan menyimpang, menunjukkan amanah, benci dan kebengisan. Namun ketika Guru Gotama menyatakan kata-kata yang bersifat pribadi yang ditujukan berkali-kali kepada dirinya sendiri, wama kulit beliau menjadi cerah dan warna muka-Nya menjadi terang, seperti (yang diharapkan) di dalam diri seorang Arahat dan mencapai Penerangan Sempurna. Aku mempunyai pengalaman berdebat dengan Makkhali Gossala .... Ajita Kesakambali Kakuddha Kaccayana........ Sanjaya Belatthiputta....... Nigantha Nataputta, ia memutar balikkan pembicaraan, membiarkan pembicaraan beralih, dan menunjukkan amarah, kebencian dan kebengisan. Tetapi ketika Guru Gotama menyatakan kata-kata pribadi yang ditujukan berkali-kali ditujukan kepada diri-Nya sendiri, warna kulit beliau menjadi cerah dan warna kulit muka menjadi terang, seperti (yang diharapkan) di dalam diri seorang Arahat dan mencapai Penerangan Sempurna. Guru Gotama, sekarang kita berpisah; kami sangat sibuk dan banyak pekerjaan".
"Sekarang adalah waktunya untuk kamu melakukan pekerjaan yang cocok bagimu, Aggivessana".
"Saccaka Niganthaputta menjadi puas, dan sangat senang atas katakata Sang Bhagava, ia bangkit dari duduknya dan pergi".

CULASACCAKA SUTTA

Demikianlah yang saya dengar.
1-- Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Kutagarasala, Mahvana, Vesali.
2-- Pada saat itu Saccaka Niganthaputta sedang tinggal di Vesali, seorang pendebatan dan pembicara ulung, dianggap oleh kebanyakan orang sebagai orang suci. Ia mengucapkan kata-kata ini dihadapan suatu sidang di Vesali: 'Aku tidak melihat petapa maupun brahmana, kepala dari sebuah sangha, kepala dari suatu sekte, guru dari sebuah sekte, sekalipun apabila ia mengaku sebagai seorang Arahat dan mencapai Penerangan sempurna, yang tidak gemetar dan tergoyang serta menggigil dan berkeringat di bawah ketiak mereka apabila sedang terlibat dalam perdebatan dengan diriku. Bahkan apabila aku sedang terlibat dalam perdebatan tanpa arti, perdebatan itu akan menggetarkan, menggoncangkan serta menggigilkan mereka yang sedang terlibat dalam perdebatan dengan diriku. Oleh karena itu apa yang harus saya katakan tentang manusia itu .'
3-- Di pagi hari, Bhikku Assaji mengenakan jubah, mengambil patta dan jubah luar (civara), lalu beliau pergi ke Vesali untuk pindapata. Ketika Saccaka Niganthaputta sedang berjalan-jalan dan mondar-mandir melakukan latihan (cankamana) di Vesali, ia melihat bhikkhu Assaji mendatangi dikejauhan. Ketika ia melihatnya, ia pergi menghampiri Assaji dan sesudah penyambutan serta penghormatan dengannya, dan setelah ucapan-ucapan saling menghormat telah selesai dilakukan, ia berdiri di samping, kemudian Saccaka Niganthaputta berkata:
4-- "Bagaimana caranya Samana Gotama mendisiplinkan siswa siswa, Guru Assaji; dan dengan cara bagaimana biasanya Samana Gotama memberikan instruksi-instruksi kepada para siswanya itu?"
"Ini adalah bagaimana Sang Bhagava itu mendisiplinkan siswa-siswa Aggivessana; dan dengan cara demikian instruksi-instruksi dari Sang Bhagava itu biasanya disampaikan kepada para siswa: "Bhikkhu, bentuk itu adalah tidak kekal, pencerapan adalah tidak kekal; bhikkhu, bentuk itu adalah bukan pribadi, perasaan itu adalah bukan pribadi, bentukanbentukan adalah bukan pribadi, dhamma-dhamma itu adalah semua bukan pribadi. "Itu adalah cara bagaimana Sang Bhagava mendisiplinkan para siswa; itu adalah cara bagaimana instruksi-instruksi dari Sang Bhagava disampaikan kepada para siswa". 'Apabila ini adalah apa yang dikemukakan oleh Samana Gotarna, ternyata kita mendengar tentang apa yang salah. Sekarang, seandainya, pada suatu waktu atau waktu lain, kita dapat bertemu dengan Guru Gotama, seandai kita dapat mengadakan beberapa pembicaraan dengan beliau? Seandai kita dapat melenyapkan pandangan dari pada- Nya?'
5. Kebetulan pada waktu itu lima ratus penduduk dari Licchavi telah berkumpul bersama dalam suatu sidang di dalam ruangan, untuk suatu urusan lain. Kemudian, Saccaka Niganthaputta pergi menemui mereka dan berkata: "Marilah, tuan-tuan dari Licchavi, marilah. Hari ini akan diadakan pembicaraan antara saya dengan Samana Gotama. Apabila Samana Gotama tetap mempertahankan pendapat Beliau kepadaku seperti apa yang diucapkan oleh satu di antara murid-murid terkenal Beliau, yaitu bhikkhu yang bernama Assaji, maka dengan argumentasi aku akan menyeret Samana Gotama, menyeret kesana kemari dan menyeret kesekeliling, tepat seperti halnya seorang laki-laki perkasa menangkap lembu jantan pada rambutnya dan menyeretnya ke sana kemari, dan menyeret kesekelilingnya; demikian juga dengan perdebatan akan menyeret Samana Gotama, menyeret ke sana kemari, menyeret kesekeliling tepat seperti halnya seorang pekerja pada pembuat arak yang melemparkan saringan besar masuk kedalain tangki air yang dalain, dan sambil memegangnya di kedua sudutnya, menyeretnya kian kemari dan menyeretnya kesekeliling; maka dengan perdebatan aku akan mengguncang Samana Gotama ke bawah dan menggoncang-Nya naik serta menenggelamkannya, tepat seperti halnya pegawai pembuat arak yang kuat memegang tapisan di kedua sudutnya dan menggoncangnya kebawah dan ke atas. Tepat sepeti halnya wajah berumur enain puluh tahun mungkin akan turun masuk kedalam kolam dan membenamkan badannya di dalam lumpur sebagaimana mereka mandi dan berolah raga itu, demikian juga aku akan berolah raga besar, aku berangan-angan, dalam pertnainan memandikan Samana Gotama itu. Marilah, tuan-tuan dari Licchavi, marilah. Hari ini akan terjadi tukar pembicaraan antara diriku dengan Samana Gotama".
6. Oleh karena itu beberapa orang dari Licchavi berkata: 'Apakah sekarang Samana Gotama akan menyangkal pendapat dari Saccaka, anak lelaki dari Nigantha; atau apakah yang akan menyangkal pendapat dari Samana Gotama itu? 'Dan beberapa orang Licchavi berkata: 'Bagaimanakah Saccaka anak dari Nigantha akan menyangkal pendapat dari Sang Bhagava; sebaliknya, Sang Bhagava malah akan menyangkal pendapat dari Saccaka Niganthaputta'. Kemudian Saccaka Niganthaputta pergilah bersama-sama dengan lima ratus orang Licchavi ke Kutagarasala, MahaVana.
7. Pada saat itu beberapa bhikkhu sedang berjalan mondar-mandir di tempat terbuka. Kemudian Saccaka Niganthaputta pergi menghampiri mereka dan bertanya: "Dimanakah Guru Gotama sekarang berada, Kita ingin melihat Guru Gotama".
'Aggivessana, Sang Bhagava telah pergi ke Mahavana, beliau sedang duduk di bawah pohon untuk istirahat tengah hari.
8-- Kemudian Saccaka Niganthaputta pergi bersama-sarna dengan banyak pengikut dari kaum Licchavi menuju hutan besar ke tempat di mana Sang Bhagava berada dan saling memberikan salam penghormatan dengan beliau, dan setelah melakukan pembicaraan permulaan yang lemah lembut, ia duduklah pada satu sisi. Dan beberapa kaum Licchavi memberikan horinat kepada Sang Bhagava dan duduklah pada satu sisi; beberapa saling memberi salam, dan setelah semua pembicaraanpembicaraan permulaan serta lemah lembut itu selesai dilakukan, mereka duduklah di satu sisi; beberapa dari mereka menyebutkan nama-nama mereka serta suku-sukunya dihadapan Sang Bhagava dan duduklah di satu sisi; beberapa tinggal diam saja dan duduklah di satu sisi.
9-- Ketika Saccaka Niganthaputta telah duduk, ia berkata kepada Sang Bhagava: 'saya ingin menanyakan kep'ada Guru Gotama tentang suatu masalah, apabila Guru Gotama sudi memberikan jawaban atas pertanyaan itu kepadaku? 'Tanyakanlah tentang apa yang kau inginkan, Aggivessana'. 'Bagaimana cara Guru Gotama mendisiplinkan (membimbing para siswa; dan dalam cara bagaimanakah instruksi Guru Gotama itu biasanya diberikan di antara siswa?'.
'Ini adalah bagaimana cara aku mendisiplinkan siswa-siswa Aggivessana; dan ini adalah cara instruksi-instruksi saya biasanya disampaikan kepada para siswa: bentuk adalah tidak kekal, perasaan adalah tidak kekal, pencerapan adalah tidak kekal, bentuk-bentuk adalah bukan pribadi, dhamma-dhamma adalah semuanya bukan pribadi, adalah cara bagaimana aku mendisiplinkan siswa-siswa; dan itu adalah cara dalam mana instruksi biasanya disampaikan kepada para siswa'.
10-- 'Satu persamaan terjadi kepadaku, Guru Gotama'. 'Aggivessana, biarkanlah itu terjadi kepadamu, kata Sang Bhagava. 'Tepat seperti halnya bibit-bibit serta tanaman-tanaman, apapun jenisnya, telah mencapai tingkat pertumbuhan, semuanya itu tergantung pada tanah, didasarkan pada tanah; dan tempat seperti apabila jenis-jenis perbedaan harus dibedakan oleh yang kuat, semuanya itu dikerjakan bergantung pada tanah, berdasarkan atas tanah demikian juga, Guru Gotama., seseorang memiliki bentuk sebagai pribadi, ia menghasilkan jasa berdasarkan pencerapannya. Ia mempunyai bentuk-bentuk pikiran sebagai pribadi, ia membuat jasa atau menentang jasa adalah berdasarkan bentuk. Ia mempunyai perasaan sebagai pribadi, ia membuat atau tidak membuat jasa berdasarkan perasaan. Ia mempunyai daya pencapain sebagai pribadi, ia menghasilkan jasa berdasarkan pencerapannya, Ia mempunyai bentuk-bentuk Pikiran sebagai pribadi, ia menghasikan atau didasarkan atas bentuk-bentuk pikiran tidak menghasilkan jasa-jasa pribadi. Ia menghasilkan atau tidak itu. Ia memiliki kesadaran sebagai pribadi menghasilkan jasa-jasa berdasarkan atas kesadaran'.
11— “Aggivessana, apakah kamu tidak mengemukakan sebagai berikut: jasmani adalah diri pribadiku, perasaan adalah diri pribadi. Pencerapan adalah diri pribadi, bentuk-bentuk pikiran adalah diri pribadi, kesadaran adalah diri pribadi?
Demikianlah halnya pendapatkau. Guru Gotama: Bentuk adalah diri pribadiku, perasaan adalah diri pribdiku, bentuk-bentuk pikiran adalah diri pribadiku, kesadaran adalah diri pribadiku.
Dan demikian juga halnya adalah pendapat sebagian besar dari orang-orang itu’
‘Apakah hubungan keadaan yang besar itu denga dirimu, Aggivessana? Silahkan batasi saja hingga ke pendapatmu itu’. Kalau begitu Guru Gotama, pendapat saya adalah demikian bentuk adalah pribadiku, perasaan adalah pribadiku, pencerapan adalah pribadiku, bentuk-bentuk pikiran adalah pribadiku, kesadaran adalah pribadiku.
12-- 'Aggivessana, dalam hal ini. Saya akan mengajukan pertanyaan kepadamu sebagai giliran. Jawablah sebagaimana kamu sukai.
'Aggivessana, bagaimana kamu meyakini ini, apakah seorang raja mulia kesatria yang mempunyai kekuasaan di dalam tangannya sendiri untuk mengeksekusi hukuman kepada mereka Yang harus dihukum, mendenda mereka yang harus didenda, mengucilkan mereka yang harus dikucilkan, umpama saja , Raja Pasenadi dari Kosala, atau Raja Ajatasattu dari Maghada.
'Guru Gotama seorang raja mulia kesatria mempunyai kekuasaan untuk dihukum, mendenda melakukan hukuman terhadap mereka yang harus harus dikucilkan, mereka Yang harus didenda, mengucilkan mereka yang at ini serta seperti umpama. Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Aiatasattu Vedhiputta dari Magadha. Sebab sekalipun masyarak masyarakat seperti kaum vaji dan Malla, mereka mempunyai kekuasaan mereka sendiri untuk menghukum mereka yang harus dihukum, mendenda mereka yang harus didenda, mengucilkan atau memencilkan mereka yang harus dipencilkan. Oleh sebab itu makin banyak raja mulia kesatria seperti Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajasattu Vedhiputta dari Magadha. Ia akan meniilikinya. Guru Gotama, dan ia patut untuk memilikinya (kekuasaan itu)'.
13-- 'Bagaimana kamu menerima diakalmu hal ini Aggivessana: ketika kamu mengatakan demikian: jasmani adalah diri pribadiku, apakah kamu memiliki kekuasaan seperti itu terhadap jasmanimu seperti: "Biarkan jasmani seperti ini; biarkan jasmani tidak seperti itu?"
Ketika hal ini dikatakan. Saccaka Niganthaputta diain saja. Untuk kedua kalinya Sang Bhagava berkata kepadanya: 'Bagaimana kamu menerima diakalmu hal ini. Aggivessana, ketika mengatakan demikian: "Jasmani adalah diri pribadiku", apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan terhadap jasmanimu seperti: "Biarkan jasmaniku sebagai demikian; biarkan jasmani tidak seperti itu?".
Untuk kedua kalinya Saccaka Niganthaputta tetap berdiam saja. Kemudian Sang Bhagava berkata kepadanya: 'Aggivessana, jawablah sekarang. Sekarang adalah bukan waktunya lagi untuk berdiam. Apabila seseorang tidak menjawab ketika ditanya tentang Dhamma hingga sainpai ketiga kalinya oleh Sang Tathagata, kepalanya akan terbelah tujuh bagian pada waktu itu juga'.
14-- Pada saat itu dewa Vajirapani (dewa halilintar) dengan membawa vajra (vajira) di kepalanya, yang terbakar, menyala, bersinar-sinar muncul diangkasa di atas Saccaka Niganthaputta (sambil berpikir): 'Apabila Saccaka Niganthaputta ini tidak menjawab ketika ditanya menurut Dhamma hingga ketiga kalinya, aku akan membelah kepalanya menjadi tujuh bagian sekarang juga'. Sang Bhagava melihat dewa Vajirapani dengan perilakunya itu, juga Saccaka Niganthaputta. Ketika itu Saccaka Niganthaputta menjadi iakut, menjadi panik dan rambutnya berdiri, sambil mencari Sang Tathagata sebagai tempat berteduh, tempat suaka serta tempat berlindung, ia berkata: 'Tanyakanlah aku, Guru Gotama, aku akan menjawab'.
15. 'Aggivessana, bagaimana pendapatmu, ketika kamu berkata: "Jasmani adalah pribadiku", apakah kamu mempunyai kekuasaan terhadap j asmani, sehingga umpamanya kainu dapat memerintahkan: "Biarkanlah jasmaniku menjadi seperti ini, semogajasmaniku tidak menjadi seperti itu?". "Tidak. Guru Gotama".
16. 'Perhatikanlah. Aggivessana, perhatikan bila menjawab. Apa yang kamu katakan sebelumnya tidaklah sama dengan apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang kamu katakan sesudah itu adalah tidak sama dengan sebelumnya. Bagaimana kamu menerimanya dengan akalmu tentang hal ini. Aggivessana, ketika kamu mengatakan demikian: "Perasaan adalah pribadiku".
Apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan terhadap perasaan itu seperti: "Biarkanlah perasaanku menjadi demikian; biarkanlah perasaanku tidak menjadi demikian?". "Tidak, Guru Gotama".
17. Perhatikanlah,Aggivessana,perhatikanterhadap apa yang kamu jawab. Apa yang kamu katakan sebelumnya tidaklah sama dengan apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang kamu katakan sesudahnya tidaklah sama dengan yang sebelumnya. Bagaimana kamu menanggapi dengan akalmu hal ini, Aggivessana, apabila kamu mengatakan "Pencerapan adalah pribadiku", apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan terhadap pencerapanmu sehingga kamu dapat mengatakan: "Biarkan pencerapanku menjadi demikian; biarkan pencerapanku tidak menjadi demikian?". "Tidak, Guru Gotama".
18. 'Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan terhadap apa yang kau jawab itu. Apa yang kamu katakan sebelumnya tidaklah sama dengan apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang dikatakan sesudahnya tidaklah sama dengan sebelumnya. Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu, Aggivessana. Ketika kamu mengatakan demikian: "Bentuk-bentuk Pikiran adalah pribadiku", apakah kamu mempunyai semacam: kekuasaan terhadap bentuk-bentuk pikiran itu sehingga dapatberkata: "Biarkan bentuk-bentuk Pikiranku menjadi demikian: biarkanlah bentuk-bentuk pikiranku tidak menjadi demikian?". "Tidak, Guru Gotama".
19. 'Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan tentang apa yang kamu jawab. Apa yang kamu katakan sebelumnya adalah tidak sarna dengan apa yang kamu katakan sesudahnya, atau apa yang kaniu katakan sesudahnya adalah tidak sama dengan yang sebelumnya Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu, Aggivessana, ketika kamu mengatakan "Kesadaran adalah pribadiku", apakah kamu mempunyai semacam kekuasaan terhadap kesadaran itu sehingga dapat berkata: "Biarkanlah kesadaranku menjadi demikian; biarkanlah kesadaranku tidak menjadi demikian!?". "Tidak, Guru Gotama".
20. 'Perhatikanlah, Aggivessana, perhatikan terhadap bagaimana kamu menjawabnya. Apa yang kamu katakan sebelumnya adalah tidak sarna dengan yang kamu katakan sesudahnya; atau apa yang dikatakan sesudahnya tidak sama dengan sebelumnya. Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu, Aggivessana,apakah jasmani itu kekal atau tidak kekal?".
'Tidak kekal, Guru Gotama'.
'Sekarang, apa yang tidak kekal itu tidak menyenangkan, atau menyenangkan?'.
'Tidak menyenangkan, Guru Gotama 'Sekarang, apa yang tidak kekal, tidak menyenangkan dan patut terkena hukuman perubahan, cocok untuk dianggap sebagai: "Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah pribadiku?'
"Tidak, Guru Gotama".
21-- 'Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu hal Aggivessana, apakah perasaan itu kekal atau tidak kekal?
22-- 'Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu hal ini. Aggivessana, apakah bentuk pikiran itu kekal atau tidak kekal?'
23. 'Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu. Aggivessana, hal ini apakah pencerapan itu kekal atau tidak kekal?'
24. 'Bagaimana kamu menanggapinya dengan akalmu. Aggivessana, hal ini, apakah kesadaran itu kekal atau tidak kekal?'
'Tidak, Guru Gotama'.
'Sekarang, apa yang tidak kekal, tidak menyenangkan dan patut terkena hukum perubahan, cocok untuk disebut sebagai: "Ini adalah kepunyaanku, ini adalah aku, ini adalah diri pribadiku?"
"Tidak, Guru Gotama'.
25. "Bagaimana kamu menanggapi dengan akalmu hal ini. Aggivessana, apabila seseorang melekat pada penderitaan, memberikan tempat pada penderitaan, menerima penderitaan, selalu memandang penderitaan "Ini adalah milikku, ini adalah aku, ini adalah diriku pribadi". Apakah ia sendiri pemah sepenuhnya mengerti penderitaan atau selalu berpandangan dengan penderitaan dapat melenyapkannya?.
'Mengapa harus ia, Guru Gotama? Tidak, Guru Gotama'.
Bagaimana kamu menanggapi dengan akalmu hal ini. Aggivessana, demikian, kau tidak melekat pada bahwa dengan menjadikannya penderitaan, kamu tidak selalu memandang pendertiaan sebagai: "Ini kepunyaanku, ini adalah aku, ini adalah diri pribadiku?".
'Mengapa tidak,'Guru Gotama? Ya, Guru Gotama'.
26. 'Hal ini adalah bagaikan seseorang memerlukan kaku/keras hati mencari kayu hati, berkelana mencari kayu hati, mengambil kapak tajwn dan pergiiah ke dalam hutan; dan di sana ia melihat batang pohon tunggal, lurus, muda, tanpa ada pucuk buah. Kemudian ia memotong akarnya, ia memotong mahkotanya, dan setelah memotong mahkotanya ia membuka gulungan pelepah daun; tetapi ketika ia sedang membuka gulungan pelepah daun itu ia tidak pemah sampai kepada sesuatu getah kayu, belum lagi kayu kerasnya. Demikian juga Aggivessana, ketika pendapatmu sendiri kamu ditekan dan ditanya kembali olehku tentang itu, kamu adalah kosong, lowong dan dalam keadaan salah. Tetapi kata-katamu itu diucapkan dihadapan sidang ini: "Aku tidak melihat Samana atau orang suci, kepala Sangha. Kepala Sekte, Guru dari suatu suku, sekalipun apabila ia mengatakan bahwa dirinya adalah Arahat dan ber Penerangan Sempurna, tidak bakal bergetar dan bergoncang serta berkeringat diketiaknya apabila terlibat dalam perdebatan dengan aku. Sekalipun apabila aku terlibat dalam perdebatan yang tidak bermakna, ia akan bergetar, gemetar dan beegoncang, oleh karena itu apa yang akan aku katakan tentang makhluk hidup itu?". Sekarang terdapatlah butiran-butiran keringat itu telah membasahi sekujur jubah atasmu dan menetes ke tanah, tetapi sekarang tidak terdapat keringat pada tubuhku’. Sang Bhagava membuka tutup dari tubuh Beliau yang berwarna kuning kemas-emasan di hadapan para sidang. Ketika hal ini telah dikatakan, Saccakka Nighantaputta diam saja, penuh cemas, dengan pundaknya menurun ke bawah sedangkan kepalanya tunduk, bermuram durja serta tidak dapat mengatakan apa-apa.
27. Kemudian Dummukha Licchaviputta, karena melihat Niganthaputta menjadi demikian keadaannya, ia berkata kepada Sang Bhagava demikian: 'Satu persamaan terjadi padaku,
Guru Gotaina'.
'Terjadi kepadamu, Dummukha'.
'Bhante, seandainya tidak jauh dari desa atau kota terdapatlah sebuah kolam yang berisi kepiting didalaminya, Kemudian banyak anak laki-laki serta perempuan pergi dari kota atau desa menuju ke kolam itu, mereka masuk ke dalam kolam serta mengambil kepiting-kepiting itu dan meletakkan mereka di tanah. Apabila kepiting itu merenggangkan kakinya, mereka memotong kaki itu, memutusnya, menghancurkannya dengan tongkat dan batu-batu, sedemikian sehingga mereka tidak dapat kembali lagi ke kolam. Begitu pula halnya, semua penyimpangan Saccaka Niganthaputta, paradox-paradox? lawan azas, dan ejekan-ejekan telah diputus, dihancurkan serta dipotong oleh Sang Bbagava, sekarang ia tidak dapat lagi mendekati Sang Bhagava, sebagai tujuan dari kata-katanya'.
28. Ketika hal itu diucapkan, Saccaka Niganthaputta berkata kepadanya: 'Tunggu, Dummukkha, tunggu. Kami tidak berurusan dengan kamu, di sini kami berurusan dengan Guru Gotama'. (kemudian ia berkata): 'Biarkanlah pembicaraan kita diteruskan. Guru Gotama, seperti dari banyak Samana dan Orang Mulia yang terdiri dari banyak kata-kata itu, demikian yang aku kira.
Tetapi bagaimana cara siswa dari Guru Gotaina melaksanakan perintah, memberi tanggapan terhadap nasehat, mengatasi segala ketidakpastian, kehilangan keragu-raguannya, memenangkan keberanian dan menjadi tidak tergantung dari orang-orang lain di dalam arnanat Guru itu?'.
'Aggivessana, disini segala macam bentuk apapun, apakah diwaktu yang lampau, yang akan datang atau sekarang, di dalam diri sendiri atau luar, kasar maupun lembut, inferer atau superier, jauh maupun dekat seorang siswaku melihat dengan pengertian semua bentuk seperti apa keadaan sebenarnya sebagai berikut: "Ini adalah bukan milikku, ini bukan diriku, ini adalah bukan aku sendiri". Setiapjenis perasaan apapun setiap jenis pencerapan apapun setiap jenis bentukan apapun setiap jenis kesadaran apapun ... apakah ia berasal dari waktu lampau, yang akan datang atau sekarang di dalam diri sendiri atau di luar, kasar atau lembut, inferior atau superior, jauh atau dekat seorang siswa dariku melihat dengan pengertian benar semua kesadaran sebagaimana keadaan sebenamya sebagai berkut: "Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku". Ini adalah bagaimana seorang siswa dariku melaksanakan amanat, memberi tanggapan terhadap nasehat, mengatasi segala ketidak pastian, kehilangan keragu-raguannya, memenangkan keberanian dan menjadi bebas atau tidak bergantung kepada 6rang-orang lain di dalain wnanat Sang Guru'.
29. 'Samana Gotama, bagaimana seorang bhikkhu bisa menjadi Arahat, dengan noda-noda telah terkikis habis, yang telah menjalani hidup, melakukan apa yang harus dilakukan, melepas beban, mencapai tujuan tertinggi, menghancurkan penggoda-penggoda dari makhluk, dan yang melalui pengertian akhir yang benar yang dibebaskan?'. Aggivessana, disini setiap jenis bentuk apapun, apakah dari waktu yang lampau, yang akan datang atau sekarang, di dalam diri sendiri atau di luar, kasar maupun halus, inferier maupun superier, jauh maupun dekat, seorang bhikkhu melihat dengan pengertian benar segala macam bentuk sebagaimana mereka sebenarnya sebagai berikut: "Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku", dan dengan melalui tidak melekat pada mereka maka ia menjadi terbebas.
Setiap jenis perasaan apapun
Setiap jenis kesadaran apapun
Setiap jenis persepsi pencerapan apapun Setiap jenis bentuk apapun
Setiapjenis kesadaran apapun, baik di waktu yang lampau, akan datanc, maupun sekarang, di dalam diri sendiri atau di luar, kasar atau lembut", inferier atau superier, jauh atau dekat, seorang. bhikkhu melihat mereka dengan pengertian benar semua kesadaran sebagaimana mereka sebenamya sebagai berikut: "Ini adalah bukan milikku, ini adalah bukan aku, ini adalah bukan pribadiku", dan dengan melalui jalan tidak melekat kepada mereka maka ia telah terbebas. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu menjadi Arahat, dengan noda-noda terkikis habis, yang telah menjalani hidup, melakukan apa yang harus dilakukan, menyingkirkan beban, mencapai tujuan tertinggi, menghancurkan penggoda-penggoda makhluk, dan melalui pengetahuan akhir yang benar telah terbebaskan.
30. 'Apabila pikiran dari sang bhikkhu telah terbebaskan sedemikian itu, ia memiliki tiga buah keadaan yang tidak dapat dilampaui atau dilewati; pandangan atau penglihatan yang tidak dapat dilampaui atau dilewati, tidak dapat dilewati dalam melaksanakan atau mempraktekkan sang jalan dan tidak dapat dilewati dalam pembebasan atau pelepasan. Apabila seorang bhikkhu telah dibebaskan sedemikian, ia hanya menghormat, memandang tinggi, memuja-muja, memuliakan hanya Sang Tathagata saja. Sang Bhagava telah mencapai Penerangan Sempuma itu. Sang Bhagava adalah tenang dan Beliau mengajar Dhamma dengan ketenangan. Sang Bhagava telah menyeberang dan Beliau mengaj'ar Dhamma dengan menyeberang itu. Sang Bhagava telah mencapai Nibbhana dan Beliau mengajar Dh-amma dengan telah mencapainya Nibbhana itu'.
31. Ketika kata-kata ini telah diucapkan, Saccaka Niganthaputta menjawab: "Samana Gotama, kami adalah berani dan maju dalam memahami Sainana Gotama untuk diserang dengan perdebatan. Seseorang harus menjadi demikian sehingga ia dapat dengan kebebasan dari hukumanmenyerang gajah gila, namun begitu ia tidak dapat menyerang Samana Gotama dengan kebebasan dari hukuman itu. Seseorang mungkin dapat dengan kebebasan dari hukuman suatu nyala kobaran api yang besar, namun begitu ia tidak dapat menyerang Samana Gotama dengan kebebasan dari hukuman itu. Seseorang bisa menjadi demikian sehingga ia dapat dengan kebebasan dari hukuman menyerang ular berbisa, namun begitu ia tidak dapat menyerang Samana Gotama dengan kebebasan hukuman itu. Kami sangat berani dan maju dalam memahami Sainana Gotama untuk menyerangnya dengan perdebatan itu.
32. 'Biarlah Sang Tath,agata bersama-sama dengan bhikkhu Sangha, menerima makanan besok dariku. 'Sang Bhagava menerima undangan itu dengan berdiam diri'.
33. Kemudian setelah ia mengetahui bahwa Sang Bhagava menerima undangannya itu, ia menyampaikan pesan kepada kaum Licchavi: 'dengarlah daku, kaum Licchavi. Samana Gotama bersama dengan bhikkhu sangha telah saya undang untuk menghadiri makan besok pagi. Kamu boleh membawa kepadaku apa saja yang kainu pikir pantas bagi Beliau'.
34. Kemudian ketika nialam telah berakhir kaum Licchavi membawa lima ratus hidangan upacara terdiri dari nasi, susu sebagai hadiah makanan. Saccaka Niganthaputta mempunyai makanan-makanan enak berbagai macam yang dipersiapkan dirumahnya sendiri, dan ia te,lah mengumumkan waktunya bagi Sang Bhagava:
'Waktunya telah tiba Samana Gotaina, hidangan makan telah siap'.
35. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagava mengenakan jubah, dan dengan membawa mangkok sertajubah luar, beliau pergi bersama-sama dengan Bhikkhu Sangha ke rumah Saccaka Niganthaputta dan duduk di atas tempat duduk yang telah dipersiapkan. Kemudian, dengan tangannya sendiri, Saccaka anak lelaki dari Nigantha melayani serta memuasi Sangha dari para Bhikkhu yang dikepalai oleh Sang Bhagava, dengan berbagai jenis makanan. Kemudian ketika Sang Bhagava telah selesai makan dan tidak lain memegangi mangkok-Nya, Saccaka Niganthaputta duduk ditempat yang bawah dan duduklah pada satu. Ketika ia telah berbuat hal itu, ia berkata kepada Sang Buddha:
"Guru Gotama, apapunjasa dan (diharapkan diwaktu yang akan datang) kebesaran dikarenakanjasa dalain (ini) melakukan pemberian sedekah, semoga bisa menjadi kebahagiaan bagi sipemberi". 'Aggivessana, jasa dan kebesaran yang diharapkan karenajasa semacam itu yang muncul disebabkan karena memberikan dana cocok bagi pemberian-pemberian dalam cara yang kamu lakukan, (kamu tanpa) tiada adanya nafsu, tanpa kebencian, dan tanpa adanya khayalan, akan menjadi pahala bagi sipemberi; tetapi pemberian semacam yang datangnya dari (memberikan kepada) seorang yang cocok bagi pemberian-pemberian dalam cara seperti Aku, (aku yang) tanpa nafsu, tanpa kebencian dan tanpa khayal, akan menjadi milikmu (yang telah memberikan pemberian kepadaku)'.