Selamat Datang di Tipitaka Pali

Google
 

Saturday, November 05, 2011

Sejarah asal mula Siripada

Lebih dari 2500 tahun yang lalu, saat Sang Buddha masih hidup, ada dewa naga yang bertemu Sang Buddha dan memohon kepada Sang Buddha, "Sang Buddha, bilamana Sang Buddha telah parinibbana, kepada siapa saya menghormat dan bagaimana bentuk penghormatan kami kepada Sang Buddha?". Maka di tepi Sungai Namatha, Sang Buddha meninggalkan jejak kaki beliau sebagai bentuk penghormatan kepada beliau setelah Sang Buddha parinibbana.

Ada tiga sarana untuk menghormati Sang Buddha dalam bentuk materi yaitu lilin, dupa, dan bunga. Dan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha, maka ketiga sarana tersebut kita hanyutkan ke sungai. Upacara tersebut dalam bahasa pali dinamakan Siripada. Upacara Siripada merupakan tradisi yang hingga sekarang ini masih dilestarikan seperti sediakala.
Di Thailand, Laos dan Kamboja, tradisi Siripada ini disebut juga dengan Loy Krathong. Selain bermaksud menghormat Sang Buddha, Siripada juga dimaksudkan untuk menyatakan rasa terima kasih dan permohonan maaf kepada ibu pertiwi atas kehidupan kita saat ini.


Lalu mengapa kita memilih bulan ini untuk mengadakan acara Siripada? Imlek adalah tradisi menyambut tahun baru.Oleh karena itu, marilah pada awal tahun ini kita memulainya dengan penghormatan kepada Sang Buddha dengan Upacara Siripada. Seperti yang tercantum dalam Mangala Sutta, "Menghormat yang patut dihormat itulah Berkah Utama". Semoga persembahan kita di awal tahun ini membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. 
Adapun keseluruhan hasil dari kegiatan ini akan digunakan sebaik-baiknya untuk kelangsungan program pendidikan Anak Asuh yang beragama Buddha yang berada dalam naungan Vihara Vipassana Graha di seluruh Indonesia.